Home / Sport / Batu Permata TTU, Antara Mimpi dan Kenyataan (2)

Batu Permata TTU, Antara Mimpi dan Kenyataan (2)

Bagikan Halaman ini

Share Button

sarwo 1
Moral-politik.com.  Sarwo Star CV, untuk kalangan masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Timur, tampaknya tidak begitu asing. Nama Sarwo Star sudah cukup dikenal luas, terutama memasuki tahun 1990-an, jaman kepemimpinan Gubernur NTT, Herman Musakabe dan kepemimpinan Gubernur Piet A.Tallo.

Selain kedua gubenur NTT ini memiliki hoby khusus koleksi cicin batu permata, juga lantara keserius dari lembaga (usaha kecil) ini dalam mengolah kekayaan alam, batu permata asal Kabupaten Timor Tengah Utara dalam berbagai produk kerajinan  dan mempromosikan kekayaan tersebut ke tingkat regional, nasional maupun internasional. Berbagai even promosi telah diikuti baik di tingkat provinsi, nasional maupun tingkat internasional.

Direktur Sarwo Star CV, Raden Sarwono di ruang kerjanya mengisahkan, dirinya mulai melirik batu permata asal TTU sejak tahun 70-an, ketika ia masih menjadi kontraktor. “Tahun 1976 saya mulai selidiki, dan ternyata hasilnya bisa bersaing dengan batu permata asal Singapura, dimana batu permata Singapura jenis prisauss (permata), sedangkan batu permata TTU semi prisaus atau semi permata. Artinya, batu permata asal TTU masuk kelas2,” tandasnya.

Lantaran itu, sejak tahun 1987, Raden Sawarno mulai menggeluti usaha kerajinan tersebut. “Jadi sejak saat itu saya mulai lakukan usaha ini namun masih secara manual dan dalam jumlah yang terbatas,” kisahnya mengenang kembali tahun-tahun awal memulai usaha ini.

Namun karena tekad untuk memperkenalkan potensi TTU ini, pihaknya terus mengembangkan usaha ini dengan mendirikan sebuah industri kecil yang berkembang hingga saat ini dengan menyedot tenaga kerja. “Saya patut berbangga, karena dari semua pengrajin di Indonesia salah satu industry kecil (pengrajin batu permata) yang memiliki ijin resmi adalah Sarwo Star, walaupun luas tambang 1-2 ha saja,” ungkapnya.

Baca Juga :  Angkot Kefamenanu Beroperasi Kembali

Dia menjelaskan, selama ini pihaknya membina sejumlah tenaga kerja di loksi tambang di Desa Nian-kecamatan Miomaffo Tengah, 10 km dari kota Kefamenanu, Jurusan Eban, Miomaffo Barat, dengan lokasi tambang di perbatasan antara Desa Nian dengan desa Niola, kecamatan Bikomi Selatan dan Desa Banfanu kecamatan Noemuti.

Di lokasi tersebut selain dilakukan pengumpulan bahan mentah, juga dilakukan pengolahan setengah jadi. “Di sana kita juga melakukan pengolahan bahan mentah menjadi setengah jadi, bahkan juga produk jadi. Kita juga melakukan produksi di sini sebagai sentral produksi,” ungkapnya.

sarwo 2

Dia mengisahkan, sejak awal didirikan industry kecil ini, selain berorientasi pada bisnis, pihaknya juga memiliki mimpi untuk mewujudkan lokasi tambang dan sekitarnya menjadi sebuah desa wisata tambang batu permata. Tapi sayangnya,  ide tersebut bagikan mimpi di siang bolong. Tak satupun merespon ide tersebut, termasuk pemerintah kabupaten Timor Tengah Utara, sehingga mimpi itu masih menjadi sebuah angan-angan, -entah sampai kapan jadi kenyataan.

“Pemerintah Kabupaten TTU, kurang responsive dengan pengembangan potensi batu permata di TTU, padahal ini adalah kekayaan yang sungguh luar biasa, yang bisa membawa kontribusi yang besar bagi daerah ini,” ungkapnya.

“Tapi terus terang, sampai saat ini saya masih berharap agar suatu ketika Desa Wisata Tambang Permata” jadi sebuah kenyataan, sehingga memiliki daya tarik tersendiri bagi daerah ini di mata orang luar. Saya ingin promosikan potensi TTU ke dunia, tanpa menggaruk potensidaerah ini keluar,”  ungkapnya.

Menurut dia, dengan konsep desa wisata tambang permata ini, di lokasi tambang permata dibangun unit –unit produksi mulai dari awal proses pengumpulan batu, pemotongan batu, proses pengolahan bahan baku menjadi setengah jadi dan proses finising menjadi produk jadi baik berupa cincin, kalung, sovenir dan berbagai jenis produk lainnya.

Baca Juga :  Bunda PAUD TTU Janji Perjuangkan Insentif Tutor

“Ini berarti, kita tidak sekadar menggaruk kekayaan alam TTU lalu membawanya keluar, kemudian orang luar yang mengalah dan mengambil manfaat lebih besar dari orang TTU, seoalah-olah kita hanya menjadi pekerja pengumpul permata di tengah kekayaan daerah ini, sedangkan orang lain yang menikmati kekayaan kita seperti praktek pengumpulan mangan selama ini,” ungkapnya. (Damian Kenjam/habis)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button