dr

 

Moral-politik.com. Semenjak berdirinya Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi NTT pada tahun 2010 lalu, banyak kasus Kekerasan terhadap perempuan dan anak NTT yang ditangani dan mendapat pelayanan dari lembaga tersebut.

Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan  Setda NTT, Yovita Anike Mitak, kepada Moral-politik.com di Kupang,  Kamis (27/6) menjelaskan, kasus yang sudah ditangani P2TP2A selama tiga tahun lebih didominasi oleh kasus-kasus KDRT dan kasus Trafficking.  Dari kedua trend kasus yang ada, hampir 80 persen menimpa kaum perempuan dan anak.

“Memang ada respon positif dan komitmen serta keperdulian dengan berdirinya lembaga ini  sehingga banyak kasus KDRT dan Trafficking yang ditangani dan mendapat pelayanan,” jelasnya.

Dari data yang ada, jumlah kasus kekerasan dan Trafficking yang ditangani dan terungkap  pada tahun 2011 adalah 150-an kasus, sementara jumlah kasus kekerasan yang ditangani pada  tahun 2013 yakni sebanyak 101 kasus kekerasan terhadap perempuan dan trafficking, dengan bentuk kekerasan berupa kekerasan fisik dan eksploitasi seksual.

Menurutnya, data yang ada bukan berarti jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak serta trafficking di NTT rendah. Sebab masih banyak kasus yang serupa yang belum terungkap  atau tidak diadukan ke P2TP2A, pasalnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di NTT  ibarat fenomena gunung es.

“Masih banyak kasus yang belum terungkap atau tidak diadukan ke P2TP2A, karena belum banyak masyarakat yang mau mengungkapkan kasus ini ke publik atau melakukan pengaduan pada lembaga-lembaga terkait,” paparnya.*** (AVI)

 

 

Baca Juga :  23 Mei Final ke-2 Pilkada NTT, Megawati atau Prabowo Jadi Presiden?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here