12

Moral-politik.com. Untuk membuka tabir kegelapan wanita, dibutuhkan kerja keras dan dedikasi yang tinggi, sehingga wanita  bisa ditempatkan sebagai makhluk yang layak dihargai.

Selama ini, banyak anggapan negatif ditujukan kepada wanita, semisal hanya mampu di dapur dan mengurus anak serta suami.

Ternyata tidak. Seiring bergulirnya waktu, pandangan itu telah berhasil dirubah sendiri oleh wanita, kendati masih banyak hal yang perlu dibenahi.

“Tidak semua wanita itu “budak” rumah tangga,“ seloroh Adriana Susanty Mella, ketika Moral-politik.com meminta komentarnya terkait anggapan sejumlah orang bahwa wanita adalah “budak” rumah tangga.

Ditemui di kamar operasi, bagian instrumen RSUD Atambua, Sabtu (15/6), Adriana berkata tegas bahwa dirinya tidak setuju dengan istilah wanita adalah “budak” rumah tangga.

“Itu mungkin dulu!“ serunya. “Sekarang tidak demikian! Jadi, laki laki jangan seenak perut main perintah dan menjajah kecil-kecilan dengan wanita yang berkapasitas sebagai istrinya. Kita perempuan harus bangkit melawan kediktatoran laki laki, agar laki laki pun tahu!”

Istri dari Melki Michael Optu ini mengatakan, sudah saatnya wanita bangkit dari tidur malamnya, sehingga dapat maju dan bersaing ke level yang lebih tinggi. Saatnya juga tunjukkan kelebihan kepada lelaki, sehingga tidak dianggap remeh.

“Wanita harus mampu buktikan kepribadiannya agar laki-laki tidak main jajah-jajah saja. Ini merupakan zaman emansipasi. Wanita pun sudah lebih mampu dari laki laki. Perlu kerja keras agar selalu dihargai jasa-jasanya. Kalau kini masih ada wanita yang kurang dihargai, itu berarti wanita tersebut tidak mampu menunjukkan jati dirinya. Akibatnya dia mengalami siksaan dengan beragam cara,” katanya.

Ketika ditanya mengapa wanita masih mendapat perlakuan tak adil, semisal diberikan kesempatan berkarier, dia berkata itu hanya karena ada sentimen terhadap wanita, sehingga laki laki itu mencari-cari kesalahan wanita, lalu menjatuhkan citranya.

Baca Juga :  Djidon de Haan: 4 Caleg Ditanggapi Masyarakat

“Sejak zaman Megawati menjadi Presiden dan hingga kini pun, masih terus terjadi pelecehan seksual terhadap perempuan. Perempuan itu semacam kain kotor yang dipakai laki-laki. Saya sedih dan merasa kasihan jika seorang suami tidak mau mendukung istrinya berkarier,“ katanya.

Sekarang itu, katanya lagi, tergantung istrinya atau wanita itu. Dia harus bisa bagi waktu untuk suami dan anak anak. Bagi waktu untuk bekerja.

“Pemikiran yang kuno, jika ada suami atau laki laki yang melarang perempuan atau istrinya untuk tidak boleh berkarier. Itu pikiran yang kuno. Saya tidak setuju dengan pemikiran itu,”  protes ibu tiga anak ini. (Felix)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

62 + = 65