Home / Pena_VJB / 50 Ribu Pengungsi Muslim Myanmar di Malaysia Tak Syahdu Rayakan Lebaran

50 Ribu Pengungsi Muslim Myanmar di Malaysia Tak Syahdu Rayakan Lebaran

Bagikan Halaman ini

Share Button

8

 

 

Moral-politik.com.  Hari ini, jutaan umat Islam di dunia  bahagia. Mereka telah mampu meraih kemenangan, setelah sebulan penuh mereka bergulat dengan melawan hawa nafsu. Suasana bahagia terasa di mana-mana. Namun  tidak demikian dengan pengungsi muslim Myanmar di Kuala Lumpur, ibukota negara Malaysia. Jumlah mereka lebih dari 50.000 ribu jiwa. Mereka kini menanti uluran tangan dari pemerintah Malaysia  dan yayasan-yayasan amal di negeri itu yang berusaha memperbaiki kondisi kehidupan mereka, seperti membagi-bagikan makanan kepada mereka.

Raahiman Nur Boshur, salah satu warga Muslim Myanmar di Kuala Lumpur mengisahkan, dia melarikan diri dari rumahnya dengan menggunakan perahu setelah desanya dibakar dan beberapa kerabatnya tewas. Ia mengatakan, “Tidak mungkin bagi saya untuk tetap tinggal,” ujarnya.

“Satu-satunya cara untuk menyelamatkan hidup kita adalah mengungsi dari negara itu, melarikan diri ke mana saja. Kami kehilangan segalanya,” sambungnya.

Masuknya keluarga-keluarga baru yang melarikan diri dari kekerasan di negara asal mereka telah mengakibatkan semakin terkurasnya sumber daya masyarakat yang sangat terbatas. Ini mendorong beberapa warga Malaysia untuk berusaha mengurangi kesulitan para pengungsi selagi umat Muslim merayakan Idul Fitri.

Mariam Binti Kassim, seorang relawan Islam Outreach Abim, sebuah yayasan Muslim Converts Development Program, mengatakan, “Rekan-rekan kerja saya juga pengungsi Myanmar, dan setiap kali terjadi sesuatu di desa mereka, mereka tidak bisa bekerja karena emosinya terpengaruh. Jadi, sebagai teman dan rekan kerja mereka, ini juga memengaruhi
saya.”

Pemerintah Malaysia tidak menandatangani konvensi PBB terkait pengungsi. Meskipun Komisi Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) telah mendaftarkan warga Muslim Myanmar sebagai pengungsi, mereka masih terpaksa hidup sebagai komunitas yang terpinggirkan.

Baca Juga :  Demi Pertahankan Tanah, Warga Kolhua Siap Kehilangan Nyawa!

Pemerintah Malaysia berjanji akan mencermati pengeluaran izin kerja bagi para pengungsi yang memiliki status dari UNHCR. Hingga kini, para pengungsi terpaksa bekerja secara gelap. Aktivis masyarakat akan menyambut baik langkah apa pun untuk memungkinkan pengungsi bekerja secara sah.

“Langkah untuk membuat pengungsi bekerja secara sah cukup positif,” ujar Mohammad Sadek, anggota staf Komite Pengungsi Rohingya Arakan.

“Ini sangat membantu para pengungsi karena kehidupan mereka cukup menderita. Tetapi, PBB seharusnya tidak menghentikan kewajibannya, dan PBB harus terus menyediakan fasilitas untuk menampung mereka ke negara-negara lain, dan melanjutkan bantuan keuangan, medis, dan upaya lainnya yang dibutuhkan bagi kesejahteraan para pengungsi.”

Para aktivis mengatakan, yang dibutuhkan adalah solusi jangka panjang untuk membantu orang-orang yang melarikan diri dari Burma agar dapat membangun kembali kehidupan mereka di Malaysia, atau di negara lain yang bersedia menampung mereka. (Sil Sega/KOMPAS.com)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button