4

Moral-politik.com. Usaha di bidang pertanian kerap kali dipandang remeh oleh sebagian orang. Belum semua pelaku usaha melirik  bidang pertanian sebagai salah satu unit usaha yang berprospek. Bahkan para petani sendiri, yang separuh hidupnya digantungkan pada dunia yang satu ini, juga belum serius mengoptimalkan potensi yang ia miliki untuk perkembangan usaha tani yang digelutinya.

Para petani sering kali pada musim tertentu (bulan tertentu) terpaksa harus meninggalkan usaha tani dengan mencari pekerjaan lain untuk menambah penghasilan keluarganya selama setahun. Alasan mereka, usaha tani  yang digelutinya tidak mampu membawa penghasilan yang banyak, sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, perlu ada penghasilan tambahan dari pekerjaan lain.

“Ya, kalau musim kerja kebun semua petani terjun untuk kerja kebun, tapi abis panen, banyak yang harus mencari pekerjaan lain seperti tukang untuk menambah penghasilan keluarga,” ungkap Lodofikus Una, salah satu Ketua Kelompok Tani di Kelurahan Bitefa, kecamatan Miomaffo Timur, TTU.

Hal serupa juga diakui oleh Finsen Tjanai Tael, salah satu kelompo tani di keluarhan ini. Menurut dia, para petani di TTU yang hanya bekerja pada musim-musim tertentu, dimana hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan selama 1 tahun berjalan, setelah itu mencari pekerjaan lain untuk penghasilan tambahan bagi keluarganya. “Ya, rata-rata kita petani di sini, belum maksimal dalam dalam bertani,” ungkapnya.

Pernyataan Lodifikus dan Finsen ini dibenarkan Kusnady, salah satu pelaku bisnis di bidang pertanian. Menurut Kusnady, usaha di bidang pertanian baik di TTU maupun di Timor secara keseluruhan, sesungguhnya sangat berprospek, baik di bidang pertanian pangan, hortikultura maupun bidang peternakan ataupun perikanan. Hanya saja, perlu dilakukan perubahan perilaku agar masyarakat tani tidak hanya berorientasi pada konsumtif tetapi lebih berorientasi pada bisnis.

Baca Juga :  Ini kata Jokowi soal Bacawapres PDIP

“Ya, kalau ada petani yang berpikir untuk bisnis, maka sesungguhnya peluang usaha tani di TTU ataupun di Timor ini sangat besar, asalkan ada ketekunan dan kemauan serta pilihan komoditas pertanian yang benar-benar dibutuhkan di tengah masyarakat, sehingga laku terjual dan menghasilkan keuntungan,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, sebuah usahatani yang baik, selain pilihan komoditi usaha, juga perlu dilakukan analisa usaha, sehingga para petani bisa menghitung untung dan rugi. “Jika usaha itu menguntungkan maka perlu dikembangkan, kalau belum bisa mengambil keputusan lain,” ungkapnya.

Namun hemat dia, berdasarkan berbagai analisa yang diamatinya, usaha di bidang pertanian dengan komoditas apapun, sesunggunya membawa banyak keuntungan, asalkan dilakukan dengan serius dan dalam jumlah yang banyak.

“Saya contohnya, di musim awal kemarau ini, para petani  memanfaatkannya untuk menanam tomat atau cabe/Lombok. Ada yang memanam lebih dari 5.000 pohon kemudian dilakukan dengan serius pasti akan berhasil, maka otomatis akan membawa keuntungan yang besar padahal waktu usahanya hanya 3-4 bulan saja. Coba hitung berapa biaya yang dikeluarkan dan berapa keuntungan yang diperoleh? Pasti keuntunganya berlipat ganda dan ini dilakukan secara terus menerus,” ungkapnya.

Nah, inilah peluang-peluang yang mestinya ditangkap dan dilakukan oleh para petani di NTT, khususnya di Timor Tengah Utara. Masih banyak lahan yang belum dioptimalkan dengan baik, haruskah kita terus miskin di tengah kekayaan alam yang berlipat?

Hanya kemauan dan keberanian hari ini untuk merubah sebuah kenyataan menuju kehidupan yang lebih baik  dari kondisi hari kemarin.  (damian kenjam)

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 + 6 =