Home / Sport / Pemkab Rote Ndao Jarang Membimbing Penenun

Pemkab Rote Ndao Jarang Membimbing Penenun

Bagikan Halaman ini

Share Button

 

perajin tenun.1

Moral – politik.com.  Para penenun di Kabupaten Rote Ndao mengeluhkan  kebijakan Pemerintah Kabupaten Rote Ndao yang terkesan mengabaikan penenun.  Pasalnya hingga saat ini, Pemkab Rote Ndao jarang beri perhatian dalam bentuk bimbingan maupun pembinaan ke penenun.

Hal ini disampaikan salah seorang pengrajin asal Pulau Ndao yang bermukim di Kelurahan Namodale, Weditya Dami (45) saat ditemui RND di kediamaannya, Senin (22/7). Pada hal kata dia, tenun ikat Ndao memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri. Disamping itu, tenun ikat Ndao memiliki historis karena menjadi salah satu warisan leluhur yang terus dilestarikan.  ”Kalau Pemkab Rote Ndao menghendaki daerah itu menjadi pusat wisata, tenun ikat Ndao pun harus dilestarikan. Tamu ingin agar tenun ikat daerah ini pun diperkenalkan di luar NTT,” kata Dami.

Menurut Dami, sesuai pengamatan pihaknya selama ini Pemkab Rote Ndao cukup banyak beri pembinaan ke perajin anyaman topi tiilangga dan pengerajin alat musik sasando. Semestinya Pemkab Rote Ndao memberdayakan potensi yang ada misalkan melalui kewajiban penggunaan pakaian adat hasil tenunan warga pada hari-hari tertentu sebagaimana yang dilaksanakan sejumlah daerah lainnya di NTT.

“Perhatian pemerintah, bukan dengan menyalurkan bantuan uang ke kami bisa juga dengan kewajiban gunakan hasil tenunan lokal sehingga produk kami bisa laku,”harapnya.

Dikatakannya, hingga saat ini para pengarajin tenun ikat  yang menekuni usaha di bidang kerajinan tenun ikat selama  puluhan tahun di wilayah itu hingga saat ini masih kesulitan untuk memasarkan tenun ikat. Untuk menutupi biaya operasional yang telah dikeluarkan para pengerajin itu terpaksa menjual hasil kerajinannya dengan harga yang cukup murah ke para pembeli.

Menurut dia, untuk menyelesaikan selembar kain tenunan, pihaknya membutuhkan waktu selama kurang lebih satu bulan dan itupun dijual dengan harga Rp250 ribu perlembar. Meski harga jualnya terbilang urah, lanjut janda yang menekuni usaha itu sejak 12 tahun lalu itu, namun pihaknya masih alami kesulitan untuk memasarkan hasil produknya.

Baca Juga :  NTT: Sumba Tengah Peringkat 21 UN

Disinggung soal perhatian pemerintah untuk pengembangan usaha yang dijalankannya itu, dia mengatakan, selama 12 tahun dirinya menekuni kegiatan itu, belum pernah mendapat bantuan pemerintah Kabupaten Rote Ndao melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Rote ndao.

Senada dengan dia, Yuliana Mbau Yami, pengerajin yang lainnya mengatakan kain tenun yang dihasilkan pihaknya dijual dengan harga yang bervariasi tergantung ukuran kain yang dihasilkan yakni berkisar Rp 100 ribu hingga Rp 250 ribu perlembar. “Kami berharap agar PKK kabupaten Rote Ndao membantu membeli hasil kerajianan agar yang kami hasilkan,”ujarnya. (lima)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button