Home / Pena_VJB / Kecantikanmu Memerasku

Kecantikanmu Memerasku

Bagikan Halaman ini

Share Button

9

foto: ilustrasi

                                                                                                  Cerpen: Januario Gonzaga

 

Moral-politik.com. Perempuan-perempuan Gunung Samaria seperti yang diceritakan dalam Kitab Suci Nasrani (Amos 4:1-3) persis seperti kalian. Diceritakan bahwa mereka suka memeras orang-orang lemah, dan menginjak-injak orang miskin. Mereka suka mengajak minum tuan-tuan yang berpunya.

Membaca itu kau selalu dibuat berpikir. Kata bathinmu sukarnya bukan main. Sebab kau juga satu dari kalian. Walaupun sudah jauh di zaman dahulu kala, tetapi kau lihat selalu ada juga jenis orang seperti itu kini. Keluargamu yang membuka toko di ujung jalan masuk kampung sama. Saban hari kau masih suka mencari barang-barang keperluan di toko itu. Namun setelah pertengkaran sebab uang dan transaksi yang tak jelas akhirnya kau tidak lagi ke sana.

Ayahmu bilang, “Kita akan membuka usaha sendiri, sebaiknya kau ikut membantu ayah saja”.

Waktu itu kau protes karena masih mau sekolah.

“Tapi saya harus selesaikan kuliah dulu”.

Kau bisa meyakinkan ayahmu karena pas jurusanmu administrasi perniagaan. Kalian berembuk untuk membangun toko yang lumayan besar, walau bukan terbesar di kampung karena di sana sudah lebih dari puluhan toko berjejal mulai dari gerbang masuk. Atas dasar itu baiklah kalau kata kampung diganti saja dengan kata kota dalam kisah ini.

Kalian memilih di pintu masuk kota sebab di sana strategis tempatnya. Aktivitas perkantoran dan lalu-lalang manusia ramai. Entah berapa banyak kalian membayar pada pemilik tanah yang menanam di sana ubi dan daun-daun sayuran. Tetapi kau bisa menebak malam itu, ketika kalian segerombolan masuk ke dalam rumahnya.

“Bapak, kita butuh kota yang ramai dan modern. Nanti juga anak cucu kita yang akan menikmatinya,” dengan kepintaranmu yang lihai kau ikut membuat orang tua yang bertahun-tahun setia memetik daun dari tangkai ubi itu tersenyum.

Seperti baru melihat lembaran uang yang kalian bawa dalam sebuah plastik dia melonjak kegirangan. Sementara di hati ayahmu kau bisa mendengar ini, cepat tanda tangan, bangsat tua. Lalu kalian pergi dan orang tua itu meniup-niup uangnya. Esoknya tanah itu sudah kalian ramaikan dengan hilir mudik mobil. Segera diukur dan dipatok. Toko mulai dibangun.

Baca Juga :  GSK: Kebijakan Manajemen RSUD Mengusir PKL Tidak Populer

Tepatnya mau dibilang bahwa bukan hanya tanah yang strategis, ide-ide kalian juga strategis. Mulai dari penyelesaian sengketa beberapa meter tanah hingga hak paten tanah yang masih tertangguh karena banyak perebutan.

Sebelum toko kalian menjadi swalayan besar, kau masih sempat melihat orangtua yang tertawa malam itu berjalan-jalan mengitari tokomu sambil melirik entah pada siapa. Dia mengitari alun-alun taman kota dan orang menyangka, juga kau, yang bukan-bukan. Sebab mestinya malam-malam begini kakek-kakek ada di rumah dan mendongeng buat cucu mereka sebelum tidur. Walaupun sering para kakek zaman sekarang tidak tahu apa yang mau didongengkan? Entahkah penderitaan.

Sakit-penyakit. Biaya hidup juga sekolah. Ah, Anak-anak hanya akan sakit dan mati esok pagi karena ketakutan ngerinya. Dasar! Kalian seperti orang-orang Damsyik yang mengirik gilead dengan eretan pengirik dari besi.

Bukan main keuntungan yang bisa kalian petik. Seperti itu juga kemujuran yang dulu dipetik orang tua itu dari daun-daun ubi buat mengisi perutnya dan biaya sekolah anaknya yang kuliah di bagian notaris. Kau baru pulang setelah omset toko kalian pesat berkembang. Dan kau mendapat tanggung jawab untuk mengelola dengan cerdik toko yang sudah berubah nama menjadi perusahaan atau apalah. Hanya kelak ketika kau melihat lagi orang tua itu berjalan dengan tertatih-tatih, diam-diam kau menelisik jalannya. Dia seperti mengamat-amati daun-daun singkongnya yang sudah kalian jadikan menara bertuliskan, ‘Di sini ada makanan khas China, Jepang, dan Italy’. Kau tidak bergerak dan terus menatap orang tua itu.

Dan kali ini dengan pakaian compang-camping dia masuk ke istana makan kalian. Kau melihatnya dengan perasaan seram. Dia seperti ingin menuntaskan sesuatu sehingga mengajakmu berdebat. Dan kau mendekat ke sana. Dari aromanya, spontan saja muncul apa yang pernah kau katakan padanya lima tahun lalu. Dia duduk dan menatapmu lama. Katanya, “saya mau makan nasi dan sayur singkong”.

Baca Juga :  Ende: Aktivitas Meningkat, Gunung Kelimutu Tertutup Untuk Umum

Kau terkejut dan mencari-cari jalan untuk bisa mengusir orang tua ini

* * *

Di tanah itulah generasi kami tumbuh dengan gonta-ganti mata pencaharian. Anak ayahku dua orang, semuanya bersekolah. Termasuk saya. Kami bukan penduduk baru. Sudah satu  abad lebih sejak tanah ini kami datangi sudah kami anggap tanah sendiri.

“Nak kamu bisa bersekolah di sekolah notaris,” ayah menyuruh saya untuk sekolah ke kota.

Walau saya sadar tidak mudah bertopang pada hasil tanah yang semakin kering dikuras limbah-limbah industri pertokoan dan tarik ulur penggusuran. Sedangkan adik saya hanya kebagian kursus menjahit.

Dengan tak sengaja kita bertemu. Pasti kau masih ingat kapan. Kita sekampus. Saya di bagian notaris dan kau di perniagaan. Kita akrab sebab kau selalu meminta bantuanku. Setahun lalu kau pulang. Katanya mau membereskan usaha ayahmu. Sesudah urusan itu kau kembali untuk menanti waktu wisuda dan merancang prospek usaha kalian. Kau bercerita tentang tanah yang stratgeis pada saya. Dan saya berpikir bahwa tanah itu akan membuat keluarga kalian bertambah kaya dan saya akan kebagian rezeki oleh banyaknya ide cemerlang. Saya tersentak ketika kau bilang sebuah tanah pada gerbang kota.

Di sana ada seorang tua yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Anaknya harus bersekolah dan akan diwisuda tetapi kekurangan biaya. Kau selalu membilang seperti memaksaku menelan durian busuk yang runtuh.

“Bayangkan betapa tololnya orang tua itu. Dia begitu cepat menerima tawaran ayah“.

“Benar juga kata orang. Rakyat miskin sudah terlalu lama mengidamkan rupiah. Makanya kalau ada uang di depan mata, mereka jarang berpikir panjang,“ saya menambah-nambah dengan ragu.

Saya tidak pernah tahu apa-apa soal ayah. Yang pasti setiap bulan saya mendapat kiriman uang. Dan kau memintaku suatu ketika untuk mengurus lagi soal polemik tanah. Saya membantu dengan memberikan beberapa konsep. Mulai dari hak pertanahan, sertifikat, aktivasi materi, dll. Dan setiap kali ada konsep yang kusodorkan, langsung kau serahkan buat orang tuamu. Dan memang tanah yang kau ceritakan itu selalu menimbulkan masalah.

Baca Juga :  Korupsi Marak, Hanya 22 Detik Presiden Angkat dalam Pidato

Banyak orang sudah lama berlomba-lomba menawarnya, bahkan ada yang berintrik lewat isu penggusuran. Hanya tidak beruntung sebab alasan orang tua itu amat kuat. Dia berharap suatu kelak nanti bisa menghabiskan masa tua bersama cucunya di sini. Kalian datang pada waktu yang tepat. Saat orangtua itu merasa tidak punya alasan untuk mempersulit masa depan anaknya. “Kami mendapatkan tanah itu dengan mudah. Katanya sih, anaknya yang kuliah di kota kekurangan biaya“. Begitulah kau selalu meledak-ledak dengan membanggakan orang tuamu. Dan saya menjadi tertarik untuk ikut. Dengan gesit saya bereskan semua surat hak paten tanah yang bisa memperlancar usaha kalian yang katanya bermulti-level.

Lalu malam itu kau menelponku lagi. Kau tidak mengatakan apa-apa, sebab kau akan pulang rumah sesudahnya. Saya begitu peduli. Sampai-sampai saya merasa setiap bunyi suaramu membuatku jatuh cinta. Sebuah perasaan yang lama sekali terpendam. Tetapi itu tidak penting. Kau tetap menganggapku satu manusia yang bisa diperas hanya dengan kecantikanmu.

Kau begitu ceria mengucapkan semua tentang tanah dan orangtua itu. Saya tidak terlalu sibuk, hanya ada rasa kasihan. Kalau kuumpamakan, kalian seperti orang-orang Gilead yang membelah perut perempuan-perempuan hamil dengan maksud meluaskan daerah mereka sendiri. Kita berpisah dan tak lagi bertemu sesudahnya. Kau diwisuda. Bertepatan dengan uangku macet.

“Ayah pasti mengalami kesulitan,“ batinku.

Mungkin saya harus pulang untuk mencari uang. Saya menyusul ke sana. Sebulan setelah kau pamit dengan terima kasih yang menutup mulutku untuk berucap apa-apa.

* * *

Saya tiba di rumah. Sebuah toko besar di depan sekonyong menyentak mata. Saya mendekat ke sana. Dengan pakaian seperti bos kau duduk memandang satu per satu tamu. Dan kau geram ketika seorang tua berdebat denganmu. Mungkin soal makanan. Kau menyentaknya dengan keras. Dia berbalik. Saya melihat wajahnya. Dengan tawa yang sakit, saya mencerca diri saya. ***

 

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button