99

Cerpenis Januario Gonzaga.

(untuk suster dorothea yang setia mengabdikan ketelatenan sebagai riwayat di hari tua).

 

 

Moral-politik.com. KAMPUNG ini ketika gerimis mulai menutup semua tempat yang bisa dipandang, senter empat batre kau keluarkan dengan sebuah mantel coklat yang sudah lusuh pada bagian luar dari lemari, yang daun pintunya terus saja bunyi oleh tiupan angin. Kau bergegas melalui jalan setapak menuju sebuah rumah tak jauh dari rumahmu. Alas di kakimu hanya sepatu karet yang terbuka bagian tumitnya dengan tulisan Jumbo yang pudar persis di tengah. Sesampai di sana, cepat-cepat kau  masukan beberapa potong kayu bakar yang sudah basah di tengah guyuran gerimis sejak sore tadi.

“Aduh. Anak-anak semuanya di mana e hujan begini lupa memasukkan kayu api?” kau berbisik sendiri sambil membetulkan kepala mantelmu. Sesudah kayu-kayu itu kau masukkan, dengan sebatang kayu kau mengelurkan gumpalan lumpur dari dasar sepatu karetmu, lalu bergegas menuju ke rumah panjang berdinding kayu.

Rumah di depanmu ini lebih tua usianya daripada pondok tempat menyimpan kayu bakar di belakangmu. Kurang lebih dibangun tigapuluhan tahun lalu. Kau berjalan begitu lambat sambil menyenteri sudut-sudut rumah yang mungkin ditembusi air. Matamu bertatap-tatap lagi ke atas mengikuti sinar senter, untuk melihat beberapa seng karatan yang sudah bergesar karena tiupan angin. Sambil melihat ke atas, kau membetulkan lagi kepala mantelmu sebab tirisan air mengenai hidungmu lewat pantulan pada lensa kaca mata minus yang kau pakai. Kau berhenti sejenak mengeluarkan selembar kain halus dari saku dan menggesekkan ujungnya searah jarum jam pada kedua lensa, sampai uap yang seperti kabut tipis itu menghilang. Lalu kau mengenakannya lagi dengan menaruh di kedua daun telingamu yang sudah tampak melentur keriput. Saat kau memasukkan kain halus tadi ke sakumu, kau sempat menengok arloji.

“Ya pasti mereka sudah tidur. Sekarang sudah jam delapan malam, apalagi hujan begini,” kau berbisik sendiri sambil terus mengecek dengan senter dinding-dinding rumah yang kemungkinan sudah semakin bolong oleh terpaan air hujan. Beberapa hari ini hujan tidak juga berhenti dan tetesan air mulai mengelupasi semua kulit luar kayu jati nomor satu, yang sudah sejak peninggalan pastor-pastor ordo SVD (Societas Verbi Divini) sepuluh tahun lalu, belum pernah direnovasi lagi.

Rumah panjang yang dinding-dindingnya kau tatap dengan sedih ini punya kisah. Dulu sekali pastor-pastor SVD yang di Indonesia disebut pater-pater Sabda Allah, berencana membangun sebuah pondokan besar untuk sekadar menjadikannya semacam balai pengobatan. Sebabnya, kedua pater yang bermisi di tempat ini terus-terusan berjalan kaki dari satu rumah ke rumah yang lain buat mengobati orang sakit. Dan karena semakin banyak yang sakit waktu itu, kedua pater bersepakat untuk mendirikan sebuah balai pengobatan darurat. Ke tempat inilah hampir semua penduduk ramai-ramai membawa pasien yang sakitnya bermacam-macam, juga yang tidak terdeteksi oleh dukun-dukun kampung. Kedua pater mulanya belajar juga menggunakan ramuan itu sambil mencari tahu sebab-musabab mujarabnya dedaunan dan akar-akar. Nah setelah itu mereka membawa pulang daun, akar dan kulit kayu ke negeri mereka, Belanda, untuk diteliti di laboratorium. Hasil penelitian mereka kemudian dikembalikan lagi ke sini dengan banyak tambahan dan pengurangan. Ramuan-ramuan yang berguna masih dipakai, sedangkan yang sudah hampir punah seperti ramuan untuk penyakit radang otak, diambil sampelnya dan dibuat tiruan dengan zat-zat kimia. Maka itu sampai sekarang dipakai obat modern yang kalau tidak malu harus dibilang mengopi dari ramuan rakyat dan dukun kampungan. Sedangkan untuk sakit seperti mata katarak dan sakit-sakit yang membutuhkan operasi, tidak bisa dilakukan secara tradisional. Beberapa pertimbangan yang menurut kedua pater perlu diwaspadai, ialah alat yang dipakai tidak menjamin unsur higenis dan itu bisa berakibat fatal. Waktu itu sempat ada wabah penyakit sampar. Kemungkinan sakit ini datangnya dari makanan modern yang perlahan-lahan mulai masuk lewat pedagang China dan Arab di sepanjang perairan Goa. Untuk itu cadangan obat dari Belanda rajin didatangkan.

Baca Juga :  Puisi: Titian Rindu

Setelah kedua Pater tadi diganti oleh dua orang Pater lagi yang tidak terlalu mementingkan pelayanan bagi orang sakit, pasien semakin berkurang. Pater baru ini lebih getol mengurus pendidikan. Sebab menurut mereka, semua penyakit, kemelaratan dan kematian itu disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan rendahnya tingkat pendidikan. Maka mereka mengganti rumah sakit itu menjadi sebuah asrama pelajar pribumi, mungkin itu sekolah berasrama pertama di Indonesia. Dan jadilah sekarang rumah panjang yang dindingnya kau tatap dengan sedih, yang sudah sepuluh tahun tak direnovasi itu sebuah sekolah sekaligus asrama bagi anak-anak pribumi di sini.

Kau mengambil kunci dan mencocokkan ke dalam lubangnya. Kau mendapatkan mereka sudah tertidur, dengan rapat kain-kain lusuh membungkus badan mereka.

“Anton bangun. Bangun. Hujan tambah deras,” kau berteriak membangunkan Anton yang adalah ketua kelas untuk sepuluh anak asrama pribumi. Jumlah hanya itu, sembilan ditambah Anton jadi sepuluh. Mereka ini angkatan pertama sejak kedua Pater itu berangkat tanpa berita; apapun sepuluh tahun lalu. Keduanya entah kenapa pergi hingga hari ini belum juga pulang. Kata beberapa orang, mereka disuruh kembali oleh petinggi Belanda yang tidak senang pada luasnya pengaruh penginjilan mereka, yang berseberangan dengan misi sending di kawasan ini. Maka rumah panjang ini dibiarkan begitu saja hingga lama-kelamaan terkesan angker.

“Anton cepat bangunkan mereka dan bereskan buku-buku kalian!” Anton bergegas bangun dan menyalakan pelita, lalu membangunkan teman-temannya, laki-laki dan perempuan. Yang perempuan jumlahnya empat orang, mereka di kamar sebelah kanan dari ruang tengah. Rumah panjang ini terdiri dari empat ruang. Dua ruang dipakai sebagai kamar tidur laki-laki sebelah kiri, perempuan sebelah kanan. Lalu ruang tengah dipakai sebagai kamar tamu dan ruang depan yang luas sebagai ruang kelas lengkap dengan sebuah papan tulis hitam dan kapur beberapa batang juga penghapus dari serabut kelapa yang sudah ditumbuk halus.

Baca Juga :  Puisi: "April Mop Panggung Bermegah"

“Cepat naikkan ke atas!” kau menyuruh mereka menaikkan buku-buku ke atas loteng. Di atas sana ada sebuah tempat khusus yang dulu dipakai kedua Pater pertama menyimpan alat-alat medis, tetapi kemudian dipakai untuk menyimpan buku-buku pelajaran.

Kalian cepat-cepat menaikkan buku-buku ke atas. Beberapa yang di dalam dos sudah basah, sebab kali ini air sudah ikut masuk ke dalam kamar.

“Setelah dimasukkan, kalian semua cepat ke pondokkan ya?” kau menyuruh mereka, sebab air di sini sebentar lagi akan meluap. Letak sekolah be asrama ini agak di tempat rendah, sehingga air gampang saja masuk.

Kau lalu bergegas membawa mereka ke pondokkan, ke rumahmu. Di sana tidak ada siapa-siapa, sebab Suster Stefani belum tentu pulang sebelum hari minggu berikutnya. Kalian berdua sudah punya tugas. Suster Stefani untuk memberi katekese di daerah-daerah pedalaman yang sulit dijangkau. Sebulan dua bulan baru akan kembali. Sedangkan kau bertugas mendampingi anak-anak asrama pribumi yang jumlahnya tak seberapa, sambil membantu memberikan katekese dan pendampingan rohani bagi umat sekitar.

“Suster, kenapa tidak dipidahkan saja sekolah kita?” Pertanyaan Anton ini membuatmu tersentak. Kau lalu melap butiran di wajahmu, entahkan keringat, entahkan butiran air yang meloncat dari pantulan lensa kaca mata minus.

“Iya. Kita sudah bicara dengan orang tua di sini,” kau menjawab tanpa menatap Anton dan teman-temannya yang berdiri sebelah-menyebelah.

“Lalu sampai kapan begini terus?” yang lain menambahkan.

“Mereka bilang akan dibangun baru setelah musim hujan ini selesai,” katamu, lalu kau kembali diam, sambil membuang kaki menuju dapur dan menghidupkan api di tungku.

“Yang hendak tidur silahkan pakai saja kamar suster. Yang laki-laki di kamar Suster Stefani, yang perempuan di kamar saya,” kau menunjuk pada kamar tidur kiri dan kanan dan menyuruh mereka masuk.

Baca Juga :  Puisi: Waktu...

Malam itu pikiranmu bergemuruh antara bagaimana membangun sebuah sekolah asrama yang baik untuk anak-anak pribumi. Memang kau bisa meminta bantuan orang-orang di sini. Tetapi sama. Sudah berulang kali kau memohon untuk memperbaiki, hanya atap saja pun belum terlaksana. Bahkan sering kau dicemooh oleh karena suka membangun sesuatu hanya untuk hal tidak berguna. Lebih rumit lagi bilamana pembangunan ini terendus baunya oleh penguasa Belanda yang anti misi. Kau lalu menduga kalau-kalau orang-orang di sini juga melihat pendidikan hanya milik orang Barat atau apalah. Pokoknya kepedulian mereka katakanlah minus-malum. Kau menuju sebuah lemari yang belum juga berhenti berbunyi lalu megambil dan mengecek dalam daftar nama-nama anak asramamu satupersatu data mereka.

“Ya Tuhan!” kau tersentak seperti menyalahi kekurangtelitianmu selama ini. Hampir semua anak asrama pribumi itu anak yatim-piatu. Mereka dititipkan saja setelah orang tua mereka entahkah dibunuh, entahkah menghilang, entahkah diangkut jadi tawanan ke Digul yang di Papua itu, atau ke Belanda. Pokoknya mereka ini bukan anak orang-orang kampung sini, mungkin hanya kenalan jauh atau kerabat lama.

“Ya betul juga. Selama ini tidak pernah ada satu orang pun yang mengunjungi mereka di asrama,” pikiranmu berputar.

Esoknya pada pukul lima pagi, kau bangun. Hujan masih deras turun dengan awan hitam tebal yang membuat suasana seperti masih sangat gelap. Kau mengambil senter empat batre dan mantel coklatmu, lalu bergegas menuju ke rumah panjang lagi. Sebelum tiba di sana kau sudah dikabari oleh seorang tua yang dengan senyum-senyam samar-samar keluar dari jalan setapak, mengabarkan bahwa rumah panjang sudah rubuh.

“Lebih baik rubuh, Suster! Rumah itu banyak setannya. Dulu banyak orang mati di sana. Biar anak-anak itu pulang saja ke rumah mereka!”

Kau bergegas sambil mengebaskan mantelmu yang menghalang-halangi penglihatanmu menuju rumah panjang. Dari jarak yang dekat kakimu diseret, sebuah buku berjudul Belajar Membaca, Berhitung, dan Menulis. Di sana-sini buku-buku pelajaran sudah tercecer di atas permukaan air bersama dos kapur, dan penghapus masih melayang-layang di atas air. *

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

+ 59 = 60