Home / Opini / Pejuang Pendidikan Perempuan Pakistan ini Rayakan Ultah ke-16 di Markas PBB

Pejuang Pendidikan Perempuan Pakistan ini Rayakan Ultah ke-16 di Markas PBB

Bagikan Halaman ini

Share Button

4

 

Moral-politik.com. Malala Yousafzai, gadis Pakistan yang menjadi simbol perjuangan pendidikan bagi perempuan, sedang berpidato di markas PBB, New York, 12 Juli 2013.

Malala Yousafzai, gadis Pakistan yang menjadi simbol perjuangan pendidikan bagi perempuan, sedang berpidato di markas PBB, New York, 12 Juli 2013. (sumber: AFP)

New York – Malala Yousafzai, gadis belia pejuang hak-hak pendidikan perempuan yang sempat ditembak Taliban di Pakistan, merayakan ulang tahunnya yang ke 16 di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York, Jumat (12/7).

PBB sudah menetapkan tanggal 12 Juli, hari kelahiran gadis muda itu, sebagai “Hari Malala”.

Mengenakan jilbab merah jambu, Malala berdiri di hadapan Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki moon dan hampir 1000 pelajar dari seluruh dunia yang menghadiri Pertemuan Kaum Muda Dunia, dan mengatakan bahwa pendidikan adalah satu-satunya cara untuk meningkatkan taraf hidup manusia.

“Ayo ambil pena dan buku. Itu adalah senjata yang paling ampuh. Satu anak, satu guru, satu pena, dan satu buku bisa mengubah dunia. Pendidikan adalah satu-satunya solusi,” kata Malala.

Remaja Pakistan itu pertama kali mencuri perhatian dunia pada usia 11 tahun. Ketika itu dia sudah berbicara menentang larangan mengecap pendidikan bagi anak perempuan di negerinya.

Ia kian menjadi sorotan ketika pada Oktober 2012 kelompok bersenjata Taliban menembaknya di kepala dan leher, ketika sedang berjalan pulang ke rumahnya dari sekolah, di Lembah Swat, Islamabad, Pakistan.

Dia berhasil selamat dari usaha pembunuhan keji itu setelah dirawat di sebuah rumah sakit di Birmingham, Inggris. Dia meninggalkan rumah sakit pada Februari setelah menjalani sejumlah operasi yang melibatkan pemasangan plat titanium di tulang tengkoraknya dan mengimplan koklea di telinga kirinya.

Baca Juga :  Oche Bakal: Senyumku Ibadahku

“Mereka pikir peluru bisa membungkam kita, tetap mereka gagal,” tegas Malala.

“Para teroris itu mengira mereka bisa mengubah tujuan saya dan menghentikan ambisi saya, tetapi tidak ada yang berubah dalam kehidupan saya kecuali ini: rasa takut dan putus asa sudah mati. Kekuatan, keberanian, dan semangat telah lahir,” tutur Malala yang disambut dengan gemuruh tepuk tangan.

Pada kesempatan itu Malala menyerahkan sebuah petisi yang ditandatangani oleh hampir empat juta orang, yang isinya meminta dukungan pendidikan gratis bagi 57 orang anak di seluruh dunia. Petisi itu juga mendesak agar para pemimpin dunia memberi bantuan dana bagi guru, sekolah, dan buku untuk menghentikan fenomena buruh anak, perdagangan dan pernikahan anak-anak. (Sumber: beritasatu.com)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button