Home / Pena_VJB / Mengurai Ritus Adat Baru Ende: Pa’a Loka Kelimutu

Mengurai Ritus Adat Baru Ende: Pa’a Loka Kelimutu

Bagikan Halaman ini

Share Button

5

Oleh Silver Sega

 

 

Moral-politik.com. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Ende dan Balai Taman Nasional Kelimutu, sejak tahun 2009 lalu, menggelar kegiatan “Pa’a Loka” atau pati ka du’a bapu atau mata, atau memberi sesajian di puncak Kelimutu. Kegiatan ini sudah menjadi agenda tetap Balai Taman Nasional Kelimutu yang didukung Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Ende.

Setiap tanggal 14 Agusutus, Balai Taman Nasional Kelimutu dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Ende, menggelar kegiatan Pa’a Loka, atau pati ka du’a bapu atamata  di puncak Kelimutu.

foto pa'a loka kelimutu 1

Para Mosalaki atau pemangku adat bersama warga di seputaran kawasan Kelimutu dikumpulkan, ramai-ramai ke Puncak Kelimutu. Para Mosalaki dengan disaksikan warganya  secara bersama-sama meletakan sesajen pada sebuah batu di puncak Kelimutu. Selesai memberi makan kepada arwah leluhur, dilanjutkan dengan tarian gawi atau tandak mengelilingi batu tempat sesajian yang tadi diletakkan. Itulah sekilas prosesi pati ka du’a bapu atamata di puncak Kelimutu.

 

Mengapa pati ka di Kelimutu ?

Kepala Dinas  Kebudayaan dan Pariwisata Ende saat itu, Anna Any Labina seperti dilansir situs Pemerintah Kabupaten Ende, menyatakan, tujuan dari kegiatan Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata di Kelimutu untuk memberdayakan kembali dan melestarikan adat dan budaya yang sudah mulai  ditinggalkan.

Sementara, Yudit Rade, salah satu staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Ende pada situs jejaring sosial facebook tanggal 14 pebruari 2010 mengatakan, penyelenggaraan Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata di Kelimutu dilandasi pertimbangan telah terjadi musibah yang menimpa wisatawan asing dan lokal serta penduduk di sekitar kawasan danau Kelimutu dalam lima tahun terakhir ini.

foto pa'a loka kelimutu

Tampaknya alasan yang disampaikan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Ende mengesankan masyarakat di sekitar kawasan Kelimutu sudah tidak melaksanakan ritus pati ka du’a bapu atamata. Padahal realitanya, pati ka hampir dilakukan setiap ada kegiatan adat. Warga masih tetap teguh melaksanakan pati ka tersebut. Hanya saja, pati ka tidak dilakukan di puncak Kelimutu. Bahkan orang Lio yang di tempat perantauan pun masih tetap melakukan pati ka ata mata, bila ada acara atau pesta, atau ada peristiwa tertentu.

Baca Juga :  Menteri Pembangunan Daerah Timor Leste "Belajar" di Kabupaten Belu

Kesan lain  yang muncul adalah seolah-olah warga di sekitar kawasan kelimutu sudah tidak berdaya, sehingga perlu dilakukan pati ka di Kelimutu. Ternyata setelah hampir 5 tahun kegiatan pati ka di Kelimutu digelar, warga di seputaran kawasan Kelimutu masih tetap seperti biasa, sama seperti sebelum kegiatan pati ka di Kelimutu.

4

Begitu pula dengan alasan yang disampaikan salah satu staf Dinas Kebudayaan dan pariwisata Ende, Yudith Rae. Seolah-olah peristiwa atau musibah yang menimpa pengunjung dan juga warga lokal, karena murka arwah leluhur di Kelimutu. Seolah-olah, mereka yang tertimpa musibah itu sebagai tumbal, hanya karena manusia yang masih hidup tidak memberi makan kepada arwah leluhur di Kelimutu.

Memang, dalam beberapa tahun terakhir ini belum ada peristiwa yang terjadi di Kelimutu, kecuali perubahan warna air dalam kawah.

 

Ritus Adat Baru

Kegiatan pa’a loka atau pati ka du’a bapu atamata di puncak Kelimutu  merupakann sebuah ritus adat baru. Mengapa? Karena selama bertahun-tahun dan berabad-abad lalu hingga Juli 2009, masyarakat atau warga di seputaran kawasan wisata Kelimutu tidak pernah melakukan pa’a loka atau pati ka du’a bapu atamata di puncak Kelimutu.

Pati ka atau pa’a loka di Kelimutu, meupakan peristiwa baru yang mungkin sengaja dibuat oleh Balai Taman Nasional Kelimutu, guna menarik minat wisatawan berkunjung ke Kelimutu.

Benar bahwa menurut kepercayaan orang Lio, arwah orang meninggal berkumpul di Kelimutu, tetapi untuk pati ka atau pa’a loka, dilakukan di kampung halamannya masing-masing. Karena itu, pati ka dua bapu ata mata di Kelimutu merupakan sebuah ritus adat baru.

6

Selama ini, Mosalaki atau pemangku adat Woloara, pernah beberapa kali melakukan pa’a loka atau pati ka du’a bapu atamata, di Pere Konde, dua kilometer sebelum puncak Kelimutu. Pati ka ini pun tidak dilakukan setiap tahun. Pati ka dilakukan sesuai kebutuhan, atau ada permintaan dari pihak lain untuk kepentingan tertentu. Dan biasanya permintaan yang disampaikan saat pati ka itu, selalu terkabul. (Sil Sega)

Baca Juga :  Keluarga Fahri Mengamuk, Polisi Penembak Divonis Setahun

 

 

 

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button