b

 

Moral-politik.com. Jalan hidup seseorang bisa jadi ditentukan oleh pekerjaan dan kegiatannya sehari-hari. Namun tak sedikit yang terjebak dan dibelenggu oleh rutinitas serta zona nyaman. Banyak orang yang mengesampingkan hasrat terpendam dalam diri mereka serta memilih untuk diam dan tak mau mengambil resiko.

Namun pola hidup dan pemikiran tersebut tidak berlaku bagi Mony Suriany. Baginya, mengikuti hasrat dan minat yang ada pada diri adalah hal yang utama dalam hidup. Intuisi membimbingnya menemukan arah kehidupannya. Dan yoga adalah jalan hidupnya.

Di studio Bikram Hot Yoga miliknya yang terletak di bilangan Senayan, Jakarta Selatan, wanita kelahiran Medan, 24 Januari 1976 ini menceritakan kepada Perempuan.com kisahnya dari seorang analis keuangan, hingga kemudian memilih untuk banting stir menjadi seorang wirausaha.

“Pada awalnya, saya bekerja di General Electric (GE) di Amerika sebagai seorang analis keuangan. Tekanan pekerjaan membuat saya menjadi stress dan jenuh. Dan ketika saya rutin melakukan yoga, saya merasa lepas. It works!” ujar Mony.

Mony juga menceritakan salah satu pengalaman yang membuatnya jatuh cinta lebih mendalam pada yoga, hingga ia percaya bahwa mungkin di situlah terletak masa depannya.

Ketika itu ia sempat mengalami kecelakaan yang menyebabkan tulang bahunya retak dan mengalami dislokasi tulang lutut. Dokter di rumah sakit setempat menyarankannya untuk menjalani operasi. Namun Mony menolaknya. Ia mempunyai pemikiran dan keyakinan sendiri.

Mony menggunakan latihan yoga sebagai sarana untuk memulihkan kondisinya. Hal tersebut terbukti, bukan isapan jempol belaka. Ia bisa pulih dan fit sepenuhnya, baik secara fisik maupun emosional.

“Prosesnya memakan waktu yang tidak sebentar dan menyakitkan di awalnya. Namun lama kelamaan barulah manfaatnya terlihat. Bagi saya, operasi merupakan jalan instan. Yoga memang butuh proses dan memakan waktu, namun hasil yang saya dapat tidak sia-sia. Saya dapat pulih secara alami,” ujar peraih gelar MBA dari Indiana University ini.

Baca Juga :  Penasaran Soal Sex Toys, Gracia Indri Sebatas ke Toko Penjualan

Pekerjaan Mony sebagai analis keuangan di sebuah perusahaan multinasional di Amerika sebenarnya menjanjikan kemapanan. Namun ia merasa tidak ada tantangan yang berarti baginya. Ia merasa hampa dan terjebak dalam rutinitas yang itu-itu saja.

Mony ingin sekali melakukan suatu terobosan besar dalam hidupnya. Namun di sini ia berada dalam dilema. Apakah ia akan mempertahankan karirnya sebagai seorang eksekutif di perusahaan mapan, ataukah mengikuti ke mana hati dan hasratnya mengalir?

“Saya tidak mau melakukan sesuatu yang akan saya sesali di kemudian hari selama sisa hidup saya. Akhirnya saya ambil keputusan, saya memilih yoga sebagai hal yang akan saya tekuni. Dan saya percaya bahwa keputusan saya itu tidak akan sia-sia,” kata Mony.

Mony memutuskan untuk berhenti bekerja setelah lima tahun menapaki karirnya di bidang keuangan. Keseriusannya pada bidang yoga ia tunjukkan dengan mengikuti kursus sebagai instruktur di Los Angeles, hingga kemudian ia bisa mengajar di beberapa studio. Mony juga sempat mengajar di Sydney dan Singapura sebelum akhirnya kembali ke Jakarta, Indonesia.

Di sini, ia berniat untuk mendirikan studio yoga pertama di Indonesia. Suatu keputusan yang berani, mengingat yoga belum begitu dikenal di Indonesia pada waktu itu. Meyakinkan orang-orang terdekatnya, terutama orangtua, merupakan hambatan tersendiri terhadap keputusan yang ia buat tersebut.

“Namun saya katakan pada orangtua saya, “Beri saya waktu dua tahun. Dan akan saya buktikan bahwa usaha ini akan berhasil’,” kata Mony. Alasan Mony begitu yakin terhadap keputusannya, tak jauh dari prinsipnya sebagai orang dari latar belakang ekonomi. High risk means high return.

a

Pada 2004, dibukalah studio Bikram Hot Yoga pertamanya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Bikram adalah salah satu metode yoga yang paling familiar selain Kundalini, Ashtanga, dan Iyengar. Ada 26 gerakan yang dilakukan dalam waktu satu setengah jam. Gerakan satu dengan lainnya saling terkait, dan membantu melancarkan kerja pernapasan, pencernaan, dan otot-otot lain dalam tubuh.

Baca Juga :  Opini: Catatan dari Diklat Pra Uji Kompetensi Wartawan

Yang paling membedakan Bikram dengan metode yoga lain ialah suhu ruangan yang harus diatur antara 38 sampai 42 derajat celcius. Mony yakin, bahwa dengan metode Bikram yang mana suhunya diatur sedemikian rupa akan melancarkan proses detoksifikasi yang baik dalam tubuh.

“Bila kita berolahraga lain, fokusnya hanya ada di beberapa otot tubuh kita dan tidak mencakup semuanya. Melalui gerakan yoga Bikram, seluruh tubuh akan mendapatkan penekanan yang sama, misalnya di otak atau di organ lain. Keseimbangan hormon dalam tubuh adalah benefit yang bisa didapat melalui Bikram,” papar ibu dua anak ini.

Mony menjelaskan bahwa yoga bisa membuat orang yang melakukannya menjadi lebih sehat, lebih tenang, dan lebih bahagia. “With yoga, you become a better person,” ujar Mony.

Mony mengakui, masa dua tahun pertama dalam pengembangan usahanya ini merupakan hal yang terberat. “Membuka studio hot yoga di Indonesia adalah tantangan tersendiri. Rasanya seperti menjual kulkas ke orang Eskimo. Banyak sekali orang yang tidak mau olahraga sambil berpanas-panasan. Itulah tantangan utamanya,” ujar Mony.

Mony juga dihadapkan pada situasi dimana belum teredukasinya masyarakat terhadap yoga pada masa itu. Alhasil, terciptalah stigma dan stereotip di benak publik yang belum tentu benar keabsahannya.

“Belum lagi adanya anggapan seperti, ‘apakah yoga itu sebuah sekte?’, ‘apakah yoga bisa membuat kita terbang?’, dan sebagainya. Mungkin hanya ada satu atau dua orang yang datang tiap harinya pada saat itu. Tapi itu tidak jadi masalah, karena saya melakukannya dengan senang,” lanjut Mony.

Pada awalnya, ia murni memasarkan usahanya ini hanya dengan berbekal word of mouth atau dari mulut ke mulut. Setelah itu, datanglah kemudian media-media massa yang meliput. Dan seiring berjalannya waktu, Mony berhasil memasarkan usahanya dengan baik hingga kemudian mempunyai banyak pelanggan.

Baca Juga :  Martinus Laga Muli: Penguasa oportunis harus dijewer

Hal tersebut terlihat dengan bertambahnya studio Bikram Hot Yoga yang ia miliki. Kini ia memiliki tiga studio Bikram Hot Yoga. Tiga studio tersebut dapat ditemukan di bilangan Kemang dan Senayan (Jakarta), dan satu lagi di Bali. Omzet yang ia dapat pun mencapai 200 juta rupiah per bulannya. Rencananya, ia akan membuka satu studio Bikram lagi di kawasan BSD, Tangerang, pada bulan Mei tahun ini.

Melalui yoga, Mony membuktikan bahwa jalan hidup bisa dan bebas untuk dipilih. Semua orang berhak memilih jalannya masing-masing sesuai dengan gairah dan minatnya terhadap suatu bidang. Dengan catatan, orang tersebut mau untuk melepas zona nyamannya dan berani mengambil resiko.

“I wanna be this way. So, I do it this way. Saya selalu ingat akan perkataan ibu saya, jika saya tekun dan mempunyai keinginan kuat, serta berusaha dan tidak menyerah, maka saya pasti bisa mewujudkannya. Untuk meraih sesuatu, maka kita harus bekerja keras, karena saya yakin tak ada hal baik yang dapat diperoleh secara cepat,” pungkas Mony.

 

Sumber: perempuan.com

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 + 2 =