Home / Pena_VJB / Razia Wanita Pemakai Niqab Rusuh, Prancis Konsekuen Pada Hukum

Razia Wanita Pemakai Niqab Rusuh, Prancis Konsekuen Pada Hukum

Bagikan Halaman ini

Share Button

16

 

Moral-politik.com. Pemerintah Prancis bersikukuh memberlakukan larangan wanita mengenakan jilbab yang menutupi seluruh wajah wanita atau burqa. Kendati Sabtu lalu, terjadi unjuk rasa yang berujung pada kericuhan di pinggiran kota Trappes.

Menurut Menteri Dalam Negeri Prancis Mannuel Valls, langkah polisi merazia seorang wanita yang tengah mengenakan niqab pada Jumat 19 Juli 2013, sudah tepat. “Hukum yang melarang penggunaan jilbab yang menutupi seluruh wajah merupakan sebuah hukum demi kebaikan wanita,” ujar Valls seperti dikutip laman The Guardian, Senin 22 Juli 2013.

Meski warga Muslim menilai larangan itu bertentangan dengan nilai yang mereka anut, menurut Valls, hal itu tidak berkaitan dengan tradisi dan nilai-nilai yang dianut Pemerintah Prancis. “Sehingga hukum itu harus diberlakukan di mana pun,” kata Valls.

Sementara itu, suasana di Kota Trappes pada Senin waktu setempat sudah kembali tenang.

Kerusuhan

Kota yang dihuni 30 ribu orang itu sempat diwarnai kericuhan pada sabtu 20 Juli lalu yang dipicu razia polisi Prancis terhadap seorang wanita yang mengenakan niqab.

Publik marah dan mendatangi kantor polisi terdekat. Beberapa di antara mereka kemudian melempari batu ke arah kantor polisi, sementara yang lain terlihat membakar gedung. Dalam sebuah video amatir, terekam sekitar 250 warga yang menyerbu kantor polisi dan melempari petugas dengan kembang api.

Menurut laman France 24, Senin 22 Juli 2013, empat petugas polisi dilaporkan terluka dan seorang remaja berusia 14 tahun mengalami luka serius di bagian mata akibat terkena ledakan. Laporan dari Kepala Unit Kepolisian, David Callu kepada sebuah stasiun televisi Prancis, BFMT, kerusuhan itu ikut meluas ke kota tetangga seperti Elancourt dan Guyancourt.

Baca Juga :  166 Orang Napi Teroris di Guantanamo Rayakan Idul Fitri

Gara-gara rusuh tersebut, enam orang ditahan Polisi Prancis. Dua pelaku lainnya ikut ditahan pada Minggu kemarin karena diduga ikut terlibat dalam aksi penyerangan tersebut.

Pengadilan Prancis pada Senin kemarin juga telah menjatuhkan vonis enam bulan penjara kepada pemuda berusia 19 tahun yang dituduh sebagai salah satu pelaku onar.

Pemerintah Prancis sejak tahun 2011 silam memberlakukan larangan bagi wanita agar tidak mengenakam niqab. Apabila melanggar, maka warga akan didenda senilai 300 Euro atau Rp3,9 juta.

Sekitar 300 wanita berhasil tertangkap di tahun pertama diberlakukan hukum tersebut. Tak pelak aturan itu membuat komunitas Muslim di Prancis geram.

Peristiwa kerusuhan Sabtu pekan lalu juga pernah terjadi bulan lalu di Argenteuil, di barat daya ibukota Paris. Pemicunya pun mirip, seorang wanita berniqab berusia 25 tahun dirazia oleh polisi Prancis. (Sumber: Viva.co.id)

 

 

 

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button