TTU: Kisah Ferdinandus Taena Sebagai Peternak | www.moral-politik.com

TTU: Kisah Ferdinandus Taena Sebagai Peternak

1foto: ilustrasi

 

Moral-politik.com. Hari-harinya dilewati dengan kerja keras tanpa sedikit menyerah. Perasaan malu pun dibuang jauh-jauh—tak pernah melekat dalam dirinya, sekali pun berseragam pegawai negeri sipil (PNS).  Itulah Ferdinandus Taena, seorang Kepala Seksi pada Kantor Perpustakaaan Daerah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Selain sibuk mengurus tugasnya sebagai PNS, dia juga sibuk menggarap lahan sawahnya di Oekolo, Kecamatan Insana Utara. Ia juga dikenal sebagai peternak babi yang  handal, ulet dan sukses.

Ferdy (sapaan akrabnya), sebagai peternak babi,  setiap hari harus mengambil sisa-sisa makanan pada tempat sampah yang dibuang dari rumah makan  Padang 2  dan tempat sampah di depan Swalayan Jabal Mart untuk diolah lebih lanjut menjadi makanan siap saji bagi ternaknya. Kadang, untuk mendapatkan sisa makanan di warung, Ayah 4 anak ini harus berkejaran dengan sejumlah anjing yang juga membutuhkan makanan tersebut.

“Ya, untuk mendapatkan makanan babi, saya tidak pernah malu. Setiap pagi atau sore saya selalu datang di bak sampah rumah makan Padang 2 untuk mengurai dan mengambil  sisa makanan yang bisa digunakan untuk makanan babi. Selain di Padang 2, saya juga sering rampas sisa makanan dengan anjing  tempat sampah yang ada di depan swalayan Jabal Mart,” ungkap mantan Lurah Oesena ini.

Ferdy yang ditemui Selasa (21/5) sore di kediamannya Jl. Seroja, Kelurahan Kefa Utara, Kota Kefamenanu  menjelaskan, usaha ternak babi ditekuni sejak 1996 hingga kini cukup berkembang dengan baik. Setiap tahun sedikit 80 ekor anak babi  terjual dengan harga Rp 750.000/ekor (harga sekarang). Jadi,  sekitar Rp 40 juta/tahun dikantongi dari hasil penjualan anak babi.

Awalnya dimulai dengan 2 ekor babi peranakan (banpres) yang dibeli dari tetangga tahun 1996 silam. Kemudian tahun 2009, Ferdy berniat untuk mengembangkan usaha tersebut lalu mengganti jenis babi baik induk dan pejantannya. Dimana 2 ekor induknya dibeli dari toko Himalaya Kupang yakni jenis durok sedangkan jantan dari toko Karitas dari Batam.

“Sekarang ini ada 6 ekor induk; 4 sudah berproduksi sedangkan 2 belum berproduksi. Rata-rata 10 ekor setiap kali berproduksi dan setiap tahun 2 kali berproduksi,” ungkapnya dan diaminni istrinya.

Disaksikan media ini, dari kandang yang berukuran 8m x 8m yang dibagi menjadi 2 kamar, tak jauh dari rumanya sekitar 10 meter, terdapat 4 induk babi besar dan 1 pejantan, yang masing-masing pajang badanya berukuran rata-rata 3 meter, 2 ekor induk sedang dengan panjang badan 2 meter lebih. Sementara terdapat 4 ekor babi sedang, yang umurnya sekitar 4 bulan dengan panjangnya mendekati 1 meter.

Ferdy lebih jauh mengisahkan, saat ini usaha tersebut cukup membantu keluarganya, terutama dengan hasil penjualan ia bisa menanggung biaya kuliah 4 orang anaknya, yang mana 3 tiga orang sedang kuliah sedangkan 1 orang telah menyelesaikan studinya pada Teknik Sipil Widya Mandira Kupang, beberapa waktu lalu.

“Satu orang sudah jadi sarjana teknik sipil, sedangkan 1 masih belajar sebagai arsitek di Unwira, 1 lagi di Akper Atambua dan 1 Filsafat Agama di Kupang, semua biaya kuliah ditanggung dari hasil penjualan ternak babi,” ungkapnya.

Lebih jauh mantan Kasi Trantib Kecamatan Bikomi Tengah ini mengatakan, sejak menggeluti usaha ternak babi, kebutuhan ekonomi dalam keluarganya cukup terbantu, setidaknya tidak lagi ada bon di kios-kios. “Kalau dulu belum usaha babi, kami sering utang di kios, maklum sebagai pegawai kecil, tetapi ketika mulai mengembangkan usaha ini, tidak lagi ada utang piutang, dan semua kebutuhan biaya pendidikan anak cukup terbantu,” ungkapnya.

Sementara berkaitan dengan pemasaran, Ferdy mengatakan, pihaknya tidak mengalami hambatan. Pasalnya, sebagian masyarakat TTU tahu akan usaha yang digelutinya, sehingga setiap saat selalu ada konsumen terutama yang butuh bibit babi (anak babi) selalu mendatangi rumahnya, baik dari kalangan masyarakat umum maupun lembaga pemerintah, dan lembaga LSM yang butuh anak babi dalam jumlah yang banyak.

“Ya, sampai saat ini permintaan masih jauh lebih tinggi dari ketersediaan yang ada,” ungkapnya, lalu melanjutkan, “sebuah usaha yang digeluti dengan serius pasti membuahkan hasil walaupun ada tantangan, termasuk omelan-omelan dari tetangga.” (damian kenjam)

Comments

comments

You must be logged in to post a comment Login

Widgetized Section

Go to Admin » appearance » Widgets » and move a widget into Advertise Widget Zone