9

 

Moral-politik.com. Pemerintah Indonesia mengatakan siap mengirimkan kembali pasukan penjaga misi perdamaian atau peace keepers pada akhir tahun ini. Mereka akan ditempatkan di Sudan dan Lebanon.

Hal itu diungkap Kepala Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian, Brigadir Jenderal AM Putranto di gedung PMPP, Sentul, Rabu 25 Juni 2013, usai membuka konferensi pengajaran Bahasa Inggris bagi para tentara dan polisi. Menurut Putranto, saat ini para pasukan berseragam tersebut sedang memasuki masa pelatihan pra penempatan, sebelum diterjunkan ke daerah konflik di kedua negara tadi.

“Jadi saat ini para pasukan tengah menjalani pelatihan selama satu bulan sebelum dikirim ke daerah konflik. Ini sudah memasuki minggu ketiga dan tengah masuk aplikasi tahap akhir,” ungkap Putranto yang baru terpilih sebulan lalu menggantikan Brigjen Imam Edy Mulyono.

Untuk pengiriman tentara penjaga perdamaian PBB di tahun ini, PMPP, berencana mengirimkan 978 tentara. Mereka akan diberangkatkan dalam lima gelombang.

“Rencananya keberangkatan akan dimulai kalau tidak awal ya berarti akhir November. Dari 978 pasukan yang dikirim, 75 di antaranya merupakan unit polisi militer,” kata Putranto.

Indonesia tercatat telah mengirimkan tentara dengan misi perdamaian sejak tahun 1957 silam. Hingga saat ini, total pasukan yang dikirim ke daerah konflik di beberapa negara mencapai lebih dari 24.284 personil.

Putranto mengatakan setiap pasukan yang berangkat untuk membawa misi perdamaian PBB merupakan tentara pilihan. Pasalnya mereka melalui seleksi ketat dan harus sesuai kualifikasi yang ditetapkan oleh PBB.

Salah satu faktor krusial adalah kemampuan Bahasa Inggris. Putranto menyebut penguasaan Bahasa Inggris tidak dapat disepelekan. Alasannya faktor itulah yang jadi penentu sukses atau tidaknya sebuah misi di lapangan.

Baca Juga :  Biarawati ini dipuji Soekarno, menolak Abdul dan Panusu menjadi Katolik

“Bahasa Inggris merupakan landasan bagi para tentara kami untuk berkomunikasi secara efektif dengan beberapa pihak baik itu masyarakat setempat, tentara penjaga perdamaian dari negara lain atau pihak lembaga swadaya masyrakat,” ujar Putranto.

Namun dia tidak menutup kenyataan banyak tentara yang lebih memaksimalkan bahasa yang digunakan masyarakat lokal. Mereka mempelajari itu secara otodidak dan saat bertugas di sana.

“Contohnya saat bertugas di Lebanon tahun 2007 kemarin, pasukan kami juga memiliki kemampuan berkomunikasi dalam Bahasa Arab dan Perancis,” kata Putranto.

Dia menjelaskan saat berada di lapangan, tugas para tentara yang disebut “blue helmet” ini adalah menjaga perdamaian di daerah konflik. Mereka tidak ikut mengangkat senjata dan berperang, namun lebih kepada penjagaan supaya konflik tidak meluas, bahkan apabila bisa konflik itu mereda.

“Contohnya saat di Lebanon, daerah perbatasan antara Lebanon dan Israel berpotensi jadi konflik. Alasannya karena jalur patrolinya sama. Nah, tugas kami adalah menjaga agar jangan sampai di antara kedua negara itu kemudian berperang,” papar Putranto.

Setiap tentara pembawa misi perdamaian, bertugas selama setahun. Sebelumnya mereka akan dilatih di PMPP yang memiliki luas area 261 hektar dan berlokasi di Bukit Santi Dharma, Sentul.

Komplek pusat perdamaian ini mulai dibangun November 2012 dan diresmikan oleh Presiden SBY pada bulan November di tahun yang sama. SBY mengusulkan dibangun fasilitas tersebut, sebagai pengamalan amanah terhadap konstitusi da karena dulunya SBY merupakan salah satu tentara penjaga perdamaian.

Putranto mengatakan seluruh komplek yang terdiri dari tujuh area ini, akan rampung di tahun 2014. Karena membawa misi perdamaian PBB, Sekjen Ban Ki-moon juga pernah menyambangi fasilitas ini pada bulan Maret 2012 lalu. (Sumber: viva.co.id)

Baca Juga :  Partai Golkar : Dulu hingga kini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

41 + = 42