nasty

Moral-politik.com. Dari beberapa sosialisasi yang dilakukan oleh PLN Wilayah NTT kepada Masyarakat di Fatukoa, Jack Kalla salah satu warga dari 30 warga  yang menolak jaringan melintasi rumahnya mengatakan, PLN telah berulangkali melakukan pembohongan kepada masyarakat dengan sengaja mendatangkan ahli yang sudah mereka bayar untuk melakukan penipuan tentang bahaya Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET).

“Kami memang tidak mampu membayar ahli untuk melakukan sosialisasi kepada warga seperti PLN. Tapi apa yang kami gali lewat internet  tentang UU Pertambangan dan Energi Tahun 1992, tentang jarak ideal dari jaringan ke rumah maupun jarak ideal tower ke rumah tidak pernah kami dengar dalam sosialisasi yang dilakukan oleh PLN,” kata Jack Kalla Kepada wartawan.

Selain itu, lanjut Jack, PLN juga pernah mengundang 30 warga Fatukoa untuk menghadiri Workshop tentang Bahaya SUTT dan SUTTET yang dilakukan di Aula Eltari Kupang. Namun mereka tidak hadir karena menurutnya, workshop sama dengan sosialisasi. Seharusnya sosialisasi dilakukan saat perencanaan pembangunan dan bukannya setelah mau diresmikan atau  menghadapi protes masyarakat, baru mereka mendatangkan ahli untuk membohongi masyarakat tentang bahaya tersebut.

Ia menduga, sepertinya PLN dikejar deadline dengan kontraktor luar yang mengerjakan proyek tersebut,  sehingga berbagai cara dilakukan agar PLTU tetap beroperasi pada juli mendatang.

“Segala cara telah mereka buat dengan mengatakan di media bahwa pemasangan untuk pelanggan belum bisa dilakukan, karena Jack Kalla cs menghambat sehingga Kota kupang terancam gelap di bulan Juli. Ini upaya provokasi kepada seluruh warga Kota Kupang untuk membenci kami yang dilakukan PLN ,” kata Jack Kalla.

Ia menambahkan, dalam pertemuan awal dengan masyarakat Fatukoa,  pernah ada salah satu petinggi PLN bernama Hiros Sihombang yang mengatakan, jaringan tersebut bisa dipindahkan asal ditambah lagi satu tower baru. Namun oleh humas PLN bernama Paul Bola, dia mengatakan jaringan tersebut tidak bisa dipindahkan karena sudah mendekati tower induk. Penjelasan ini yang membuat kami bingung.

Baca Juga :  Beda pendapat 2 Menteri diadukan ke Presiden

“Namun yang pasti kami ini orang kecil dan tanah yang kami beli untuk kami tinggal, bukan untuk dibuat kandang sehingga kami tetap menolak keberadaan tower 51,”  kata Jack.

Sementara Itu, Humas PLN Wilayah  NTT, Paul Bola ketika hendak dikonfirmasi media tentang masalah ini via handphone, tidak menjawab panggilan telepon tersebut. (Nyongky)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here