Home / Opini / Si Melati Cantik ini Gemar Entas Kemiskinan

Si Melati Cantik ini Gemar Entas Kemiskinan

Bagikan Halaman ini

Share Button

8

 

Moral-politik.com. Gemerlap hidup sebenarnya bisa dengan mudah diraih  (30). Namun, si melati cantik yang gemar bersiul ini justru lebih senang ”tetirah” ke pelosok-pelosok pedesaan demi upaya pemberantasan kemiskinan.

Menyandang gelar juara tiga Putri Indonesia 2003, Yasmin sempat mencicipi dunia modeling. Kini hanya sesekali saja—jika merasa kangen—ia masih melangkah di catwalk. Selebihnya, Yasmin larut dalam program pemberdayaan masyarakat sebagai Communication Associate Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Support Facility Indonesia.

Ditemui di kantornya yang bernuansa rumahan di Menteng, Jakarta Pusat, ia banyak berbicara tentang program pemberdayaan masyarakat. Bagi Yasmin, pelayanan kepada masyarakat harus total dan tidak bisa disambi dengan kegiatan lain. ”Kalau soal pekerjaan, saya loyal. Ingin tahu keseluruhan proses dari awal sampai akhir sehingga bisa melihat perubahannya,” ujar Yasmin.

”Kadang, kalau jenuh di kantor, saya minta ke lapangan. Butuh disegarkan,” kata gadis berdarah campuran Belanda, Portugis, Maluku, dan Jawa ini.

Lapangan yang dimaksud adalah desa-desa yang terjangkau kucuran dana program PNPM. Program pembangunan berbasis komunitas ini telah menjangkau 63.000 desa dengan total kucuran dana Rp 70 triliun pada rentang 1998-2013.

Suntikan inspirasi
Perjalanan menuju pedesaan terpencil menjadi oase tersendiri bagi Yasmin. Ketika ia pergi ke desa-desa kecil di sekitar Danau Sentarum, Kalimantan Barat, misalnya, setelah berkendara dengan mobil, dia masih harus naik kapal cepat selama lima jam menyusuri sungai. Baru mau berkenalan dengan kepala desa atau camat, Yasmin biasanya sudah diperlakukan bak selebritas karena penampilannya yang menarik dengan tinggi 169 sentimeter dan berat 55 kilogram.

”Saya belum bawa tamunya, mereka sudah siap dengan kamera. Lho, saya ini bukan tamunya,” kata Yasmin tertawa.

Baca Juga :  Opini: SBY-Prabowo makan nasi goreng, mengapa Jokowi kepedasan?

Persentuhan akrab dengan warga desa ternyata membawa keberuntungan. Ia jadi lebih mudah menjalin komunikasi. Di PNPM Support Facility, Yasmin dan timnya berperan mendukung pemerintah untuk studi analisis dan membangun komunikasi terkait transparansi program.

Yasmin sering kali juga mengantar perwakilan dari negara-negara seperti Afganistan, Pakistan, China, Haiti, dan India yang tertarik belajar tentang PNPM. ”Percaya enggak sih kalau orang Indonesia bisa mandiri? Dan di PNPM itu terjadi,” katanya.

Bersentuhan langsung dengan masyarakat pedesaan menumbuhkan kecintaan tiada tara kepada Tanah Air. ”Indonesia sering kali dipandang negatif. Yang berhasil dan bagus di lapangan itu banyak banget. Indonesia butuh rasa positif yang lebih lagi. Pergi ke desa menjadi suntikan inspirasi,” kata Yasmin.

Betapa tidak, kesanggupan warga desa untuk mandiri sering kali membuatnya terkaget-kaget. Begitu dana dari pemerintah dikucurkan, warga desa mampu merencanakan dan membangun sendiri infrastruktur, seperti jembatan dan jalan, tanpa korupsi!

Apa yang dibangun itulah yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. PNPM yang dijalankan Kementerian Dalam Negeri untuk pedesaan dan Kementerian Pekerjaan Umum di perkotaan ini juga tidak takut gagal. Kegagalan justru menjadi sarana belajar.

Tertarik manusia
Yasmin sejak kecil terbiasa berpindah-pindah tempat mukim mengikuti orangtuanya yang pegawai BUMN. Pengalaman hidup berpindah-pindah itu membuatnya tidak merasa asing ketika bersentuhan dengan budaya dan orang-orang baru. Lahir di Palembang, Yasmin sempat bertempat tinggal di Ambon, Bali, Semarang, dan Jakarta.

”Lingkungan boleh enggak stabil, tetapi yang stabil ya keluarga saya. Ibu saya selalu meyakinkan keluarga kami enggak pernah kekurangan cinta dan itu dipastikan,” ujarnya.

Perubahan dan masyarakat yang berbeda justru membuat hati makin kaya dan memperbesar ketertarikan mempelajari lebih lanjut tentang manusia. ”Akhirnya, saya menjadi lebih baik karena telah membantu orang menjadi lebih baik,” kata Yasmin.

Baca Juga :  Najwa Shihab menjawab isu jadi Menteri Sosial

Ketertarikan kepada manusia itu pula yang membuatnya setia terlibat pada program pembangunan masyarakat. Selepas lulus kuliah S-1, Yasmin sempat tujuh tahun berkutat pada kegiatan nonprofit untuk pengentasan anak jalanan, penanggulangan bencana, dan perbaikan kesehatan ibu anak bersama LSM Church World Service.

”Orang Indonesia terkenal kreatif. Potensinya banyak. Indonesia hanya butuh suntikan semangat,” ujar Yasmin.

Hidup itu cinta…
Yasmin punya resep jitu agar bisa tetap gembira setelah bekerja berhari-hari. Untuk setiap keberhasilan yang diraih dengan kerja keras, ia selalu menyiapkan hadiah bagi dirinya sendiri.

Hadiah itu biasanya berupa tiket jalan-jalan seorang diri ke tempat-tempat indah. ”Saya suka adventure. Suka menaruh diri saya di lingkungan baru,” kata Yasmin.

Baru-baru ini, ia bepergian dengan kapal pesiar menyambangi pulau-pulau kecil di sekitar Flores selama empat hari tiga malam. Untuk hadiah kelulusan setelah mengantongi gelar master, Yasmin berpesiar ke Barcelona.

Semua perjalanan itu ditempuh seorang diri berbekal peta sebagai bagian dari proses mengenal diri sendiri. ”Kuliah S-2 sudah kerja keras. Hadiah untuk diri sendirilah,” kata Yasmin.

Jika tak sedang bertualang dan merasa galau, cukuplah hiburan murah meriah, seperti menonton film romantik komedi di bioskop. Apabila hatinya masih tetap gundah, makanan nanggung, seperti siomay dan empek-empek, pun bisa membuatnya ceria.

Ikatan erat dengan keluarga—orangtua, kakak, dan keponakan—membuat langkahnya selalu kembali pulang ke Indonesia. Setelah sibuk dengan pekerjaan, di akhir pekanlah ia berkumpul bareng keluarga.

Dengan pertimbangan jarak ke kantor, Yasmin sehari-hari memilih tinggal bersama om dan tantenya di Menteng dibandingkan dengan orangtuanya di Puri Cinere, Depok. ”Lima menit atau dua jam? Saya pilih lima menit. Keluarga itu penting. Bagi saya, hidup itu cinta, cinta itu hidup,” ujar Yasmin.

Baca Juga :  Pangi Chaniago: Prabowo bakal mampu tumbangkan Jokowi

Melissa Yasmin Kapitan
Lahir:  Palembang, 20 November 1982
Pendidikan:
– Geelong College, Victoria, Australia (1997-1998)
– SMA Kolese Australia (1998-1999)
– UNIPREP Art and Design Stream Foundation Certificate (1999)
– S-1 Komunikasi Profesional di Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) Australia (2000-2002)
– Graduate Certificate Lingkungan dan Pembangunan  di RMIT Australia.  (2009)
– S-2 Antropologi, Lingkungan, dan Pembangunan di University of London, Inggris (2010-2011)

Pengalaman Kerja:
– Communication Associate Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Support Facility Indonesia (2011- sekarang)
– Consultant LSM Church World Service (CWS) (2003-2010)
– Public Relations Coordinator Salsa Tatarasa Utama (2002)

Penghargaan:
– Juara III Putri Indonesia 2003
– Most Fearless Female Majalah Cosmopolitan 2009
– Narasumber-CWS Inc Refugee Program Conference, Phoenix, Arizona, AS (Maret-April 2008)
– Delegasi Pemuda-4th Asia Pacific Conference on Sexual Reproductive Health and Rights, Hyderabad
– Delegasi Pemuda-8th International Conference in Asia Pacific for HIV/AIDS (ICCAP), Colombo, Sri Lanka. (Sumber: Kompas.com)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button