a

Cerpen Januario Gonzaga

MENCINTAI seseorang yang berada jauh dari harapan untuk memiliki. Ia seperti bayangan di bawah rembulan. Sangat kecil, jauh dan tidak pasti untuk disentuh. Semuanya seolah kutuliskan di atas sebuah tabula rasa. Kehampaan itulah yang mungkin dapat mewakili perasaan diriku yang seutuhnya. Terkadang aku berusaha untuk bersikap emosional agar situasi bisa berubah. Namun aku tak harus menyangkal bahwa aku tak kuasa menaklukannya. Dan, rasa itu pun terus saja terkikis oleh keenggananku untuk melawan takdir. Aku terlalu lemah. Daya yang kumiliki sebatas cinta sejati. Cinta pada orang yang olehnya aku masih bertahan hidup.

Sering aku merasa konyol dengan petak-petak cinta yang kutempatkan di antara kami. Aku menggambar seadanya tentang garis persegi yang melingkari aku dan dia. Garis-garis itu kunamai sebagai keabadian. Suatu nama yang dengan bengisnya memandang kemesraan yang kuciptakan. Itu usahaku. Usaha yang ternyata kusadari sebagai tabir kekelaman di kemudian hari. Walau begitu aku tetap tak menerima bila usahaku ini dihancurkan. Diremehkan pun tak sudi hatiku menerima. Sampai di pertengahan musim, masih kutatap balutan serbuk-serbuk kapas di dedaunan hijau. Aku tak merasa ada yang sejuk selain pikiranku sendiri yang menerawang jauh. Bahkan sejuknya udara dan putihnya kapas tak menandingi permainanku ini. Entah kenapa kusadari kalau langkahku amat cepat.

Aku terlalu dini menembus batas kenyataan. Aku bergantung di atas tiang-tiang tanpa beralas tanah. Namun bukan maya. Karena aku tak hendak memiliki maya, bahkan mengenalnya pun aku tak sudi. Semua ini nyata. Nyata, sekalipun keadaanku semakin dikikis rasa kecewa. Kecewa karena kau harus sadar kalau harapanku bertepuk sebelah tangan.
Ini seperti hujan kepagian. Tak ada arakan awan yang melintas. Semuanya mendadak.
“Ah, aku rasa ini adalah pilihan hidup”. Aku tetap merasa bahwa jalan yang kuambil adalah sebuah pilihan hidup. Jalan perjuangan yang semakin hari semakin melelahkan. Namun aku tak dapat menceraikan kelelahan itu. Aku sangat menyatu dengan kelelahan. Walaupun sangat menyakitkan. Tapi rasa menyakitkan itu sendiri pun sangat aku butuhkan. Inilah yang saban hari kukenal sebagai pengorbanan atas nama cinta.
“Pengorbananmu akan sangat konyol”. Sampai detik ini, tak ada makna yang pasti bagi nilai pengorbananku. Aku masih bergelut dalam keluguanku menafsir apa itu pengorbanan. Bahwa dalam usaha dan pengorbanan itu aku merasa gembira. Kegembiraanku mengatasi segala-galanya. Aku bergembira bila satu pengorbananku mampu mengobati rasa rindu yang kupikul. Aku gembira bila hatiku dapat berteduh bersamanya di bawah keremangan malam. Sekali lagi kunamai pengorbananku itu sebagai keabadian. Pengorbananku melingkar dari atas hingga ke bawah. Aku bermimpi kalau separuh diriku telah menjadi dirinya. Aku tak tahan jika harus menyambut pagi tanpa kecupan mesra darinya.
Namun masih sama. Hanya aku yang merasakan hangatnya kecupan itu. Begitu sendu dan mesra untuk kuhayati sendiri. Kami masih menaruh rasa sayang. Sayang yang dalam. Walau aku belum juga mengerti. “Ah, pantaskah aku memakai kata kami?” Bisikan nuraniku selalu menggangu. Apalagi di bulan-bulan terakhir masa sekolah itu. Satu masa yang bagi pelajar SMA sepertiku sangat menggelisahkan. Ada kecemasan bila angannya hanya akan terkubur dalam peti-peti angin. Usang. Berkarat hingga tak teringat lagi. Ada pula yang cemas sebab dunia barunya seperti momok. Amat garang berdua dalam kemesraan menyambut dunia baru. Iri dan dengki beradu padu. Namun itulah kenyataan.
Kenyataan yang bagiku lebih tepat disebut kebohongan dan dusta. Aku tak percaya lagi pada kenyataan. “Adakah aku mampu melihat jarak? Adakah aku mampu membuang suara? Itukan aneh” Dengunganku selayak sebuah keluhan. Dari hati terdalam tak pantas aku mengakui kenyataan saat ini.
Trauma dan kegilaan telah menghadangku. Hanya pengorbananlah yang masih menguatkanku untuk menyibak bayangan ketragisan suatu masa nanti. Aku terus berkeliaran bersama angin yang nakal menggerayangi tubuhku. Aku lebih memercayai angin sebagai kenyataan. Angin hadir dalam kehidupanku. Menyentuh keintiman dan menghanyutkan.
“Angin itulah tanda pengorbananku yang takkan menjadi sia-sia. Ada titipan rindu dalam hembusannya. Angin mencintaiku. Menyejukkan.”
“Kamu sinting, gila”. Aku sangat akrab dengan sapaa-sapaan itu. Dan memang aku harus gila dan sinting mempertanggungjawabkan perasaan hatiku yang mendilema ini. Nada-nada orang yang mematikan telah meresapi kalbuku. Aku memang aneh. Aneh karena tetesan hujan tak kusebut sebagai gumpalan air. Aneh karena bisikan burung tak kuinderai lagi lewat telingaku. Aku memahami borok yang harus kupikul ini.
* * *
Permainanku di senja itupun hanyalah ekspresi sebagian ketertutupan diriku. Aku hanya bisa bercumbu bersama sekelompok burung Hering. Mereka manis, baik, lembut, dan polos. Kami saling memercayai.
“Kamu harus kembali pada kenyataan”. Aku seperti satu dari burung-burung itu. Ekornya yang lembut mengisahkan satu ceritera tentang dia yang semakin jauh dari kenyataan. Dan aku paham cerita itu. Bahkan suaranya sangat kukenal milik siapa. Aku masih mengais jalan di lebaran angin yang menyebar di seluruh jalanku. Tapi aku tak bisa juga sanggup. Kenyataan sangat membuatku sakit. Jiwaku tak sudi menatap tubuhku harus berjalan dalam olokan orang. Aku lebih menyatu di antara burung-burung Hering yang elok. Mereka pun mencinta angin.

Baca Juga :  Berzinah yang Menjanjikan

Yang nyata bagi mereka adalah pemburu-pemburu jahat yang menginginkan daging dan buluh mereka. Sungguh tak ada yang patut dipercayai dalam kenyataan. Aku pun membencinya. Hingga terkadang diriku sendiri harus merasakan akibat terburuk. Aku dicampakkan dari kehidupan keluarga. Aku dikucilkan masyarakat luas. Akulah manusia paranoid dan neurotik.

“Kamu najis. Itulah dosamu bila bermain terus dalam lingkaran setan”. Aku sempat menyimpulkan segenap hinaaan orang. Mereka semua tak berharap akan diriku yang larut dalam dunia tanpa kepastian. Mereka mencintaiku agar aku tak menunggu selama ini. Dunia itu hanyalah milik para iblis yang berkhayal menjadi Tuhan. Bersama rembulan yang telah berpindah di siang hari, sering kami berceritera. Aku mengisahkan kejamnya matahari bila harus terus membuatku merunduk di bawah bayang tak pasti.

6

Malam tak diizinkan untuk keluar lagi. Malam begitu kaku untuk melawan satu sebutan warna hitan atau putih. Perasaanku pun tak lagi didengarkan. Burung-burung Hering itu pun tak lagi membawa pesan-pesan manis. Hanya angin. Hembusannya yang dikibasku pada mulutku seperti kisah si Leonardo Kecil, pelukis misterius itu. Namun tak lebih menyelamatkanku dari takdir cumbu di dalam maya. Aku sangat bergantung pada anganku. Aku tak tahu seberapa kuat jantungku menerima kenyataan untuk bersanding dalam hidupku.
“Biarlah kenyataan tetap menjadi kafir bagiku. Aku tak mau menyentuhnya. Aku tak ingin dipisahkan dari khayalanku. Dipisahkan dari dia yang ada dalam mimpiku. Hanya akan terluka bila aku terjatuh dalam genggaman kenyataan. Jika aku pergi dan dia pun akan menghilang”. Imajinasiku bagaikan pasukan-pasukan kecil yang siap menghadang serangan kebenaran. Benar bahwa saat seperti ini kebenaran telah berbalik.
Aku terus betah dalam dunia ini hingga usiaku mulai menatap takut pada putaran waktu. Namun aku tetap gembira. Tak ada bagian diriku yang mati walau aku harus menerima kehampaan dari kibasan sayap burung-burung Hering. Kegembiraanku adalah aku tidak mengetahui seberapa dekat kehancuran yang selama ini ditakdirkan bagiku. Kehancuran yang tercatat sebagai kematian sebuah nama. Aku terdiam untuk beberapa waktu ketika kabut di otakku hancur. Sebagian memoriku dipasung oleh tekanan-tekanan keras.
Aku sangat ketakutan. Namun tetap bahagia. Aku sendiri saja. Terasing sebab kenyataan adalah kumpulan orang-orang yang bersedia menderita tanpa tahu jalan lain di balik deritanya. Aku tak ingin. Biarlah aku menderita. Penderitaan adalah pengorbanan yang membahagiakan. Bahagia saat bercumbu lagi dengan dia yang mungkin akan semakin dekat. Bahagia saat burung-burung Hering itu mulai bersuara lagi. Kami bersua dalam kekukuhan cinta.
“Cinta bisa membalik kenyataan dan kebenaran. Manusia menguasainya. Aku merasa bisa”. Kenyataan dan kebenaran hanyalah perpanjangan dari kekeliruan-kekeliruan. Dan kekeliruanku adalah kenyataan dan kebenaran. Dari kekeliruanku menilai hidup itulah yang membuat anak-anak bumi mampu berbicara tentang kenyataan dan kebenaran yang sampai kini kuabaikan.

Baca Juga :  Puisi: Mimpi Kian Jadi Nyata

* * *
“Burung Hering yang mati”. Aku terperosok di kala ranting-ranting pohon berjatuhan. Entahlah siapa gerangan mematahkan tempat bagi burung-burung Heringku itu. Namun aku dapat merasakan sesuatu. Ada dorongan mahahebat yang ingin lewat.
“Angin kejam….Angin jahanam…!”Aku berteriak. Suaraku membubung bak dupa. Namun bagai asap tanpa api. Hampa. Adakah hampa itu sesuatu yang maya pula? Di sini aku baru merasa telah dipermainkan. Burung-burung Heringku tak lagi mencinta bumi. Nama mereka pun terhapus tanpa kusadari. Dan tubuhku semakin kuat diguncang angin. Aku tahu aku akan dihancurkan. Tak pasti lagi keberadaanku saat ini. Begitu tragis yang kuderita.
“Di manakah mayaku? Angin telah pergi berkhianat padaku. Pada bulankah aku berceritera? Tapi di mana harus kutemukan malam? Aku tak mengenal lagi apa itu malam. Matahari telah mencurinya”.

Satu harapan terakhir kudapat. Seekor burung Hering menghentakkan ekornya di dekat telingaku. Nafasnya terengah-engah. “Kematian di depan kita. Tak jauh. Kenyataan adalah bahwa aku bukan makhluk yang bersuara. Kenyataan adalah aku hanyalah bayangan dalam hidupmu. Semuanya adalah mimpi dan maya. Yang lebih tinggi dari itu adalah kenyataan dan kebenaran. Maya itu ada dan kenyataanlah yang membahasakannya. Dan bahasanya tak pernah diketahui seekor burung Hering pun.
Selain kematian yang membisu dari surga hingga bumi. Mungkin aku hanya memperkirakannya tanpa pernah memastikannya. Sebab aku tak pasti lagi bagi duniamu. Aku bukanlah aku sperti aku dalam bayangmu. Aku adalah aku yang jauh, dan aku sendiri adalah kejauhan itu. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here