Home / Sport / Batu Permata TTU, Antara Mimpi dan Kenyataan (1)

Batu Permata TTU, Antara Mimpi dan Kenyataan (1)

Bagikan Halaman ini

Share Button

sarwo 1
Moral-politik.com.  PULAU Timor, lazimnya dikenal sebagai tanah yang kering kerontang, penuh dengan bebatuan yang sulit ditumbuhi aneka tanaman. Kecuali tanaman tropis tertentu yang bisa bertahan hidup, terutama di musim kemarau yang panjang.

Lantaran kondisi itulah, Timor yang adalah bagian dari keutuhan Provinsi Nusa Tenggara Timur, sering diplesetkan sebagai Nusa Tetap Tertandus, meski banyak penelitian yang membuktikan Timor kaya akan berbagai potensi yang tak kalah menariknya.

Potensi alam yang selama ini dikenal luas hanyalah cendana, gaharu dan ternak serta jagung. Tapi,  itupun kadang menimbulkan kecemasaan akan keberlangsungannya di masa yang akan datang atas tanda-tanda kepunaan yang ada, dan ada sepanjang masa.

Beberapa tahun terakhir, para pebisnis dari berbagai daerah bahkan negara lain bagaikan Belalang Kembarra menyerbu seantero Timor mencari batu yang mengandung unsur mangan dan kandungan kimia ikutan lainnya, lalu melakukan eksplorasi besar-besaran terhadap pecahan batu mangan. Berbagai manuver kekuasaanpun ikut bermain dalam menggeroti kekayaan alam tersebut hingga akhirnya menibulkan berbagai kerusakan alam akibat eksplorasi kekayaan alam tersebut ke daerah lain dan atau negeri lain tanpa kendali, -yang penting masuk “saku”.

Jauh sebelum eksplorasi batu mangan asal Timor, di beberapa titik di pulau ini terdapat sejumlah perusahaan yang melakukan ekplorasi batu marmer. Beberapa gunung yang diyakini kadungan batunya mengandung marmer dibabat gundul oleh mesin-mesin pemotong batu marmer, kemudian dieksplorasi ke daerah maju untuk kemudiaan diolah menjadi berbagai produk marmer yang mahal harganya, termasuk NTT sebagai daerah pemasaran produk-produk marmer, padahal NTT termasuk daerah pengsuplay bahan baku.

Para pengusaha industri marmer serta para penguasa pemberi ijinpun tersenyum lebar  atas berbagai keutungan langsung yang diterimanya setiap periode usaha dari bahan baku, kekayaan alam pulau yang kering krongtong bebatuan ini. Tapi itulah kondisi yang sedang hadapi dan akan terus kita hadapi, meski kita kaya potensi alam tetap saja kita hanya jadi pekerja pengumpul di negeri kaya 1001 batu ini.

Baca Juga :  Polda NTT terus proses kasus pemblokiran Bandara Turelelo

Salah satu jenis batu yang secara sporadis ada di pulau ini adalah jenis batu permata, yang kualitas unsur granitnya yakni Fe (logam) cukup tinggi. Akibatnya, para pebisnis batu permata di dunia selalu melirik batu permata asal Timor, khususnya asal Kabupaten Timor Tengah Utara yang konon diceritrakan sudah mulai dilirik sejak akhir tahun 70-an.

Raden Sarwono, direktur CV Sarwo Star, sebuah lembaga usaha kecil yang tekun melakukan produksi batu permata asal TTU, ketika ditemui di sela-sela aktivitasnya di kompleks Kaka Tua, Kefamenanu mengaku, salah satu  potensi TTU yang selama ini cukup menglobal adalah potensi batu permata, yang secara sporadic ada di sepanjang wilayah TTU ini.

“Batu permata asal TTU sudah dikenal global melalui berbagai promosi dan pameran yang sering kita ikuti di berbagai negara,” ungkap Sarwono sambil memperlihatkan berbagai koleksi batu permata yang ada di tokonya serta beberapa kali diikutkan dalam berbagai even promosi dan pameran baik di tingkat nasional maupun internasional.

Menurut Sarwo, batu permata TTU memiliki keunggulan khusus, bahkan menurut Sarmo Hariyanto, penulis publikasi geologi nasional, termasuk batu endapan purba, dimana kualitas granitnya berupa Fe (logam) cukup tinggi sehingga selalau memiliki kekhasan warna (merah dan kuning meninjol) dan aneka gambar terdapat di dalamnya.

“Dari berbagai pengalaman dalam mengikuti berbagai ekspo di luar negeri baik di Kalivornia, Australia, Belanda dan berbagai negera di Asia, batu permata asal TTU ini cukup bersaing, karena diminati oleh banyak kalangan dunia, terutama bagi masyarakat pencinta dan penikmat produk-produk batu permata. Setiap kali kali kami ikut pameran pasti, banyak yang terjual baik berupa produk jadi, setengah jadi mapun bahan mentah. Paling-paling kita bawa pulang koleksi-koleksi yang memang tidak dijual, khusus untuk dipamerkan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Bupati Sumba Barat telah diperiksa Kejari Waikabubak

Soal penghasilan, sekali mengikuti pameran, Sarwo kelahiran Jawa yang sudah cukup makan asam garam di TTU ini mengatakan, puluhan juta pasti dikatongi dari berbagai penjualan hasil kerajianan baik berupa cincin permata, gelang, kalung, souvenir, fosil kayu, fosil laut dan lain sebagainya. Hanya saja, tidak ingin menyebut kisaran angkanya.
“Tapi yang jelas, banyak yang terjual dan hasilnya pun sangat memuaskan,” ungkapnya saat ditemui di jl Kemiri No 5, Kefamenanu. (Damian Kenjam/ bersambung)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button