Home / Sastra / Alkisah Liar Tiga Hari Anak Kos

Alkisah Liar Tiga Hari Anak Kos

Bagikan Halaman ini

Share Button

7

foto: ilustrasi

Cerpen Januario Gonzaga

 

hari pertama; siang hingga sore

Moral-politik.com. Mereka keluar sebelum aku masuk. Tepat di pintu tacu dan konfor cengar-cengir. Dikira aku akan menangis lagi karena mereka tidak diapa-apakan. Ini semua karena aku mau menjadi orang kuat. Wanita perkasa sering dipuji sejak zaman Israel Kuno. Baca saja Sarah dalam kitab Kejadiannya Nasrani. Dia istri Abraham yang disanding sebagai ibu kaum beriman. Nabi Elisa pun banyak disegani. Lalu Maria, Bunda Yesus yang mendapat tempat istimewa dalam sejarah keselamatan. Karena itu aku bukan Fany apalagi Geisha yang cerewet sampai detik ini.

“He…he…lagi on air ko?”

“Iya…iya lah. Masa bete terus”.

Istilah on air dan bete memang asing. Tapi sudah biasa. Bahasa asing gengsinya tinggi. Basah-basah mereka menangkap aku on air tak karuan dua hari ini. Mengkhayal bodo-bodo begitu. Sebenarnya mereka juga. Tetangga-tetanggaku, si Mery, Fany terus Geisha. Tapi, itulah wanita suka malu pada rahasia yang memerah rona. Lebih-lebih kalau irama dalam tacu sudah sunyi. Rahasia apalagi kalau bukan lagi kerek. Maka pancinya jadi sasaran. Terus-terus dilumat api dari konfor dengan minyaknya yang mungkin sudah dicampur dengan air. Jenis apa yang dimuat aku sudah tahu. Tahunya dari bunyi yang keluar dari perut mereka. Kalau bunyi plong-plongan itu baik. Kalau bunyi pleng-plengan tanda mereka baru ngos-ngosan dengan sepiring bubur.

“Hebat…malam ini kita pasti kenyang lagi,” nada tetangga kosku, Mary optimis.

“Jangan dulu pikir itu. Lihat tugas apa besok,” aku membantah malu-malu.

“Wi…belajar buat apa. Dosen killer itu membosankan.”

“Welewele, ini anak, lu mau datang sekolah ko, mau malas-malas?”

Ramai. Hanya itu pengganti gelinding gorengan yang tak lagi naik tacu. Kalau tidak pasti kami bertengger sambil menunjuk-nunjuk ikan nipi dan teri. Tapi jarang. Kalau pun ada, kami pasti makan sampai melupakan si pemberi, Tuhan.

Lebih lagi rasa kasihan pada Roby. Dia anak kos depan yang punya banyak teman tetapi sama kanker (kantong kering)-nya. Kami yang lancar kiriman uang saja harus mati-matian hemat, apalagi dia. Kami menyuruh Rony memanggilnya. Dia datang dengan lagak kucing kebasahan. Selera humornya entah ke mana. Mungkinkah makanan menjadi satu-satunya alasan untuk hidup?

“We, dari mana ikan enak bagini,” kata Roby saat makan.

Baca Juga :  Cinta Terajut di Tempat Seram

“Tau to, dari sapa lai kalo bukan dari orang pung sayang a”.

Nah ini lagi satu kata yang kelak membawa ringis-ringisan di banyak kamar kos. Kata itu, sayang. Kalau boleh cerita, ya Nona misalnya. Agus entah kenapa menghamilinya di saat mau ujian tengah semester. Berita heboh ini tidak lagi heboh kalau didengar anak-anak seperti kami. Serangan jantung mungkin milik ortu (orang tua) di kampung. Kalau di sini ya dimaklumi saja. Istilahnya mau sama mau. Sialnya, orang-orang seperti itu mudah ketagihan. Itu semua karena bermula dari kata-kata mesra  seperti celetuk Fany tadi. Orang bukan sayang seperti ketika menyayangi cinta pertama, tetapi karena cinta pada tubuh. Maka keenakan mendengarnya akan menyeret juga orang kepada kesetanan, mengerayang. Kami menghabiskan waktu santai di ujung sore. Sebuah jam makan siang yang relatif waktunya. Setelah itu kami sontak dengan ulahku memikirkan tugas dosen yang akan dikumpul besok.

 

hari kedua; pagi hingga siang

Murid dijengkeli guru. Di mana lagi harus search file-file itu. Kenapa saya bisa lupa menyimpannya di flash. Ah bodoh, flash juga kan sudah kena virus Trojan.

“Lu omong batul, itu dosen memang sonde menarik. Muka su buruk, tambah jahat lai, suka kasi tugas, pung parah lai,” Mery datang dengan comelan.

“Mampos. Makanya main mata sadikit to dengan dia,” Fany menyumbang jurus jitunya.

“Be rasa a. Pikir be ke lu ko?” Mery protes sambil mencibir bibir centengnya.

Tapi sudah lima belas kali paper yang sama. Salahnya selalu ada saja. Malu juga ngemis terus sama komputer teman. Lebih lagi punyaku. Tanda baca rumitnya minta ampun.

“Mana dong bilang be plagiator,” amukan Santy lebih dahsyat dari kamar sebelah.

Kata plagiat seperti sudah jadi sukanya dosen. Padahal mereka sendiri yang banyak plagiat sana-sini, buat diktat, modul, suruh beli. Padahal kalau browsing internet semua sudah di sana. Apa ini sebuah tradisi, seperti yang dulu diceritakan oleh kakak-kakak senior. Ah, pendidikan ini memang terlalu mahal untuk orang sekecil kami. Pantas saja sejak dulu teman-teman dari kampung lebih memilih menikah daripada bersekolah. Di sini banyak yang doyan mengarang istilah. Mulai dari tugas, paper, makalah, presentasi, toh semua itu tak numpang satu juga di kepala. Uang lari semua ke buku-buku yang sebenarnya hibah gratis dari pemerintah. Uang menumpuk di rental karena foto kopi buku yang terbatas di perpustakaan. Alamak, Indonesia, Indonesia.

Baca Juga :  Puisi: Mimpi Kian Jadi Nyata

“Lu ketik ulang sa…mumpung masih satu minggu,” tawar Fany kemudian.

“Katong yang lain ikut bantu ju,” Roby ikut-ikut usul.

Syukur punya banyak teman. Memang kuliah di kota jangan hidup menyerupai orang-orang kota yang suka kurung diri di rumah berpagar besi runcing 1½ meter. Lalu utak-atik HP, TV, komputer, game, kasi makan ikan, anjing, burung. Pokoknya orang bilang hidup mereka linera saja. Kalau bukan di rumah, di kantor. Kalau bukan di depan TV, di kamar tidur. Hanya saja perlu waspada. Terkadang terlalu friendly sampai kamar berubah sebagai tempat birahi. Tidur berdua, bertiga, berempat, sampai berkebo. Itu yang buat saya lebih suka pintu kos selalu terbuka. Siapa boleh masuk tanpa ada affair dan gosip.

Akhirnya selesai juga tugas kami. Lalu menghadap dosen biasalah kalau mahasiswa menghadap dosen serupa cerita paduka dan hamba zaman kerajaan Majapahit. Makanya polesan mimik menentukan sekali. Padahal mereka tidak tahu kalau kami sedang munafik. Hanya beda dosen yang gelarnya ditempel di belakang dan depan nama ini. Urusan teleti susah lolosnya. Urusan akademik sangat menentukan sampai segala hal diformal-formalkan. Makanya, banyak orang susah berkonsultasi, sharing, berbagi ilmu sebagai orang tua dan anak. Padahal hakikat pendidikan lebih seperti rumah pengetahuan.

“Apa?” serempak mulut kami berteriak sambil meneteng kertas-kertas A4 di tangan.

“Kerja ulang!” dengan enteng dosen itu keluar sambil memutar-mutar kumis tipisnya.

“Ah persetan,” begitu teriak Mary.

“Lupakan saja dosen itu. Malming (Malam Minggu) begini enaknya pesta,” tawar Fany.

“Iya…betul…,” sekedar membalut kekecewaan, kami akan menikmati week-end bersama.

 

hari ketiga; malam hingga pagi

Sudah kami menelinga bunyi dari tenda biru. Jadilah pada tuan pesta apa yang tak disangka-sangka. Tapi biasa istilah gantung periuk sudah lebih duluan diketahui orang.

“Kenapa buru-buru?” saya menyela Ima di lorong pesta. Saat itu saya sedang dugem.

“Ada yang tunggu,” jawab Ima sambil menunjuk sesosok bayangan di kegelapan sana.

Taulah saya kalau si Ima mau keluar Malming. Trend ini sudah merebak di sepanjang rute kos. Sampai-sampai ibu kos kewalahan mengeluarkan peraturan yang bunyinya selalu sama. Tidak boleh keluar malam. Tapi sekarang mereka sudah bukan saja tamu. Persis seperti di Kota Korintus saat Santo Paulus menyindir umat amoral itu.

Baca Juga :  Noah Konser di hadapan 10 ribu warga Kota Kupang

“Di mana Loni?” tanyaku heran.

“Ah…cari saja di mana Beni,” Fany seperti selalu menyiap jawaban penasaran.

“Oh…,” anggukan disertai ceringis-ceringis kecil selalu menghanyutkan juga imajinasiku. Siapa pun langsung berpikir ke sana. Mungkin dari sanalah banyak orang terinspirasi membuat humor-humor yang luas beredar di inbox HP-HP. Humor selera rendah yang hanya bisa menjadi humor kalau dikaitkan dengan alat kelamin. Imbasnya malming kemarin kos-kos kosong. Mungkin virus kata-katanya sudah memekat di kepala sisa ditumpahkan saja. Ada yang ditumpahkan di rumput-rumput sehingga ditangkap, dan disel. Ada yang di pantai sambil berenang. Ada lagi yang asyik menyamar sebagai pencinta alam di gunung-gunung.

“Kita pulang e. Sudah tengah malam. Besok hari minggu,” aku membujuk mereka.

“Apa itu hari minggu?” ini lagi pertanyaan sekelas ujaran Nitzsche bahwa Tuhan sudah mati.

Coba hari Minggu-nya di hari Senin pasti asyik. Karena sudah wajib hari Minggu sesudah Sabtu, maka yang keluyuran menjadikannya hari istirahat. Katanya capek semalam suntuk tidak tidur. Entah di mana mereka bercampur.

“Bagaimana Mery, ko bisa hidup terus begitu?” kami duduk saat saya bertanya.

“Bisa. Kan sembunyi-sembunyi. Hanya takutnya kalau nanti keluar anak,” kalau omong anak seperti ini padat tafsirnya. Anak yang dilahirkan di bawah tempat tidur, disekap mulutnya supaya aib dihindari. Atau yang di buang ke kloset supaya tidak ketahuan tetangga. Anak yang dilahirkan di kampung dengan bantuan dukun lalu dibuang ke sumur. Anak yang dilahirkan tanpa tangisan karena sudah menjadi daging mentah yang busuk. Pokoknya nasib anak-anak malang ini hanya bisa ditebus saat laknat kiamat.

“Tapi kapan kamu begitu Noni?” Tiba-tiba Fany ikut ngerocos saya.

“Nanti aja, asalkan sudah ada janji,” saya suka menjawab janji. Lebih berbau komitmen.

Acara belum ditutup dengan kami pulang. Sampai di kos hampir dini hari. Besoknya hari Senin sudah banyak tugas menumpuk. Tapi hari ini Minggu. Saya mau ke mana?

 

 

 

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button