Dokter Suroso, Penanggung Jawab Spesialis Bedah Sentral RSUD Atambua (1)

Moral-politik.com. Tidaklah gampang memberikan kepercayaan terhadap masyarakat. Apalagi memulihkan nama baik. Semua membutuhkan waktu ekstra dan kerja keras dalam menumbuhkan kembali rasa kepercayaan masyarakat terhadap suatu lembaga atau intansi.

Stempel negatif itu telah tertanam dan bahkan telah mengeluarkan bau busuk yang tak sedap. Sehingga menimbulkan rasa antipati berlebihan. Salah siapa? Jika mau diselamatkan dari kesalahan itu, maka semua pengelola dan pengurusnya harus membuka diri dan mau mengakui kesalahannya. Jika masih tetap hidup dalam kesalahan yang sama, maka perlahan-lahan prestasi dan gedung mewah yang telah dibangun dengan triliunan rupiah akan dimakan rayap.

Demikian pernyataan  Penanggungjawab Spesialis Bedah, Kepala Instalasi Bedah Sentral RSUD Atambua, dr. Suroso, ketika menerima Moral-politik.com di ruangannya, Sabtu (15/6).

Masih menurutnya, sebenarnya tidak ada masalah yang akan terjadi dengan pihak RSUD Atambua, dalam hal ini Kamar Bedah, jika ada saling komunikasi antara pasien dengan RSUD. “Kalau kondisi jelek yang sudah dialami pasien, maka sebelum dioperasi pun pasien pasti akan meninggal. Jarak antara rumah pasien dengan rumah sakit, cukup jauh. Apalagi pasien yang datangnya dari kampung. Keluarga pasien pun tidak mau perhatikan kondisi dari si pasien tersebut. Pasien sudah sangat parah dan gawat, barulah dibawa ke rumah sakit. Belum lagi jalannya berlubang. Atau pada saat mau rujuk dari Puskesmas ke rumah sakit, mobil ambulance rusak atau sopirnya sakit. Nah, kendala-kendala semacam itu, tidak pernah dilihat pasien dan keluarganya. Keluarga pasien maunya tuh, harus selamat. Kita kan sebatas melayani dan membantu. Lebih lanjut itu kan urusan Tuhan. Apakah pasien itu akan selamat atau meninggal, jika kondisi pasien yang mau dioperasi dalam keadaan babak belur, otomatis ya tetap meninggal,” ujarnya, beralasan.

Baca Juga :  Fan Adrianus: Temuan Pansus Jadi Rekomendasi Bendungan Kolhua

Ketika ditanya penyebab apa sehingga pasien-pasien yang mau dioperasi itu harus meregang nyawanya di ujung ruang kamar operasi? Apakah dokter dan stafnya mempunyai “tangan kotor”, sehingga sebelum ditolong untuk dioperasi, pasien tersebut harus berpamitan untuk selamanya?

Suroso dengan tenang menjawab. “Memang selama ini, keluarga pasien selalu complain bahkan pernah mau pukul kami. Bukan karena dokter dan stafnya yang bekerja di ruang operasi ini memiliki “tangan kotor”, tapi karena kendalanya tidak ada saling komunikasi antara pasien, keluarga pasien dan pihak rumah sakit. Dokter tangani pasien sangat terlalu banyak. Kita tetap layani dengan baik. Entah dicaci pun, kita tetap layani. Dan memang, alat-alat yang ada di dalam kamar operasi ini sudah tua dan belum diganti-ganti. Dananya ada, tapi dimakan oleh pembesar-pembesar. Akibatnya ya, pasien yang kena getahnya. Wajarlah kalau sebelum dioperasi, pasien itu meninggal. Atau sesudah dioperasi pun, pasien tetap meninggal. Itu dikarenakan alat-alat yang sudah tua. Belum diganti. Dan dokter serta stafnya, tidak pernah pakai ilmu hitam dalam melayani pasien yang mau dioperasi !” tegasnya. (Felix)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

26 − = 20