Home / Pena_VJB / TTU: SMPN Lurasik Pungut Rp 110 Ribu, Orangtua Kesal

TTU: SMPN Lurasik Pungut Rp 110 Ribu, Orangtua Kesal

Bagikan Halaman ini

Share Button

2

 foto: ilustrasi

 

Moral-politik.com. Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Lurasik, Kecamatan Biboki Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara diduga nekad melakukan pungutan liar terhadap para siswa yang baru dinyatakan  tamat Juni 2013. Masing-masing siswa/i dipungut Rp 110 Ribu sebagai uang sirih-pinang, tanda terima kasih kepada sang guru, pahlawan tanpa tanda jasa.

Beberapa orangtua anak mengaku sangat kecewa dengan tindakan sekolah yang mewajibkan anak untuk membayar sejumlah uang tersebut, sebagai ucapan terimakasih dan pengadaan meubeler pada saat siswa/i hendak mengambil ijazah.

Mereka justru menuding SMPN Lurasik telah melakukan pungutan liar. Bahkan menurut mereka, hal ini sudah masuk kategori pemerasan yang sangat memberatkan siswa.

“Pungutan yang dilakukan SMPN Lurasik ini sangat memberatkan orangtua pelajar. Apalagi, sekolah tersebut
adalah sekolah negeri yang memiliki dana operasional dari pemerintah,” kata salah seorang perwakilan orangtua pelajar yang enggan namanya ditulis.

Menurut dia, pihaknya saat pembagian amplop kelulusan tidak pernah mendengar secara jelas tentang alasan pungutan tersebut.

“Saa itu, orangtua pelajar yang hadir sangat sibuk termasuk suasana saat itu sangat gaduh. Karena itu, hampir semua orangtua yang hadir saat itu tak tahu persis mengenai alasan pemungutan uang oleh SMPN Lurasik tersebut,” ungkapnya.

Herannya, kata dia, orangtua justru tak diberi kesempatan untuk menanggapi kebijakan tersebut.

“Kalau pungutan itu terlalu mahal, maka tentu sebagai orangtua kami merasa keberatan. Masak sekolah negeri pungutannya lebih mahal dari sekolah swasta. Ada apa ini?” kesalnya.

Sementara itu, salah satu staf pengajar pada SMPN Lurasik ketika dikonfirmasi, juga membenarkan adanya pungutan yang dilakukan pihak sekolah.  Bahkan dia merincikan, jumlah pelajar tamatan SMPN
Lurasik tamatan tahun 2013 sebanyak 132 orang. Dengan demikian, pungutan sebesar Rp 110 Ribu yang dibebankan SMPN Lurasik secara keseluruhan mencapai Rp. 14. 520. 000.

Baca Juga :  Pelayanan Publik RSU.W.Z.Johanes Kupang Sangat Buruk

“Iya, pungutan itu dilakukan untuk pengadaan kursi
dan meja sekolah, karena kondisi meja dan kursi di sekolah sudah tidak
memungkinkan lagi,” uangkap guru SMPN Lurasik yang namanya enggan dipublikasikan.

Sementara  Kepala SMPN Lurasik, Martinus Kono, ketika dikonfirmasi via telepon selularnya soal pungutan tersebut mengatakan, pihaknya hanya bertugas mengumpulkan dana, sedangkan mengenai kesepakatan menjadi wewenang komite sekolah.

“Soal uang, ditawarkan komite kepada orangtua saat pembagian amplop dan tidak ada orangtua yang keberatan atau berkomentar banyak. Logikanya, orangtua setuju.  Tapi sebaiknya, bapak klarifikasi ke komite, karena kalau sudah sepakat,
sekolah hanya mengumpulkan uangnya saja,” kata Martinus Kono.

Tapi sayangnya, ketika dimintai kesediaan untuk memberikan nomor hand phone ketua komite, Martinus tidak meresponsnya. (amy)

 

 

 

 

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button