DSC00413-1

Oleh : Yohanes da Cruz Soares Pereira *)

 

Moral-politik.com. TUHAN melebihkan manusia  dengan makhluk lainnya dengan akal dan fikiran. Karena itulah, otak sebagai instrument yang  disiapkan-Nya bagi manusia agar  manusia mempertimbangkan segala keputusan yang menyangkut  hidupnya dan hidup rang lain.

Mereka yang menggunakan akalnya untuk berfikir, mengelola  setiap fenomena kehidupan menjadi kebajikan, dimasukkan ke dalam golongan kaum yang berfikir. Mereka yang beroleh ilmu pengetahuan dan menguasai teknologi untuk kepentingan kemanusiaan. Lalu memberi makna atas eksistensi hidupnya sebagai pemimpin di atas muka bumi ini.

Akal yang dikelola dengan baik akan mendorong manusia selalu memandang setiap fenomena hidup dan kehidupan sebagai inspirasi. Kemudian secara sadar  mengelola inspirasi menjadi kreativitas yang tak pernah henti melahirkan berbagai inovasi. Bahkan  dengan akal  itu pula, manusia melakukan invensi: menemukan hal-hal baru yang bermanfaat luas bagi manusia dan bahkan alam semesta.

Demikianlah adanya. Dari masa ke masa dengan akalnya, manusia merambah dimensi ruang dan waktu melalui berbagai pencapaian kualitas hidup agar terus berlangsung lebih baik. Karena  esok harus lebih baik dari hari ini, hari ini  harus lebih baik dari hari kemarin. Kesemua itu dilakukan manusia dengan memilih  dan memilah berbagai mimpinya, lalu  mengubahnya  menjadi imajinasi yang memandunya  menentukan focal concern kehidupannya.

Akal pula yang memandu manusia bagaimana menemukan kekuatan pendorong (driving force) atas seluruh potensi diri yang dimilikinya, sehingga secara bersama-sama dengan manusia lain,  merupakan visi kolektif yang diwujudkannya melalui berbagai misi sebagai tindakan pencapaian hidup (life performance stages). Selanjutnya, manusia secara individual dan kolektif merancang kehidupan di bidang pengabdiannya masing-masing melalui grand strategy, program, dan rencana aksi kehidupannya.

Baca Juga :  Ternyata Bukan Cuma 2 Orang, Inilah 14 Artis yang Pernah “Bareng” Ariel Noah (2)

Berabad-abad lamanya, sejak Adam dan Hawa diciptakan Tuhan, manusia  berkutat dengan akalnya. Akal inilah kemudian yang memasukkan manusia ke dalam  perkembangan peradaban yang beraneka rupa. Namun demikian, tak sedikit manusia yang hanya mengandalkan naluri, perasaan, dan indranya semata. Mereka mengabaikan fungsi akal yang sedemikian strategis. Sebagian lagi  mereduksi fungsi akalnya dalam menjalani kehidupan, dan menjadikan akalnya hanya menjadi pembenar atas naluri dan emosi yang tak mampu dikendalikannya.

Mereka yang menggunakan akalnya menemukan ruang kompetensi dan profesionalitas. Mereka menjadi insan yang selalu optimistis dan produktif dalam memberi makna atas hakekat dirinya sebagai manusia. Mereka yang mengabaikan akanya terjerembab di ruang-ruang kehidupan yang pengap, berlindung di balik pesimisme. Bersikap apatis dan akhirnya kehilangan  daya insani, karena dibekap frustrasi tak alang kepalang. Mereka yang mereduksi akalnya, terpelanting ke dalam kubangan hidup yang membahayakan bagi manusia dan alam semesta.

Mereka yang mereduksi akalnya itulah yang kemudian menjadi penyebab timbulnya disharmoni kehidupan sosial manusia. Mereka mengubah fungsi akal menjadi alat untuk memenuhi hasrat dan kepentingan dirinya sendiri, baik kepentingan ekonomi maupun politik. Mereka inilah yang selalu gemar bertindak akal-akalan dalam menebar kelicikan. Mereka mengubah sinergi menjadi persekongkolan. Mereka menyingkirkan siapa saja yang tak membuatnya aman dan nyaman, meski rasa aman dan nyaman itu datang dari dirinya sendiri.

Mereka yang mereduksi akal tidak pantas menjadi pemimpin. Karena akal-akalan yang dilakukannya membahayakan kehidupan umat manusia. Tindakan mereka selalu mengubah harmoni menjadi disharmoni. Mereka membiarkan dirinya menjadi “hewan yang berakal”  di tengah kehidupan manusia. Karenanya, bagi mereka yang terpenting dalam hidup adalah bagaimana membahagiakan diri sendiri, tak peduli dengan membahayakan orang lain.

Baca Juga :  Putusan MK kabur, Pemilu Inkonstitusional

Mereka yang gemar mereduksi akal inilah yang di lingkungan kerja sehari-hari sangat gemar melakukan praktek office politic dan menebar politicking. Mereka ini pula yang gemar berkamuflase menjadi “professional katak” : sikut yang di kanan, sikut yang di kiri, injak yang dibawah dan jilat yang di atas. Mereka juga yang gemar melakukan poltik  “belah bambu” : injak yang di bawah, angkat yang di atas. Semua itu terjadi karena mereka ‘pendek akal’.

Sebaliknya, mereka yang memelihara dan menggunakan akalnya dalam berpolitik dengan benar, baik, dan sehat, merupakan insan yang ‘panjang akal.’ Memandang sesuatu secara visioner. Mereka cerdas dan bijak, dan tak pernah kehilangan daya cipta untuk menemukan solusi atas setiap masalah. Mereka inilah yang mampu selalu membuka diri untuk memperbaiki kinerja bersama berdasarkan akhlak dan budi pekertinya.

Kita, termasuk golongan yang mana kah ? (***)

*) Staf Peneiti pada Centre for East Indonesia Studies and Consultation Development, Wartawan, tinggal di Kupang.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

+ 13 = 18