6

 

Moral-politik.com. Program Kependudukan dan Keluarga Berencana yang telah dilaksanakan selama ini di NTT diakui belum optimal sesuai yang diharapkan.

Hal ini disampaikan Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Theodora Panjaitan pada pengukuhan Pengurus Forum Media Peduli Kependudukan dan Keluarga Berencana di Nusa Tenggara Timur.

Menurut Panjaitan, belum optimalnya program Keluarga Berencana di NTT tercermin dari beberapa indikator capaian program, seperti sensus demografi kesehatan Indonesia, atau SDKI.

Di Nusa Tenggara Timur, capaian SDKI hingga April 2013 menunjukkan bahwa Pasangan Usia Subur yang sedang memakai kontrasepsi pada saat pencacahan hanya sebesar 33.149 akseptor.

Dan dari jumlah tersebut, ternyata hanya 1.532 peserta aktif yang memberikan kontribusi, sedangkan sisanya drop out.

Demikian pula, angka kelahiran hidup berdasarkan SDKI tahun 2012 masih cukup tinggi, yakni 3,3 persen. Di sisi lain menurutnya, Kebutuhan keluarga berencana yang belum terpenuhi, atau unmet need NTT juga masih cukup tinggi yakni 15,9 persen dari total pasangan usia subur sebanyak 700.212.

Dengan demikian, bila merujuk pada kondisi cakupan program di NTT saat ini, dan dikaitkan dengan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, atau RPJMN dan Milenium Development Goalds, atau MDG’s yang harus dicapai, maka terasa masih cukup jauh dan sulit untuk dicapai. (Nyongky)

 

 

 

 

Baca Juga :  Anas: Artis Juga Politisi, Artis Juga Manusia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

12 − 11 =