Home / Pena_VJB / TTU: Penegakkan Hukum “Mandul” Angka Kekerasan Tinggi

TTU: Penegakkan Hukum “Mandul” Angka Kekerasan Tinggi

Bagikan Halaman ini

Share Button

Romo Alo, Yovita dan Kasenube

 

Moral-politik.com. Romo Deken Kefamenanu, Keuskupan Atambua, Rm. Aloysius Kosat Pr, di Kefamenanu menilai, tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di kabupaten Timor Tengah Utara akibat “mandulnya” penegakan hukum oleh aparat penegak hukum di kabupaten ini.

Penegasan ini diungkapkan oleh Rm Alo pada dalam acara Revitalisasi Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten TTU yang diselenggarakan Biro Pemberdayaan Perempuan  Provinsi NTT, Selasa (30/7) di Restoran Litani, Kefamenanu.

Rm Alo mengatakan, ada banyak kasus di Kabupaten TTU yang sering penangannya terkesan tidak serius oleh aparat kepolisan dan kejaksaan.

“Saya contohkan ada sebuah kasus yang korbannya siswi SMP usia 14 yang ditangkap, disekap lalu diperkosa, yang terjadi 1 tahun lalu, pelaku ditangkap, habis masa tahanan kasus selesai, seolah-olah kita syukuri akan kekerasan tersebut,” ungkapnya.

Karena itu, untuk menekan angka kekerasan perempuan dan anak, menurut Rm Alo, harus ada keseriusan dalam penegakkan hukum oleh aparat penegak hukum di kabupaten ini.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Johan Makitita, salahsatu tokoh masyarakat di kefamenanu.  Dia mengaku, masih terlalu banyak kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang hingga saat ini belum juga tuntas, dan terkesan terjadi pengabaian oleh apara penegak hukum.

Dikatakan, bila berbagai kasus kekersan perempuan dan anak ini terkesan terus dibiarkan maka sangat berpengaruih terhadap bertambahnya kasus kekerasan yang baru.

“Jadi, kita sangat mengharapkan pihak penegak hukum harus lebih serius sehingga menjadi pembelajaran bagi banyak orang,” ungkap Makatita.  (amy)

 

 

Baca Juga :  Hindari Pelecehan Seksual dengan Kondom Bergerigi

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button