12

Moral-politik.com. Walaupun kerja keras melalui sosialisasi dan pendampingan berkelanjutan serta didukung dengan dana yang berkelimpahan, tetapi jika yang bersangkutan tidak mau turut serta menjaga kesehatannya, maka sia-sialah usaha itu. Yang ada hanyalah penyesalan dan meratapi kesedihan.

Demikian diungkapkan Penanggung Jawab Klinik VCT Kasih Atambua, Theresia Abuk, ketika ditemui Moral-politik. com di ruang kerjanya, Sabtu (15/6).

“Ini data perkembangan penderita HIV/AIDS yang melakukan Check Up dan mendapat pendampingan dari VCT Kasih Atambua. Setiap bulan selalu ada peningkatan yang sangat serius bagi penderita HIV/ AIDS. Dari tahun 2006 sampai 2009 yang positif menderita HIV/ AIDS itu ada 206 orang. Laki-laki 124 orang, Perempuan 82 orang. Yang meninggal: Laki-laki 48 orang, Perempuan 22 orang. Total 70 orang. Tahun 2010 yang positif menderita: Laki-laki 95 orang, Perempuan 61 orang. Total 156 orang. Tahun 2011, Meninggal: Laki-laki 14 orang, Perempuan 17 orang. Total 63 orang. Tahun 2012 yang positif menderita: Laki-laki 79 orang, Perempuan 49 orang. Total 128 orang. Tahun 2012, Meninggal: Laki- laki 24 orang, Perempuan 33 orang. Tahun 2013 yang positif menderita: Laki-laki 82 orang, Perempuan 59 orang. Total 141 orang. Data ini menunjukkan bahwa, Belu adalah sarang HIV/ AIDS,” urainya.

Theresia Abuk mengatakan, ada sebagian penderita yang tidak mau minum obat ARV. ARV itu adalah obat khusus buat penderita HIV/ AIDS. ARV itu artinya obat Anti Retroviran. Akibatnya 44 orang meninggal dunia,  4 orang pindah keluar, 16 orang lolos follow up, sisanya yang masih aktif ambil obat ARV itu ada 98 orang. Total itu ada 162 orang.

Kami juga telah melakukan profil laksis, lanjutnya. Profil laksis itu artinya mereka yang sudah ditest positif HIV/ AIDS tapi belum mau konsumsi obat ARV. Kendalanya ada di situ. Jika mereka yang sudah profil laksis dan mau konsumsi ARV, maka secara perlahan mereka pasti sembuh, walau pun tidak secara tiba tiba. “Semuanya pakai proses. Ada yang merasa malu, sehingga tidak mau datang ambil obat untuk diminum. Kebanyakan dari mereka tidak mau terima diri. Tidak mau terima kenyataan. Kita terus sosialisasi, tapi penyakit ini terus meningkat dari hari ke hari. Kita mau bagaimana lagi?” keluh ibu dua anak ini.

Baca Juga :  Tukang Ojek Ini Merampok Linda Banunaek, Penumpangnya

Theresia Abuk, Penanggung Jawab Klinik VCT Kasih Atambua, RSUD Atambua

Dikatakannya, penderita HIV/ AIDS rata rata berada pada usia produktif,  yakni 25 sampai 40 tahun. “Penderita HIV/ AIDS itu berfariasi. PNS ada 8 orang, TNI/ POLRI  5 orang, IRT 49 orang, Wiraswasta 12 orang, Petani 19 orang, Ojek 9 orang, Sopir 6 orang, TKI 8 orang, Tukang 5 orang, PSK/ Waria 4 orang, Pensiunan 4 orang, Mahasiswa/ Pelajar 2 orang, Satpam 2 orang, tidak bekerja 10 orang. Ini merupakan data terakhir pada tahun 2013 ini,” rincinya.

Dan setahu kami, kanjutnya, dari Klinik VCT ini, masih banyak penderita yang belum didata secara lengkap. Mereka selalu berpindah pindah, sehingga membuat yang lain pun terkena dengan melakukan hubungan seks tanpa menggunakan kondom.

“Ke depan, generasi Belu akan ompong karena dimakan HIV/ AIDS. Sudah mengidap penyakit ini, mereka tidak punya kesadaran untuk mau datang periksa. Kita pergi lakukan periksa di tempat mereka, mereka tidak mau. Saya pribadi yakin, ke depan generasi Belu adalah generasi HIV/ AIDS,” sindirnya, pedas.  (Felix)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

45 − 40 =