Kondisi Anak- Anak Penderita Gizi Buruk Yang Sedang Dirawat di Klinik TFC Haliwen (1)

 

Moral-politik.com. Mundur salah. Tak mundur pun lebih salah lagi. Akhirnya, jalan satu-satunya yakni mengaminkan saja. Dimana, angka penderita gizi buruk di Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dewasa ini telah bertambah penderitanya. Penyebab utama terjadinya penyakit kurang gizi, disebabkan karena kurangnya asupan gizi yang diterima anak-anak di bawah usia 5 tahun atau balita.

Awalnya penderita gizi buruk harus menderita, dengan tusukan jarum dan selang infus. Jika tidak dilakukan seperti itu, maka akan berjatuhan korban jiwa akibat kekurangan gizi. Untuk itulah, pihak klinik Therapiotick Fiding Center (TFC) Haliwen, sedang berusaha keras untuk memperbaiki kekurangan gizi para balita.

Kondisi Anak- Anak Penderita Gizi Buruk Yang Sedang Dirawat di Klinik TFC Haliwen

“Penderita gizi buruk dari Januari sampai Juni 2013 ini, telah bertambah menjadi 50-an anak yang masih dirawat di klinik TFC. Kami menerima penderita gizi buruk ini dari Puskesmas. Ada yang karena kelainan klinis, sehingga kelihatan sangat kurus sekali. Misalkan di dalam perutnya terdapat cacing. Begitu sampai di klinik TFC dan dirawat dengan baik, serta diberikan asupan gizi yang baik, maka perlahan cacing-cacing yang terdapat di dalam perutnya berkurang atau mati,” ungkap Kepala Klinik TFC Haliwen, Antonia G. Lau ketika ditemui Moral-politik.com di ruang kerjanya di Klinik TFC Haliwen, Sabtu (29/6), jam 11.15 Wita.

Antonia Lau melanjutkan, dari penderita gizi buruk itu, terdapat kebanyakan anak-anak  berusia rata-rata di atas 6 bulan sampai 5 tahun.

“Waktu dibawa ke Klinik TFC ini, kondisinya sangat jelek sekali. Tapi setelah dirawat di TFC, perlahan ada perubahan. Ada yang dirawat sampai 1 tahun. Ada yang tidak sampai 1 tahun. Tergantung kondisi kesehatan dari anak yang dirawat. Mereka ini dibawa dari Puskesmas Halilulik, Uabau, Webora, Nualain, Atambua Selatan, Umanen, Haliwen dan Ainiba. Setiap puskesmas pasti mengirim 1 sampai 3 anak penderita gizi buruk,” urainya.

Baca Juga :  Saking Cinta, “Kepunyaan” Suami Dipotong & Dibuang ke Toilet

Antonia G. Lau-- Kepala Klinik TFC Haliwen, Kabupaten Belu (1)

foto: Antonia G. Klau

Antonia G. Lau mengatakan, alasan anak-anak mesti dibawa untuk dirawat di Klinik TFC Haliwen karena ketika imunisasi di Posyandu, kader Posyandu melihat keanehan pada berat badan dan tinggi badan anak berada di garis merah.

Selain itu, kata Antonia G. Lau, raut wajah anak-anak itu kusam, kurus tak terurus, dan bau badan yang menusuk. Belum lagi ditambah penyakit susulan seperti Ispa dan Diare. Di situlah anak-anak harus mendapatkan perawatan intensif. (Felix)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here