15

 

Moral-politik.com. Pelestarian alam sekarang ini menjadi sebuah isu global, yang dari waktu ke waktu tak pernah habis dibicarakan. Hembusan isu pelestarian alam menjadi amat kencang terutama munculnya ketika isu pemanasan global (Global Warming) dan perubahan iklim (cilimate change) yang dikampanyekan badan-badan dunia.

Namun jauh sebelum adanya dua isu tersebut,  orang Dawan (Atoin Meto)  memiliki sebuah budaya proteksi terhadap lingkungan, dimana ada sona-sona tertentu yang ditabukan untuk tidak boleh diganggu atau dirusak, karena terkait nyawa dan keselamatan para pemiliknya, baik secara pribadi maupun kumunal.

Pengamat lingkungan di NTT, yang juga Atoin Meto, Hery Naif (Manager Eksektutif  HALHI NTT), Sabtu (1/6) di Kefamenanu membenarkan adanya budaya proteksi alam dari Orang Dawan tersebut.

Menurut dia, budaya Orang Dawan (Atoin Meto) melihat alam sebagai kosmosenstris, yang mana alam, manusia dan ciptaan lainnya memiliki hubungan korelatif yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Karena itu, atoin meto menganalogikan alam sebagai seorang manusia. Tanah (nijan) dipandang sebagai daging. Air (oel) dipandang sebagai darah yang terus mengalir. Rambut dianalogikan sebagai hutan yang akan terus memberikan air. Sedangkan batu (fatu) dilihat sebagai tulang.

Dengan analogi ini, orang dawan (Atoin Meto) secara historis cultural melihat alam sebagai sesuatu yang sakral, perlu dilestarikan. Tidak heran bila kemudian pemberian nama marga (clan) selalu diidentikan dengan fatu kanaf dan oe kanaf, yang mana setiap suku dinamakan sesuai dengan nama gunung dan air. Itu berarti bahwa secara turun temurun masyarakat adat dipercayakan untuk menjaga alam sesuai dengan teritorial adat yang dipercayakan oleh Tobe.

Bahwa masyarakat Atoin Meto hidup dalam social communal dimana solidaritas sosial dibangun sebagai spiritualitas hidup, warga akan saling membantu bila ada yang mengalami kekurangan. Bayangkan saja mereka akan saling membantu bila ada pekerjaan berat, misalnya dengan budaya ta oen. Dengan satu ekor binatang disembeli, orang sekampung berbondong datang membantu.

Baca Juga :  Menlu RI Harus Adil Terhadap Semua TKI

Sayangnya, budaya tersebut lama kelamaan mulai pudar.

“Tetapi nilai ini kemudian dimakan zaman yang sangat kompetitif dan kapitalistik. Dimana nilai egoisme atau invidualistik menguat perlahan-lahan, menghilangkan solidaritas sosial Atoin Meto yang pernah dibangun,” ungkapnya.

Begitupun semangat ekologis yang sudah dianalogikan dengan manusia pun ditinggalkan warga, kata putra Oeolo-TTU ini.

Karena  tak heran kemudian, kata Hery, kawasan-kawasan sakral seperti Fatu Kanaf dan Oe Kanaf pun diserahkan pada capital (modal) untuk mengkonsersinya sesuai peruntukannya. Malah, pertambangan sekali pun yang dinilai sebagai industri ekstraktif pun masuk dalam wilayah-wilayah sakral tersebut.

“Itu berarti nilai spiritual orang Atoin Meto sedang menuju kebangkrutan sosial.”

Dari kondisi inilah, kemudian lahirlah sebuah tawaran menarik. Budaya sosial yang dibangun Atoin Meto ini, mestinya dilestarikan dan menjadi sebuah model interaksi sosial yang semestinya menjadi pembelajaran menarik, khususnya dalam upaya penyelamatan ekologi.

Inilah kekayaan yang dimiliki dan diwariskan para leluhur Atoin Meto. Mampukah kita pertahankan dan lestarikan dalam kehidupan sosial kita? Jawabnya…ada pada hati nuranimu para penguasa dan pemilihara bumi dan alam ini.  (damian kenjam)

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 + 6 =