Ilustrasi. (foto: hipwee.com)

Oleh: Januarius Gonzagha

 

MORAL-POLITIK.COM – hari pertama: siang hingga sore

Mereka keluar sebelum aku masuk.

Tepat di pintu tacu dan konfor cengar-cengir. Dikira aku akan menangis lagi karena mereka tidak diapa-apakan.

Ini semua karena aku mau menjadi orang kuat. Wanita perkasa sering dipuji sejak zaman Israel Kuno. Baca saja Sarah dalam kitab Kejadiannya Nasrani. Dia istri Abraham yang disanding sebagai ibu kaum beriman. Nabi Elisa pun banyak disegani. Lalu Maria, Bunda Yesus yang mendapat tempat istimewa dalam sejarah keselamatan. Karena itu aku bukan Fany apalagi Geisha yang cerewet sampai detik ini.

“He…he…lagi on air ko?

“Iya…iya lah. Masa bete terus”. Istilah on air dan bete memang asing. Tapi sudah biasa. Bahasa asing gengsinya tinggi. Basah-basah mereka menangkap aku on air tak karuan dua hari ini. Mengkhayal bodo-bodo begitu. Sebenarnya mereka juga. Tetangga-tetanggaku, si Mery, Fany terus Geisha. Tapi, itulah wanita suka malu pada rahasia yang memerah rona. Lebih-lebih kalau irama dalam tacu sudah sunyi. Rahasia apalagi kalau bukan lagi kerek. Maka pancinya jadi sasaran. Terus-terus dilumat api dari konfor dengan minyaknya yang mungkin sudah dicampur dengan air. Jenis apa yang dimuat aku sudah tahu. Tahunya dari bunyi yang keluar dari perut mereka. Kalau bunyi plong-plongan itu baik. Kalau bunyi pleng-plengan tanda mereka baru ngos-ngosan dengan sepiring bubur.

“Hebat…malam ini kita pasti kenyang lagi” nada tetangga kosku Mary optimis.

“Jangan dulu pikir itu. Lihat tugas apa besok” aku membantah malu-malu.

“Wi…belajar buat apa. Dosen killer itu membosankan”

“Welewele, ini anak, lu mau datang sakolah ko, mau malas-malas”. Ramai. Hanya itu pengganti gelinding gorengan yang tak lagi naik tacu. Kalau tidak pasti kami bertengger sambil menunjuk-nunjuk ikan nipi dan teri. Tapi jarang. Kalaupun ada, kami pasti makan sampai melupakan si pemberi, Tuhan.

Baca Juga :  Puisi: Sarjana

Lebih lagi rasa kasihan pada Roby. Dia anak kos depan yang punya banyak teman tetapi sama kanker (kantong kering)-nya. Kami yang lancar kiriman uang saja harus mati-matian hemat, apalagi dia. Kami menyuruh Rony memanggilnya. Dia datang dengan lagak kucing kebasahan. Selera humornya entah ke mana. Mungkinkah makanan menjadi satu-satunya alasan untuk hidup?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

79 − = 70