Home / Pena_VJB / Rote Ndao: Keluarga ini Tinggal di “Kandang Ternak”

Rote Ndao: Keluarga ini Tinggal di “Kandang Ternak”

Bagikan Halaman ini

Share Button

15

foto: ilustrasi

 

Moral-politik.com. Program pemerintah Kabupaten Rote Ndao melalui perumahan sehat layak huni, pembagian beras rawan pangan, bantuan stimulan lansia, Lakamola Anansio, ADD,  dana bantuan sosial serta berbagai jenis bantuan lainnya, patut diberi apresiasi.

Penyaluran bantuan itu merupakan salah satu bentuk komitmen pemerintah untuk memberdayakan rakyat miskin yang terpinggirkan.

Dilain pihak, dengungan program pemerintah yang terdengar sejuk dan merakyat itu, pasalnya tak tepat sasaran. Pasalnya, banyak bantuan itu diterima oleh warga yang semestinya tak dapat dikategorikan miskin.

Informasi yang berhasil dihimpun wartawan menyebutkan, banyak bantuan yang disalurkan tak diperoleh warga yang memang layak mendapatkan bantuan itu. Ironisnya, meski banyak bantuan tak tepat sasaran, namun kekuasaan selalu menyuarakan lagu pro rakyat yang disambut derai air mata kesedihan oleh si miskin yang terus dibohongi.

Di Desa Oenggae, Kecamatan Pantai Baru, misalnya, La Pamba bersama istrinya Hadija serta satu orang anaknya, telah puluhan tahun hidup di gubuk reot yang mirip kandang ternak.

La Pamba yang disambangi wartawan di kediamannya, Sabtu (13/7) siang mengungkapkan, meski dirinya menetap di gubuk yang beratapkan daun lontar dan berlantaikan tanah, namun tak satu pun bantuan yang di dengungkan pemerintah menyentuhnya.

Tahun demi tahun berlalu, Bupati berganti, kehidupannya di gubuk reot tetap tak tersentuh bantuan Pemerintah Kabupaten Rote Ndao. Padahal, kata pria berdarah Bajo, Sulawesi Selatan ini, pemerintah menyiapkan banyak bantuan bagi warga miskin.

“Saya mendengar, katanya pemerintah menyiapkan bantuan bagi orang yang hidup miskin seperti saya ini, tetapi sampai saat ini saya belum pernah dapat bantuan itu,” ujarnya.

Menghadapi pergulatan hidup yang menderanya dalam suasana kemiskinan, dirinya hanya bisa pasrah dan menyaksikan dagelan lucu para penguasa yang kerap meneriakkan program pro rakyat.

Baca Juga :  Si Gadis Karina dan "Teori Kebesaran Manusia"

“Sepertinya, kami yang miskin ini memang susah mendapatkan bantuan pemerintah. Mungkin kami dianggap sebagai kaum terpinggirkan,” keluhnya.

Pria yang kesehariannya berprofesi sebagai nelayan ini mengungkapkan, untuk menafkahi keluarga hanya dengan berprofesi sebagai nelayan memang sulit. Sebab peralatan tangkap yang seadanya menyulitkan dirinya untuk menghasilkan tangkapan yang banyak.

“Sebagai nelayan, kita memang butuh bantuan peralatan tangkap tetapi tidak pernah dapat,” ujarnya.(lima)

 

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button