4

Moral-politik.com. Para operator mesin penggilingan padi berjalan di Kabupaten Rote Ndao mengaku sulit mengoperasikan mesin penggilingannya akibat kesulitan mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar.

Hal ini disampaikan salah seorang operator mesin penggilingan padi berjalan di pangkalan penggilingan, di bilangan Alokama, Kelurahan Mokdale, Kecamatan Lobalain, kepada Moral-politik.com, Sabtu (15/6).

Selain alami kesulitan, lanjut Dany, harga jual yang didapatkan pihaknya berkisar Rp10 ribu hingga Rp12 ribu per liter. Menurut Dany, hal itu menyulitkannya untuk membiayai operasional mesin.

“Kami susah untuk mendapatkan solar, selain itu harganya juga cukup mahal, berkisar Rp10 ribu hingga Rp12 ribu,” kata Dany.

Selain itu, volume solar yang didapatkan pihaknya tidak memenuhi standar satu liter.

“Volumenya tidak jelas dan tidak sesuai standar yang jelas. Bagi kami, harga tidak jadi soal yang terpenting bisa dapatkan secepatnya, dan volumenya  harus benar-benar satu liter. Yang terjadi selama ini, volumen BBM dikurangi, terutama yang beli dalam jumlah besar dengan jerigen, pemotongannya pasti banyak,” ungkap Dany.

Akibat kesulitan tersebut, lanjut Dany, selain menyebabkan mesin tidak beroperasi normal, juga menyebabkan biaya sewa giling padi dinaikannya.

“Kami ini kan mengooperasikan mol berjalan. Untuk mencari konsumen kami harus jalan dan mengeluarkan BBM. Ini menyebabkan sewa giling naik,” katanya.

Untuk menekan kenaikan harga sewa giling, kata Dany, Pemkab Rote Ndao melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Rote Ndao harus intens melakukan pengawasan soal penyaluran BBM.

“Kalau BBM lancar dan harga terjangkau, harga sewa giling pun pasti tidak mahal, dan itu tentu cukup membantu petani. Tetapi yang terjadi selama ini sepertinya Pemerintah tidak proaktif untuk melakukan pengawasan terhadap pendistribusian BBM di Kabupaten Rote Ndao,” kesalnya.

Baca Juga :  Pembukaan Satap Baru Pengaruhi Jumlah Siswa

Dany menduga, kelangkaan BBM jenis solar di Kabupaten Rote Ndao sebagai sebuah modus monopoli dan ditimbun oleh oknum warga tertentu.

“Semestinya pemerintah proaktif melakukan pengawasan, karena saya duga sepertinya ada oknum warga yang melakukan penimbunan,” katanya, tanpa menyebutkan nama oknum warga yang diduga melakukan penimbunan BBM tersebut. (lima)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here