Home / Sport / Legenda Pere Konde Sebagai Pintu Masuk Arwah ke Kelimutu

Legenda Pere Konde Sebagai Pintu Masuk Arwah ke Kelimutu

Bagikan Halaman ini

Share Button

Pere Konde

 

Moral-politik.com. Pere Konde. Nama ini mungkin asing bagi Anda. Tetapi bagi yang pernah ke Danau Kelimutu, pasti akan melewati tempat ini. Pere Konde, letaknya hanya dua kilo meter sebelum puncak Kelimutu.

Mitos yang berkembang pada warga Suku Lio, Pere Konde adalah pintu masuk arwah ke Kelimutu. Di Pere Konde ini, Konde bertindak sebagai Hakim. Para arwah dicatat, atau didata dan ‘diadili’ oleh Konde Ratu selaku penguasa Kelimutu.

Setelah ‘diadili,’ para arwah diarahkan ke tiga danau, sesuai dengan sikap dan perbuatan mereka selama masih hidup serta sesuai dengan usia mereka.

Bagi yang masih muda serta  perbuatan baik dan buruknya seimbang, ditempatkan di danau “Koofai Nuwa muri” atau danau muda-muda. Bagi yang selalu berbuat jahat, suka menenung, dan perbuatan jahat lainnya, sekalipun masih mudah, atau sudah tua, akan menempati danau “suanggi” atau Tiwu Ata Polo. Bagi yang sudah sepuh dan selalu berbuat baik selama hidup, bijaksana, arwahnya menempati danau Ata Bupu atau danau orang tua.

Danau Koofai Nuwa Muri dan danau Ata Polo, hanya  dipisahkan oleh tebing. Dulu tebing pemisah kedua danau ini masih cukup lebar dan bisa dilalui manusia. Tebing pemisah ini, oleh warga di sekitar kawasan Kelimutu, menamakan “jala Ndai”. Karena menurut Legenda’ ada seorang Suku Lio bernama Ndai, yang hampir setiap hari melewati tempat itu untuk berburu babi hutan, musang, tupai dan lainnya.

Konde Ratu juga akan memulangkan arwah orang yang sudah meninggal itu, jika saat ‘mengadili’ arawah itu bisa memberi alasan yang masuk akal. Karena itu, dulu, orang Suku Lio, kalau meninggal tidak langsung dikubur, tetapi disemayamkan selama beberapa hari. Menurut cerita orang tua-tua, dulu pernah ada orang yang sudah dua hari meninggal, namun hidup kembali. Mereka percaya, bahwa Konde Ratu belum mengijinkan orang itu untuk tinggal di Kelimutu.

Baca Juga :  Lima Ribu Siswa SD di TTU Ikut USBN

Karena mitos itu pula, pemangku adat atau Mosalaki dari tanah persekutuan Mau Gadho (Woloara) sering memberi sesajian atau Pa’a Loka atau memberi makan kepada Konde Ratu selaku penguasa Kelimutu. Pa’a Loka ini dilakukan di Pere Konde.

Mosalaki Woloara tidak pernah memberi makan kepada arwah orang meninggal di Kelimutu. Sekali pun mereka percaya bahwa arwah orang meninggal itu mendiami Kelimutu. Pa’a Loka atau pati ka du’a bapu atamata, bagi Mosalaki Woloara, sudah dilakukan di Wisu Lulu, Tubu Kanga dan Bhaku Rate yang ada di kampung masig-masing.

Dan apa yang diminta Mosalaki Woloara saat pa’a loka di Wisu Lulu, Tubu Musu, dan Bhaku Rate, serta di Pere Konde selalu terkabul.

Salah contoh yang menjadi bukti terkabulnya pa’a loka di Wisululu, tubu musu, dan bhaku rate du’ bapu atamata di Woloara, serta pa’a loka di Pere konde adalah seorang calon kepala daerah terpilih menjadi kepala daerah di daerahnya. (Sil Sega)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button