123

Moral-politik.com. Ingin menikmati hidup dengan memelihara sapi sebanyak mungkin, namun naas datang silih berganti. System paroninasi sekadar tertuang di mulut manis. Setelah terjatuh ke tanah, malahan diinjak lagi. Penyelundupan BBM semakin marak. Pencurian pun semakin menjadi. Ketika terjadi pencurian, masyarakat bingung mau melapor kemana? Nasib sebagai masyarakat kecil selalu jadi korbannya. Entah korban yang ke berapa, namun sejarah telah mencatat, masyarakat tetap jadi korban…hari lepas hari.

“Sekitar 20 ekor sapi milik saya dan tetangga saya dibawa kabur ke RDTL melalui jalan tikus dua hari yang lalu,” rintihan pedih Baltasar Lau, ketika menemui Moral-politik.com di Pasar Baru Atambua, kebetulan sedang belanja “kurus-garam”, Sabtu petang (15/6).

Saya sudah lapor kepada Kepala Desa, lanjutnya, tapi belum ada kabar selanjutnya dari Kepala Desa. Dia malah curiga ada oknum-oknum tertentu yang telah “bermain” dengan cara seperti ini. Kalau cara seperti ini dibiarkan secara terus menerus, sambungnya, tentunya masyarakat yang terus mengalami kerugian.

Penjaga sapi di Karantina Hewan Haliwen ini terus memuntahkan kesalnya. “Hewan sapi milik saya dicuri orang. Hewan sapi saya itu kan diikat di desa Salore, yang berbatasan langsung dengan Republik Demokrat Timor Leste (RDTL), padahal saya ingin menikmati hidup dengan memelihara sapi sebanyak mungkin, namun naas bercerita lain. Pihak keamanan yang berada di perbatasan pun sepertinya tidak mampu mengontrol atau tidak tahu.

Menurut Baltasar Lau, jika situasi perbatasan membuat masyarakat merasa tidak nyaman, sebaiknya tidak perlu di tempatkan aparat di perbatasan.

“Percuma saja kalau ada aparat di perbatasan, lalu hewan hewan kami mesti dicuri pihak dari RDTL,” rintihnya.

Malah Baltasar Lau menilai, aparat di perbatasan tidak bekerja dengan baik. Sebab, menurutnya, jika aparat di perbatasan bekerja dengan baik, otomatis pencurian tidak akan terjadi.

Baca Juga :  Tersangka Kasus Pajak Tuding Keluarga Dirjen Pajak Terlibat Kasus Pajak

Lebih ekstrim lagi dia bersimpulan, telah terjadi permainan antaraparat dari ke dua negara ini. “Masak jalan-jalan tikus yang telah diketahui aparat, bukannya ditutup malahan dibiarkan sebagai kesempatan untuk meraup keuntungan? Aneh bin ajaib. Ada apa di perbatasan sana?” kritik si penjaga sapi di Karantina Haliwen ini. (Felix)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

7 + 1 =