Home / Sport / Antanika Bete Lakukan Pemalsuan Sertifikat Tanah

Antanika Bete Lakukan Pemalsuan Sertifikat Tanah

Bagikan Halaman ini

Share Button

5

foto: ilustrasi

 

Moral-politik.com. Saya mewakili keluarga bahwa Antanika Bete telah membuat dan mereyakasa sertifikat tanah milik kami di desa Silawan atas nama dia, dimana pada tahun 1999, Nenek saya yang bernama Welem Moruk beritahu dia dan suaminya Endik Fuin hanya tinggal sementara. Sejak suaminya Endik Fuin dan Nenek saya Welem Moruk sudah meninggal, kaget-kaget kami dengar bahwa dia sudah punya sertifikat tanah. Dia bilang bahwa om saya yang bernama Benyamin Taek yang suruh dia urus sertifikat tanah. Anehnya lagi, Sius Salton sebagai petugas Agraria pergi ukur tanah kasih dia, dia dan Sius Salton tidak beritahu kami. Aparat Desa setempat tidak tahu, bahwa Sius Salton ada urus sertifikat tanah kasih dia. Atas isin siapa, dia dan petugas Agraria yang bernama Sius Salton nekat ukur tanah dan buat sertifikat tanah tanpa sepengetahuan kami?

Demikian penegasan Felixianus Ali, Koordinator PADMA Indonesia Cabang Atambua yang juga berprofesi sebagai Wartawan dan Sastrawan NTT di sela-sela mengikuti pertemuan antara Benyamin Taek sebagai pemilik tanah dengan Antanika Bete sebagai pelaku pemalsuan sertifikat tanah yang disaksikan langsung oleh keluarga besarnya Benyamin Taek dan RT/ RW, Dusun dan Dato, di Desa Silawan, Minggu sore (28/7/2013).

Dalam pertemuan tersebut, Antanika Bete tidak mau mengakui kesalahannya. Malahan Antanika Bete bersikeras bahwa Benyamin Taek sebagai pemilik tanah tidak boleh memberikan tanah itu kepada adiknya Loni. Dan ketika ditanya Benyamin Taek tentang status kepemilikan tanah, Antanika Bete tidak berkata dan mengakui kesalahannya.

“Akhirnya Antanika Bete mengakui kesalahannya. Sangat lucu, om saya Benyamin Taek memberikan hak tanahnya kepada adiknya yang bernama Loni, kok Antanika Bete melarangnya. Kapasitas Antanika Bete tuh sebagai apa? Hubungan darah pun tidak ada. Buat malu-malu saja, kami sudah kasih kau kesempatan untuk tinggal sementara, makan sementara dari tanah kami, tidur sementara di atas tanah kami, dan berak di atas tanah kami, kau urus sertifikat tanah tanpa sepengetahuan kami. Kau mengerti tidak, kalimat hanya tinggal sementara. Ini namanya pemalsuan sertifikat tanah. Lebih lucu lagi, kau minta ganti rugi sebesar Rp 50 juta. Kami juga tuntut ganti rugi, karena kau dikasih tinggal sementara di atas tanah kami, kau malah lupa diri. Semua masyarakat Silawan tahu, bahwa tanah itu adalah hak miliknya kami. Mereka semua mendukung kami, karena kami tidak suruh dia buat sertifikat tanah. Kasus pemalsuan sertifikat tanah ini, Kades Silawan Ferdi Mones bersama jajarannya sudah tahu tapi pura-pura tidak tahu. Ada indikasi bahwa Kades bersama aparat desa, RT/ RW, Dusun dan Dato mau menarik keuntungan dari kasus ini dengan cara mempersulit kami. Jika kasus ini tidak diselesaikan, kami selaku pihak korban mau melapor ke pihak Kepolisian. Karena telah terjadi pemalsuan sertifikat tanah yang dibuat oleh Antanika Bete dan dibantu oleh Sius Salton. Mantan Kades Yosep Untung pun harus bertanggung jawab, karena waktu itu Yosep Untung masih menjabat sebagai Kepala Desa Silawan. Saya minta Bupati Belu, Wakil Bupati Belu, Sekda Belu dan Kepala Badan Pertanahan/Agraria Kabupaten Belu, agar membina dan menegur Sius Salton. Sebab, akar permasalahan ini ada di Sius Salton,“ tegas Felixianus Ali. (Felix)

Baca Juga :  42 rumah di Kota Kupang rusak diterpa angin kencang

 

 

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button