11

 

Moral-politik.com. Dunia tulis menulis telah ditekuni oleh Zara Zettira Zainuddin Ramadai sejak masih di bangku Sekolah Dasar. Kini namanya dikenal sebagai salah satu penulis senior di Indonesia.  Karya-karyanya sangat dikagumi oleh banyak orang, terutama remaja.

Wanita yang akrab disapa Zara ini memang memiliki bakat menjadi seorang penulis sejak kecil. Ternyata, pekerjaan yang telah melambungkan namanya itu sempat juga ditentang oleh keluarganya. Pekerjaan menjadi seorang penulis itu, di mata orangtuanya bukanlah sebuah pekerjaaan yang menjanjikan.

“Sebenarnya kalau papa gue sih dulu dukung-dukung aja, tapi dulu yang nggak setuju itu mama dengan alasan kalau jadi penulis itu nggak menjanjikanlah pokoknya. Kalau untuk hobi-hobi saja sih, mama setuju,” katanya kepada Perempuan.com saat ditemui di Pondok Indah Mall 2.

Walau sempat mendapat tentangan dari ibundanya, namun tidak menyurutkan semangatnya untuk menulis. Dia mengakui, sejak SD itu dirinya sudah membuat cerpen tentang percintaan. Semasa kecilnya, perempuan keturunan Jawa, Minang dan Tionghoa ini mengaku sejak kecil tergolong orang yang kuper.

“Gue itu orangnya kuper, setiap hari itu nggak ada kegiatan, ke rumah teman disuruh bawa ke rumah aja dan nggak bisa kemana-mana. Jadi kalau di rumah itu selalu dengarin orang ngerumpi. Nah dari situlah karena gue selalu dengerin gitu jadi kesereplah di otak gue dan gue tuangkan dalam tulisan, “kata Zara yang pernah menjadi juara kedua cerpen majalah pada kelas enam SD.

Bakat menulis yang telah ia milik ternyata memberikan peluang besar untuk Zara, terbukti saat di bangku SMA kelas satu, Zara sudah bekerja di agency sebagai copywriter. Ia bekerja untuk membuktikan kepada sang mama kalau dunia menulis itu juga memiliki masa depan.

“ Ya pulang sekolah aku langsung ke tempat kerja. Tapi ya itu, walaupun gue telah menunjukan tentang pekerjaan, tapi tetap saja mama ingin anaknya punya  titel sarjana. Jadi setelah lulus SMA, gue kuliah dan dapat gelar sarjana,”ungkap lulusan Psikologi Universitas Indonesia.

Setelah resmi menyandang gelar sarjana, akhirnya ia diberikan kesempatan kepada sang mama untuk memilih pekerjaan yang kini ia geluti. Karena Zara menilai, permintaan mamanya untuk ia menyandang gelar sarjana telah terwujud.

Kurang lebih sepuluh tahun Zara menulis novel tentang percintaan,  dirinya pun merasa bosan dan ingin mencoba hal baru. Pada saat dirinya merasa jenuh dengan tulisan, Zara pun mendapat beasiswa untuk belajar tentang perfilman di USA. Kesempatan belajar perfilman itu dimanfaatkan Zara untuk mengembangkan karirnya tak hanya pada sastra saja, melainkan juga dunia perfilman.

Baca Juga :  Penyelamatan Anak Indonesia dari ancaman narkoba

“Jadi beasiswa itu khusus penulis-penulis yang sudah punya karir bagus di negaranya, dan diberi kesempatan untuk belajar perfilman di UCLA Extension Los Angeles, Amerika. Gue memutuskan untuk belajar tentang perfilman karena pada saat itu  tv-tv swasta sudah berkembang. Nah setelah selesai belajar dari Amerika aku dikenalin sama Pak Ram Punjabi. Dari situlah mulai buat sinetron judulnya Janjiku,” katanya.

“Walaupun beda banget ya yang biasanya nulis novel terus berlaih ke sinetron tapi pokoknya apa yang masih berhubungan dengan dunia tulis menulis kayak penulis skenario, atau copywriter gue jalanin,” sambung Zara.

Sinetron Janjiku yang pertama ia buat, ternyata terinspirasi oleh sosok yang ia kagumi yaitu Paramita Rusady. Film Janjiku yang pernah mendapat rating terbagus itu membuat nama Zara kian melambung di dunia perfilman.

Dua tahun belakang ini Zara yang baru kembali dari Kanada, dirinya mendapat tawaran sinetron striping yang mana ia harus ekstra keras untuk membuat skenario yang jangka waktunya sangat pendek sekali. Sehingga pada akhirnya dia memutuskan untuk lepas tangan dalam menulis striping.

“Di Kanada itu aku weekly masih sering buat skenario FTV, nah pas saat kembali dari Kanada, itu zamanya sinetron striping, ya udah aku coba dan buat film judulnya “Mawar Melati”.  Itu sehari aku tuh buat skenario untuk dua episode, kebayang kan gimana capeknya. Jadi pas saat itu aku bilang ke produsernya, mending loe cari penulis baru, gue mau berhenti,” cerita Zara yang mengaku sebagai orang pertama yang mencetuskan nama FTV.

Bila disuruh membandingkan menulis novel dengan menjadi penulis scenario, dirinya menjelaskan bahwa menulis novel itu merupakan sebuah kebebasan sedangkan menulis skenario sinetron itu sebuah tuntutan.

“Menulis novel itu sesuai dengan apa yang kita mau, jadi ide dan inspirasi yang aku tanam bisa dituangkan dalam novel. Sedangkan kalau menulis sinetron itu tidak semuanya dengan apa yang aku inginkan, kita mesti kompromi dulu sama produser,” ungkapnya.

Perempuan kelahiran Jakarta 5 Agustus 1969 ini ternyata adalah mantan model majalah remaja. Dirinya yang harus berpose di depan kamera , bukanlah keinginannya. Justru menurut Zara profesi itu sangat membosankan tidak sesuai dengan karakter dirinya.

“Itu mah kerjaan teman-teman aja yang iseng, masuki foto-fotoku. Jadi model itu gimana yah, baru datang dimake-up dulu, terus nunggu jadwal pemotretan. Padahal cuma nunggu difoto doang, bagiku tidak produktif banget. Mungkin kalau jaman sekarang fasiltas sudah banyak, ada HP, internet, jadi kalau nunggu pemotretan tidak membosankan,” kata Zara.

Di balik dunia model yang ia geluti, walau hanya sebentar, namun dari situlah dirinya bisa mengembangkan sayapnya sebagai penulis. Bens Leo lah orang mengenalkan Zara ke orang-orang media. Dari situlah Zara akhirnya mendapatkan kesempatan menjadi seorang jurnalis. Walaupun hanya bersifat magang tetapi ia mendapat cukup ilmu di situ.

Baca Juga :  Politikus PDIP inginkan Pendidikan Agama di Indonesia dihapus, mengapa?

Bila ditanya bagaimana Zara mendapatkan ide dan inspriasi yang cemerlang menulis sebuah novel, dia pun menjawab kisah-kisah yang pernah ia tulis itu merupakan sebuah kejadian sehari-hari. Banyak hal yang terjadi di depan matanya lalu ia kembangkan ke dalam cerita fiksi.

“Apa yang ada di depan gue itu gue serap di dalam otak gue. Jadi di otak gue itu sudah ada beberapa bagian yang sudah ada di otak gue. Untuk membuat novel yang banyaknya kurang lebih 350 halaman gue tuh harus duduk, ngetik dengan suasana yang tenang dan nggak berhenti,  paling kalau berhenti kalau mau ke toilet, makan atau hal apa lah, tapi kayak alat komunikasi gue matiin. Itu biasanya gue selasaikan selama 6 sampai 7 hari namun itu untuk ngetik saja kalau proses untuk dapat idenya mungkin bisa sampai satu tahun,” ungkap penulis fleksible ini.

Dari sekian banyak tulisan berupa novel-novel ada sebuah buku yang paling bermakna baginya yaitu “Cerita Dalam Keheningan”. Buku itu ia tulis di saat dia harus menjalani pengobatan.

“Itu gue tulis saat gue ada di rumah sakit di Australia, itu merupakan sebuah bagian dari cerita hidup gue, segalanya gue tuangkan dalam novel yang gue buat dalam dua bahasa yaitu Indonesia dan Inggris.

Satu sisi yang mungkin belum banyak orang tahu, sosok Zara yang sebagai penulis, tapi siapa yang mengira bahwa perempuan yang dulu dikenal sangat kuper ini ternyata juga menguasai banyak masakan.

“Gue masak tuh jago, semua masakan itu gue bisa. Ya itu bagaimana gue nggak hafal masakan,  sejak kecil itu gue itu nongkrong sama nenek di dapur jadi bumbu dapur tuh tahu gue. Perkedel, nasi kuning itu andalah gue. Dan di Kanada itu gue punya catering jadi orang-orang sana itu senang sama masakan gue, kayak nasi kuning ama perkedel,” ucap perempuan yang pernah ikut sekolah chef.

Selama di Kanada Zara lebih banyak menghabiskan waktunya bersama kedua anaknya Alaya Zsemba (17) dan Zolti Zsemba (12) dengan melakukan berbagai kegiatan seperti snowboarding.

“Wah gue sama anak-anak itu hobinya macam-macam, tetapi kalau lagi sama anak-anak gue suka diprotes. Kalau anak gue main atau les snowboarding itu gue nggak boleh ikut-ikutan, ya sudah kalau gue ambil les snow ski. Emang dasarnya gue nggak bisa diam, terus bengong, jadi apa yang dilakuin anak gue, ya gue ikutan,” tandasnya.

Baca Juga :  David Beckham Akan Buka Tawaran Lelang Rumah Rp638 Miliar

Sekarang, Zara harus rela meninggalkan anak-anaknya di Kanada, dan memilih kembali ke Indonesia untuk karirnya. Kembalinya ia ke Jakarta  tidak lantas membuatnya lupa untuk memberikan perhatian kepada anaknya. Dalam setahun, mungkin dalam beberapa bulan, ia harus bolak-balik ke sana.

“Gue memang sengaja nggak bawa anak-anak ke Indonesia. Soalnya pertama, anak-anak mau ke Indonesia, kalau gue tinggal di Bali. Yang kedua, mereka sudah betah di sana. Gue nggak perlu khawatir ninggal anak-anak di Kanada, soalnya dari kecil saja mereka sudah mandiri dan di sana itu kontrol sosialnya bagus banget, seperti pendidikannya,” tegas Zara.

Sebenarnya Zara sempat khawatir ketika harus meninggalkan kedua anaknya di Kanada. Pasalnya Zolti adalah karakter anak yang terbilang indigo. Keanehan itu sudah terlihat sejak Zolti berada di bangku sekolah. Dengan penuh kasih sayang ia pun terus merawat dan menjaga dengan benar, hingga Zolti tumbuh dewasa.

Anaknya kini telah memilih arah tujuan untuk pendidikannya, anak pertamanya ingin sekali mengambil jurusan Psikologi di Australia, sedangkan anak keduanya ingin menjadi palentologis. Dengan begitu Zara tidak perlu khawatir untuk pendidikan anaknya.

“Gue sekarang tidak perlu khawatir, yang gue pikirin sekarang gue nyari duit buat pendidikan anak. Meskipun dulu gue sempat khawatir sama si Zolti soalnya dia dulu paling nggak betah banget kalau di sekolah. Bayangin, 5 menit saja dia sudah paham semua pelajaran yang diajarin gurunya,” katanya.

Disinggung soal karir perempuan pada umumnya, Zara menilai bahwa perempuan sekarang, sudah terjerumus dengan adanya emansipasi salah kaprah. Karena banyak menyimpang dari sebuah kodrat perempuan, walau tak dipungkiri perempuan sekarang lebih pintar.

“Tidak semua perempuan yah, namun gue melihat banyak perempuan lewat dari jalurnya. Sebagai contoh dari hal rumah tangga saja, jarang banget perempuan yang mengurusi suaminya kayak buatin kopi, setrikain bajunya. Yang paling sebel itu kayak pas naik pesawat gue sering banget nemuin ibu yang tidak bisa mendiamkan anaknya menangis, justru malah baby sisternya yang bisa buat anak itu tenang. Itu kan sama saja ibunya tidak pernah mengurusi anaknya,” jelasnya.

Jadi bagaimana pun Zara yang juga seorang perempuan, yang menjadikan menulis sebagai hidupnya mengharapkan agar perempuan sekarang jangan terlalu lewat dari jalurnya, meskipun peluang perempuan untuk meraih sebuah kesuksesan semakin terbuka lebar. (Jun)

 

Sumber: Perempuan.com

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

+ 40 = 48