Capt. Denny Sapto Trihandoko 1

Moral-politik.com. Direktur Operasional PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) Capt. Denny Satrio Trihandoko mengatakan,  Bandar Udara (Bandara) El Tari Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki spesial kontur, khususnya di ujung landasan 07, yang kadang-kadang terjadi kekosongan udara.

Capt. Denny mengatakan itu kepada Moral-politik.com di Kupang, Kamis (13/6), terkait kondisi Bandara El Tari yang   sering membahayakan proses pendaratan pesawat.

Menurutnya, dilihat dari arah angin pada saat sebelum pesawat Merpati jenis MA-60 nomor penerbangan MZ 5617 dari Bandara Turelelo, Soa, Ngada mendarat di bandara itu dari 120 derajat atau sekitar 13 sampai 15 knot.

“Kalau untuk kami penerbang pesawat baling-baling atau propeler angin yang bertiup saat itu cukup kencang dan bukan biasa-biasa lagi. Kondisi seperti itu harus ditangani dengan cara yang khusus,” jelasnya.

Menurutnya, di Bandara El Tari karena panasnya landasan, sering mengakibatkan kekosongan udara. Pesawat terasa seperti disedot. Sesaat sebelum terjadinya kecelakaan pesawat Merpati MA-60 pada posisi ketinggian 75 feet atau 25 meter dan normal untuk memulai pendaratan.

“Kalau profil cara mendekati landasan apa yang dilakukan pilot sudah benar dan memang itu prosedurnya. Kalau terjadi kekosongan udara, pesawat itu jatuh,” paparnya.

Denny yang pernah bertugas melayani rute penerbangan di NTT selama 20 tahun mengatakan, hard  landing atau mendarat dengan cara kasar yang dilakukan pilot di Bandara El Tari Kupang, Senin

(10/6) sekitar pukul 09.52 WITA hanya sebuah istilah dalam penerbangan.

Sebetulnya, kata dia, ada efort khusus yang dilakukan pilot saat menerbangkan pesawat dalam kondisi seperti itu dan segera mengambil keputusan, termasuk melakukan hard landing yang tentunya juga sangat beresiko.*** (AVI)

Baca Juga :  Bantahan Dubes RI untuk Australia Soal Diduga Mendukung Oposisi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 + 3 =