6

Moral-politik.com. Si cantik Natalia masih terus memuntahkan semua data yang tersimpan apik di otaknya, dan itu membuatku berdecak kagum, kendati kusumbat lekat-lekat dalam hati, biar tiada seorang pun yang tahu.

Dan, sebagai juru tulis di media, kecongkakanku membumi. Pikiranku menerawang ke sejumlah bacaan yang pernah kulahap, hanya sekedar untuk membandingkan apa yang si cantik Natalia muntahkan.

Kubiarkan saja alkisahnya mengular. Sembari memandang kendaraan yang hilir-mudik tak putus-putusnya, sesekali kucuri pandang pada Natalia dan teman-temanku yang begitu berdecak kagum, entah pada hal yang mana….Tapi satu yang pasti, telingaku fokus pada rangkaian kata-kata yang keluar dari mulutnya yang berbibir tipis itu…tanpa diolesi gincu, tapi memerah.

Dari beberapa bahan bacaan yang diperoleh, berdirinya Jembatan Suramadu merupakan tonggak  sejarah baru dalam pembangunan konstruksi prasarana perhubungan di Indonesia. Jembatan antarpulau sepanjang 5.438 meter yang diresmikan, Rabu 10 Juni 2009 itu bukan hanya yang terpanjang di Indonesia, tetapi juga di Asia Tenggara.

Sebagai jembatan yang menghubungkan dua pulau, sesungguhnya Suramadu (Surabaya-Madura) merupakan yang kedua setelah rangkaian jembatan Barelang (Batam Rempang Galang), yang selesai  dibangun tahun 1997. Enam jembatan dengan berbagai tipe yang menghubungkan tujuh pulau kecil di Provinsi Kepulauan Riau ini, merupakan landmark keberhasilan dan kemandirian anak bangsa dalam membangun jembatan antar pulau.

Sebelum Suramadu dibangun, sempat timbul keragu-raguan, apakah mungkin membangun jembatan di daerah patahan dan gempa? Bagaimana dengan tiupan angin di laut Selat Madura yang terkenal kencang, apakah tidak akan memengaruhi konstruksi jembatan?

Penelitian pun akhirnya dilakukan secara mendalam selama tahun 2003-2004. Penelitian yang lebih bersifat technical study dilakukan terhadap 12 item yang kebanyakan berupa parameter tanah.

Baca Juga :  Masyarakat TTU Kesal, Pemkab Tak Gandeng Dukung Sail Komodo

Dari sisi seismic hazard analysis, misalnya, diperoleh kesimpulan, di sekitar lokasi jembatan tidak ditemukan suatu patahan aktif. Berdasarkan katalog gempa juga tidak ditemukan gempa dengan magnitude di atas 4 skala Richter sehingga kondisi di sekitar lokasi jembatan cukup  stabil.

Kajian mendalam juga dilakukan terhadap kontur dasar laut, arus air laut, serta pengaruh pasang terhadap jembatan. Ternyata semuanya sangat memungkinkan untuk dibangun jembatan yang

menghubungkan dua pulau. Adapun untuk angin, berdasarkan kajian ternyata angin yang melintang kecepatannya sekitar 3,6 kilometer per jam sampai maksimal 65 kilometer per jam.

Jembatan Suramadu yang pemancangan tiang pertamanya dilakukan pada 20 Agustus 2003 oleh Presiden Megawati Soekarnoputri saat ini bisa tahan terhadap guncangan gempa sampai 7 skala Richter. Jembatan ini pun dirancang dengan sistem antikorosi pada fondasi tiang baja. Karena menghubungkan dua pulau, teknologi pembangunan Jembatan Suramadu didesain agar memungkinkan kapal-kapal dapat melintas di bawah jembatan. Itulah sebabnya, di bagian bentang tengah Suramadu disediakan ruang selebar 400 meter secara horizontal dengan tinggi sekitar 35  meter.

Untuk menciptakan ruang gerak yang lebih leluasa bagi kapal- kapal, di bagian bentang tengah Suramadu dibangun dua tower (pylon) setinggi masing-masing 140 meter dari atas air. Kedua  tower ini ditopang sebanyak 144 buah kabel penopang (stayed cable) serta ditanam dengan fondasi sedalam 100 meter hingga 105 meter.

Secara keseluruhan, pembangunan Suramadu menghabiskan sekitar 650.000 ton beton dan lebih kurang 50.000 ton besi baja. Tak heran, dinas pekerjaan umum mengklaim Suramadu sebagai megaproyek yang menghabiskan dana total mencapai Rp 4,5 triliun. Jembatan ini dirancang kuat bertahan hingga 100 tahun atau hampir menyamai standar Inggris yang mencapai 120 tahun.

Baca Juga :  Rote: Kalanya Bikin Perda Miras

Karena berada di tengah lautan, Suramadu berpotensi terkendala faktor angin besar yang  potensial terjadi di tengah lautan. Untuk memastikan keamanan kendaraan yang melintas di atas Suramadu, Departemen Pekerjaan Umum akan membangun pusat monitoring kondisi cuaca, khususnya angin.

“Jika kecepatan angin sudah mencapai 11 meter per detik atau sekitar 40 kilometer per jam, jembatan harus ditutup untuk kendaraan roda dua demi keselamatan pengendara,” ujar Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto.

Jika kecepatan angin bertambah hingga 18 meter per detik atau sekitar 65 kilometer per jam, jalur untuk kendaraan roda empat akan ditutup. Langkah ini semata-mata untuk keselamatan dan  kenyamanan pengendara. Adapun konstruksi jembatan akan tetap aman karena Jembatan Suramadu  dirancang tetap kokoh meski ditempa angin berkecepatan lebih dari 200 kilometer per jam.

Bukan cuma kuat dari terpaan angin, Jembatan Suramadu juga didesain mampu menopang kendaraan sesuai standar as atau axle di daratan. Dengan demikian, Suramadu diperkirakan mampu menahan beban kendaraan sekitar 10 ton.

Malam di langit telah gelap-gulita. Kendati si Jembatan Suramadu tak kenal siang dan malam; lamp uterus terang benderang, tapi jam tanganku menunjukkan pukul 20.00 Wita. Kupandang si cantik pemandu kami. Entah bagaimana hingga bersamaan detiknya dia pun memandangku. Mata kami beradu. Dan—bukan saja aku—dia—bahkan teman-temanku lainnya tahu bahwa sudah waktunya kembali ke penginapan.

Selamat tinggal Jembatan Suramadu. Selamat tinggal si cantik pemandu kami. Kapan-kapan—andaikan masih ada hayat di kandung badan—aku ingin kembali ke sini—entah hanya sendirian, atau berdua, bertiga dan berseribu…yang pasti, hanya waktulah yang tahu. (AVI, dan berbagai sumber. Habis)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here