Home / Sport / Inilah Ritus Adat Penghormatan Leluhur Orang Ende: Pa’a Loka

Inilah Ritus Adat Penghormatan Leluhur Orang Ende: Pa’a Loka

Bagikan Halaman ini

Share Button

Pa'a loka di tubumusu woloara

 

 

Moral-politik. com. Secara etimologi, pa’a loka terdiri dari dua suku kata. Pa’a dan Loka. Pa’a dalam bahasa Lio, artinya simpan, menyimpan atau menaruh, meletakkan. Sedangkan loka artinya tempat, lokasi dan tumpah, menumpahkan atau juga membuang. Pa’a loka berarti menyimpan sesuatu di tempat yang telah disediakan, atau  membuang di tempat yang disiapkan.

Pa’a loka berkaitan dengan makanan bagi orang yang telah meninggal atau sesuatu yang dipercaya punya kekuatan gaib. Jadi pengertian pa’a loka adalah memberi makanan (sesajen) kepada arwah orang yang meninggal, atau sesuatu yang dipercaya punya kekuatan gaib.

Ritus seperti ini, terdapat hampir di seantero muka bumi. Tentu dengan nama yang berbeda. Memberi makanan kepada arwah orang yang meninggal atau sesuatu yang dipercaya punya kekuatan gaib, lebih sebagai penghormatan dari orang yang masih hidup. Menghormati para leluhur atau sesuatu yang gaib itu, sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Suku Lio.

Pa’a loka atau pati ka, atau memberi sesajian, merupakan sebuah ritus adat yang berlaku bagi warga Suku  Lio di sebagian besar Kabupaten Ende dan sebagaian kecil di Kabupaten Sikka. Pa’a loka, atau memberi sesajian menjadi salah satu bagian penting dalam setiap peristiwa kehidupan warga Suku Lio, sebagai wujud penghormatan kepada leluhur dan orang yang telah meninggal.

Motivasi penghormatan yang demikian, sebetulnya berlandaskan pada pemikiran bahwa arwah orang yang meninggal, terutama arwah para leluluhur, atau sesuatu yang gaib mempunyai pengaruh yang besar di depan Du’a Ngga’e (Wujud Tertinggi Suku Lio) terhadap orang yang masih hidup. Arwah para leluhur dan sesuatu yang gaib itu dianggap, dan bahkan dilihat sebagai perantara manusia dan Du’a Ngga’e. Selain itu, arwah leluhur dan sesuatu yang gaib itu dilihat sebagai pemberi segala sesuatu yang baik kepada manusia.

Baca Juga :  Sopir Angkutan Kota Kupang Protes Keras Tarif Baru!

Ini menunjukkan orang Lio umumnya, lebih berorientasi pada corak dan model berpikir yang harmonis. Mereka selalu dan senantiasa menjaga harmonisasi hubungan antara dirinya dengan yang lain. Harmonisasi ini mengambil rupa dan bentuk Supra–Human. Artinya, harmonisasi dipengaruhi oleh relasi antara manusia dan sesama, manusia dengan leluhur, manusia dengan alam dan manusia dengan yang hakiki (Du’a Ngga’e). Inilah makna terdalam dari pa’a loka.

Bagi masyarakat Suku Lio, pa’a loka dilakukan di tempat-tempat tertentu dengan tujuan tertentu pula. Pa’a Loka kepada arwah para leluhur atau orang yang sudah meninggal dilakukan di wisu lulu (tempat khusus di rumah adat), tubu musu (tiang batu dan mesbah di pelataran tempat upacara adat), serta bhaku rate (peti berisi tulang belulang leluhur yang telah meninggal serta kubur). Pa’a loka bisa juga dilakukan di luar dari tempat yang disebutkan di atas. Tetapi, yang dijadikan sebagai tempat Pa’a loka itu harus melalui mimpi atau petunjuk dari arwah leluhur kepada salah seorang anggota keluarga. Jadi pa’a loka tidak dilakukan di sembarang tempat.

Selain tempat untuk pelaksanaan pa’a loka, tempat untuk menyimpan makanan yang akan digunakan untuk pa’a loka juga sangat khusus. Dulu dan bahkan mungkin sampai sekarang, orang masih menggunakan pane (wadah yang terbuat dari tanah liat berbentuk piala), kea (tempurung kelapa) untuk menyimpan makanan bagi arwah leluhur atau sesuatu yang gaib. Sedangkan untuk minumnya, menggunakan tobho (tempurung kelapa ukuran kecil).

Orang yang bertugas memberi makanan (Pa’a loka) juga bukan orang sembarangan. Misalnya pada saat upacara adat, hanya Mosalaki Pu’u yang berwenang melakukan Pa’a Loka. (Di wilayah hukum adat Woloara/Moni) selain Mosalaki Pu’u, Mosalaki Koe Kolu juga punya hak untuk Pa’a loka).

Baca Juga :  Ini Relawan Jokowi Presiden yang akan berkeliling Indonesia bawa spanduk

Pa’a loka tidak hanya dilakukan pada saat upacara adat, seperti tau nggua nama bapu, perbaiki tempat upacara adat, perbaiki rumah adat, tetapi juga dilakukan di luar acara adat. Misalnya, pesta perkawinan, anggota keluarga hendak merantau, anak mau sekolah di luar daerah dan sebagainya.

Pada acara-acara tersebut,  pa’a loka dilakukan oleh penyelenggara pesta. Pa’a loka juga tidak dilakukan di wisu lulu rumah adat, tetapi hanya di tubu musu dan bhaku rate. Ini kalau penyelenggara pestanya Mosalaki Pu’u. Kalau bukan Mosalaki Pu’u atau masyarakat biasa, pa’a loka hanya dilakukan di bhaku rate. Pada saat pa’a loka, orang yang pa’a loka menyampaikan sesuatu kepada para leluhur atau kepada sesuatu yang gaib. Penyampaian atau lebih tepatnya permohonan disesuaikan dengan tujuan pa’a loka. (Sil Sega)

 

 

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button