Lasiana

 

Moral-politik.com. LANGIT tampak kemerah-merahan di kala senja. Pantai Lasiana sore itu betul-betul memiliki

magnet yang menarik bagi saya. Saya mendekat ke bibir pantai, memandang keindahan alam sambil sesekali berujar luar biasa. Asyik juga menyaksikan bocah-bocah kejar-kejaran di pinggir  pantai.

Sejauh memandang, Pantai Lasiana sangatlah indah. Pasir hitam dan jajaran pepohonan kelapa di sekitar pantai, ditambah dengan keceriaan pengunjung yang tengah bermain air dan bermain  sepak bola, semakin menambah kecantikan Pantai Lasiana. Di sana juga terdapat warung-warung  yang dikelola penduduk sekitar. Selain itu ada lopo-lopo untuk tempat bersantai, jika sudah penat bermain atau berlarian di pantai.

Tidak seperti hari libur, Lasiana hari itu terlihat sepi. Hanya beberapa sepeda motor yang

terlihat memasuki objek wisata, yang menjadi kebanggaan masyarakat Kota Kupang.”Begini sudah pak, kalau bukan hari libur. Sepi pengunjung,” kata Omsi, seorang petugas karcis yang saya temui di depan pos retribusi, Jumat (21/6).

Omsi yang mengaku sudah lebih dari lima tahun tongkrongi pos retribusi itu mengatakan, tarif masuk untuk sepeda motor Rp 1000, sedangkan penumpangnya juga dikutip Rp 1000 per orang. Sementara tarif masuk untuk mobil Rp 2000.

Terlepas sepi atau ramainya pantai itu, selain kita bisa menikmati segarnya air kelapa muda, kita bisa memesan buah lontar, yang oleh masyarakat setempat disebut saboak, yang masih muda  untuk dinikmati.Isinya seperti kelapa muda. Manis dan gurih rasanya.

Ada yang unik juga di Pantai Lasiana. Di salah satu caffe kita bisa menikmati pisang bakar, yang kerap dikenal dengan “Pisang Gepe”, karena setelah dibakar pisang itu dipres sehingga  berubah bentuk menjadi gepeng .

Entah karena ingin tahu atau mau coba rasanya, saya memesan satu porsi pisang gepe itu. Cukup  lama juga pisang itu dibakar di atas tungku.Layaknya membakar ikan, penjualnya mengipasi tungku tersebut. Dapat dibayangkan bahwa pisang bakar yang hendak dimakan nanti.

Baca Juga :  Wow! Najwa Shihab Seorang Anak Ulama Besar Tak Pakai Hijab, Mengapa?

Pisang gepe pun diantar oleh penjualnya. Terlihat sangat enak.Tidak ada messes, tidak ada keju dan tidak ada susu kental cair. Pisang gepe di Pantai Lasiana yang tersaji dalam sebuah piring tersebut terlihat tertimbun oleh sesuatu.

Penasaran dengan timbunan tersebut, saya mulai mencicipinya . Saya mencoba merasakan bubuk  yang ada di atas pisang tersebut yang ternyata adalah bubuk kacang. Selain itu juga terasa  manis yang berasal dari gula merah cair. Perpaduan pisang, bubuk kacang dan gula merah yang sangat enak dan gurih.

Tanpa terasa, hampir dua jam saya menikmati indahnya senja di Pantai Lasiana.Keindahannya  tidak saya sia-siakan begitu saja. Bukan dengan kamera yang canggih saya coba mengabadikan keindahan alam ciptaan Tuhan itu. Sesekali bayu senja berhembus kencang dengan rasa dingin yang menusuk kulit.

Dengan rasa puas saya meninggalkan pantai itu, menjelang mentari kembali ke peraduannya.

Kegelapan pun mulai menampakkan wajahnya. Saya pun hanya bisa bergumam dalam hati, Ah…Lasiana. Sebuah pesona alam yang menggonda.*** (AVI)

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here