29

Moral-politik.com. Sebanyak 42.864 tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal di Arab Saudi telah mendaftar di konsulat RI di Jeddah dan kedutaan RI di Riyadh untuk mendapatkan amnesti yang ditawarkan pemerintah negara itu.

Direktur Informasi dan Media Kementerian Luar Negeri, PLE Priatna, kepada KOMPAS.COM, Senin (10/6), mengatakan bahwa pemohon terbanyak terdapat di Jeddah, di mana ribuan TKI mengamuk pada Minggu kemarin dengan melemparkan batu dan membakar dinding konsulat. “Pemohon di Jeddah tercatat sebanyak 42.329 orang sementara di Riyadh hanya sebanyak 545 orang,” kata Priatna. Angka itu berdasarkan kondisi per Jumat lalu.

Seorang TKI perempuan dilaporkan tewas karena dehidrasi dalam kerusuhan di Jeddah itu. Para TKI kecewa dengan pelayanan pihak konsulat yang lamban sementara mereka harus menunggu sedemikian lama dalam kondisi kepanasan di luar gedung konsulat.

Pemerintah Arab Saudi sejak akhir April menerbitkan amenesti yang memungkinkan pekerja asing ilegal di negara itu mengurus status imigrasinya menjadi legal atau meninggalkan negara itu tanpa harus menjalani hukuman. Kebijakan itu akan berakhir 3 Juli mendatang. Setelah kebijakan amnesti berakhir, Saudi akan menerapkan hukuman tegas. Para pelanggar aturan imigrasi akan menghadapi acaman hukuman penjara hingga dua tahun dan denda sebesar 100.000 ribu riyal (atau setera Rp 265 juta). Hal itu tentu membuat para pekerja ilegal ketar-ketir.

Pekerja asing ilegal di negara itu, yang menurut perkiraan para ekonom mencapai dua juta orang, lalu berbondong-bondong mendatangi kantor perwakilan negara masing-masing untuk memanfaatkan kesempatan tersebut.

Ribuan TKI ilegal pun memanfaatkan kesempatan itu. Kantor konsulat RI di Jeddah diserbu TKI. Menurut Priatna, dalam situasi normal, ada lima staf di konsulat Jeddah yang menangani urusan semacam itu dengan jam kerja dari pukul 09.00 – 12.00. Karena pemintaan membludak, jam kerja para staf di konsultat Jeddah pun diperpanjang hingga subuh dan ada tambahan tenaga yang dikirim dari Riyadh. “Sekarang mungkin jumlahnya 15 orang,” kata Priatna. Pada hari Jumat lalu yang merupakan hari libur,pelayanan di konsulat itu tetap dibuka. Namun dengan jumlah pemohon yang mencapai belasan ribu orang per hari tentu saja tidak dapat dilayani oleh belasan staf itu.

Baca Juga :  Ingin Mendata, Warga Kolhua Usir Tim 9

Menurut laporan sebuah harian Arab Saudi, Minggu, sebanyak 180.000 pekerja asing ilegal telah meninggalkan Saudi sejak 1 April berdasarkan amnesti yang memungkinkan mereka untuk mengurus berkas imigrasinya atau pergi tanpa harus menjalani hukuman. Dengan demikian, sudah ada 380.000 pekerja asing yang telah meninggalkan Arab Saudi sejak awal tahun ini.

Berdasarkan data statistik resmi, ada delapan juta pekerja asing yang bekerja di kerajaan itu. Para ekonom mengatakan, ada sekitar dua juta pekerja asing yang tidak terdaftar.

Arab Saudi bertujuan untuk menciptakan kesempatan kerja bagi para penganggurnya sendiri dengan memotong jumlah para pekerja asing. Walau banyak dari pekerja migran itu melakukan pekerjaan bergaji rendah yang tidak akan diambil oleh orang Saudi sendiri. Negara eksportir minyak terbesar di dunia itu merupakan tambang emas bagi jutaan orang dari negara-negara Asia dan Arab miskin yang dilanda tingkat pengangguran yang tinggi.

Sumber: kompas.com

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here