Home / Gosip / Ecosophi Bagi NTT: Menghutankan Kembali yang Dirusak

Ecosophi Bagi NTT: Menghutankan Kembali yang Dirusak

Bagikan Halaman ini

Share Button

14

Oleh: Fidelis Olin *)

 

Moral-politik.com. Ecosophi bagi banyak orang masih merupakan sebuah topik yang amat asing di telinga, dan kurang populer. Tetapi topik ini sebenarnya sudah muncul tiga puluhan tahun silam.

Ecosophi merupakan sebuah filosofi tentang alam. Eco berasal dari kata oikos (Yunani) yang berarti alam, dunia, rumah, tempat tinggal. Sophi berarti kebijaksanaan, pandangan hidup. Jadi, ecosophi merupakan kebijaksanaan atau pandangan hidup terhadap alam, lingkunagan hidup sebagai rumah atau tempat hidup. Ini menunjukkan bahwa ecosophi bukan sebuah ilmu baru tetapi merupakan kebijakan baru akan lingkungan hidup dan alam sebagai rumah manusia.

Si penggagas aliran filsafat baru ini adalah seorang ilmuwan mashyur berkebangsaan Norwegia, Arne Naess. Ecosophi muncul karena keprihatinan dan kegalauan sang ilmuwan-filosof akan keluhan dan tangisan alam dan lingkungan hidup karena ulah manusia. Dalam ecosophi-nya, Naess membawa telaah harmonisasi ekologi yang berguna untuk mencapai keseimbangan nilai-nilai hidup. Karena itu, Arne Naess dikenang dan dihormati oleh masyarakat negara-negara Skandinavia sebagai pemerhati dan pencinta lingkunagan hidup yang amat terkenal pada abad 20.

Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu daerah provinsi yang dari dulu hingga saat ini masih dikenal dengan statusnya sebagai daerah tandus dan gersang serta kering. Status dan julukan ini memang merupakan kenyataan karena setiap orang yang datang mengunjungi daerah ini akan mengalami dan memiliki kesan yang demikian. Keadaan alam yang pada umumnya terdiri dari bentangan padang rumput dan savana serta kurangnya pepohonan (hutan) memperjelas dan memperkuat status NTT sebagai daerah gersang, tandus dan kering serta panas.

Situasi ini diperparah pula dengan ulah manusianya yang doyan menebas dan membakar hutan dan savana tetapi enggan untuk meremajakan dan menggantikan kembali yang ditebas dan dibakar. Lahan kritis di daerah ini bertambah luas dari tahun ke tahun. Chauvenisme manusia NTT atas alam dan virus spesiesmenya sungguh sudah sangat memprihatinkan. Manusia NTT sepertinya telah dijangkiti penyakit ‘egoisme generasi’, suka memakan habis masa depan dan tak peduli akan kehidupan anak cucunya, sehingga anak cucuna tidak akan kebagiaan kebahagiaan hidup.

Baca Juga :  Kisah lucu banyak anggota TNI tahun ini mudik ke 'Turki'

Akibatnya, daerah ini menjadi tempat yang tak aman lagi bagi penghuninya. NTT sepertinya akan menjadi neraka bagi penghuninya sendiri. Pada musim panas/kemarau suhu semakin meninggi, muncul kebakaran di mana-mana, kegersangan dan kekeringan menjadi momok yang menakutkan. Sedangkan pada musim hujan pun sepertinya tidak bersahabat lagi karena selalu terjadi longsor, banjir badang disertai badai angin topan. Belum lagi terjadi abrasi pantai yang setiap saat terjadi di daerah-daerah pantai.

Yang menjadi pokok persoalan dan menjadi keluhan masyarakat provinsi ini dari waktu ke waktu adalah masalah air. Air bagi masyarakat NTT sepertinya memiliki dua wajah yang amat kontras, yang muncul dalam kedua musim yang dialami di NTT. Pada musim hujan, air menjadi momok dan ancaman serius yang menakutkan yang muncul dalam wajah banjir badang, yang banyak terjadi di daratan Timor dan tanah longsor menjadi langganan daratan Flores dan Sumba. Sedangkan pada musim panas/kemarau, masyarakat di Flores, Sumba, Timor, Alor, Rote, Lembata dan Sabu ramai-ramai menjerit karena kekurangan air dan mengalami kekeringan. Air menjadi barang yang amat langka, sulit dicari, tak gampang diperoleh.

Namun pada dasarnya alam yang keras ‘ini’ tak pernah kikir dan pelit untuk memberikan ‘susu’ dan ‘madu’ bagi penghuninya yang berusaha sekuat kemampuan untuk memelihara, mengolah dan bersahabat dengan situasi yang keras ini. Oleh karena itu, tidak sulit sebenarnya untuk mengatasi persoalan air yang dialami di daerah ini. Tidak ada program mutakhir atau jalan keluar baru untuk keluar dari krisis ini selain program-program di masa lampau, namun tak pernah terealisir. Program ini hanyalah melanjutkan dan membangkitkan kembali kenangan kita akan program-program para pemimpin daerah ini tempoedoeloe, seperti Operasi Nusa Hijau, Gerakan Sejuta Pohon, Gerakan 1000 Pohon untuk Satu Keluarga dan lainnya. Bahwa untuk mengatasi krisis air, kekeringan, panas dan kegersangan daerah ini, hanya ada satu jalan yaitu menanam pohon sebanyak-banyaknya. Gerakan ini tak butuh bermiliar biaya. Sukses dan berhasilnya gerakan ini hanya membutuhkan kesadaran dan kemauan serta komitmen kita untuk mengotori tangan. Gerakan menanam pohon tak butuh acara protokoler serimonial.

Baca Juga :  WNI terpikat ISIS, dari senang hingga kecewa

NTT sebenarnya tidak gersang dan kering serta panas dan tandus, tetapi hanya belum hijau saja. Sebab masyarakat daerah ini masih menganggap bahwa situasi ini adalah nasib yang harus diterima daerah ini, yakni berada di atas batu karang nan tandus gersang dan tak mau berusaha untuk mengubah wajahnya. Kegersangan dan tandusnya NTT merupakan sebuah ajakan bagi masyarakat daerah ini untuk peduli akan tempat tinggalnya sendiri, akan daerahnya. Daerah dan wilayah ini adalah sebuah firdaus yang sedang dan selalu menanti sentuhan semua pihak untuk memoles, merias dan mempercantiknya. Bila wilayah Timur Tengah yang merupakan daerah padang pasir dan gurun tapi memiliki hutan buatan dan terkenal dengan pertaniannya, mengapa NTT yang memiliki tanah subur namun tak mampu menciptakan alam yang menyejukkan? Orang Timur Tengah tentu sadar bahwa pohon dan hutan merupakan penangkal yang amat ampuh melebihi ratusan bahkan ribuan Air Conditioner (AC) demi menyeimbangkan geramnya panas padang gurun.

Nenek moyang orang NTT yang hidup sebelum Arne Naess memiliki ecosophi  yang terungkap lewat berbagai upacara atau ritus penyembahan dan penghormatan terhadap pohon serta adanya Hutan Keramat dan Pohon Keramatyang dijaga kelestariannya dan dilarang untuk dirusakan. Hanya saja generasi sekarang telah melupakannya serta tak mau mengikuti kebijaksanaan-kebijaksanaan itu karena ketamakan dan egoisme yang mengalahkan semuanya. Maka filosofi-filosofi lokal ini patut direvitalisasi demi terciptanya firdaus di daerah ini.

Filosofi lingkungan hidup untuk NTT menurut penulis, hanyalah menghutankan kembali (reforestisasi) yang ditebas dan dibakar serta digunduli dengan menanam pohon sebanyak-banyaknya. Sebab menurut para ahli, menanam pohon mempunyai efek kumulatif; setiap pohon yang ditanam memberikan keuntungan selama bertahun-tahun yang akan datang. Mungkin tak perlu beripikir bahwa dengan adanya banyak hutan, akan menambah pendapatan daerah karena bisa digunakan sebagai komoditi ekspor non-migas. Cukuplah kita puas dengan keutuhan alam dan lingkungan hidup. Inilah yang dibuat oleh seorang Mama AletaBaun dari TTS.

Baca Juga :  Ledakan Bom di Rote Ndao, ini kata Ketua DPRD NTT

Ecosophi, bukanlah sebuah fanatisme dan romantisme Arne Naess dan pencinta dan pejuang lingkungan hidup lainnya atas hijau dan utuhnya lingkungan sekitar, melainkan sebuah kegelisahan dan pembangkitan konsiensitas akan krisis yang dialami alam dan lingkungan hidup yang berdampak buruk bagi manusia sendiri, sekaligus sebagai sebuah harapan bahwa kita belum terlambat untuk menyelamatkan dan memperbaiki kerusakan alam dan lingkungan sekitar. Bahwa alam pada hakikatnya tidak jahat. Alam adalah sahabat yang paling setia bagi manusia. Hanya saja manusia punya ratio sering kali bertindak irrasional sehingga merusakan diri sendiri dan tempat hidupnya.

Bila Arne Naess dengan ecosophi-nya menjadikan Norwegia sebagai negara yang mencintai lingkungan hidup, maka ecosophi-nya masyarakat NTT adalah menghutankan kembali yang ditebas dan dibakar serta revitalisasi penghormatan terhadap kesakralan alam akan menjadikan dan membawa daerah ini, menanggalkan status dan sebutan “Nona Tidur Telanjang”-nya karena kerusakan yang dibuat.

 

*) Penulis Anggota KPU TTU

 

 

 

 

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button