Home / Pena_VJB / Ana Djukana Minta Wartawan Memihak Wanita Korban Kejahatan Seksual

Ana Djukana Minta Wartawan Memihak Wanita Korban Kejahatan Seksual

Bagikan Halaman ini

Share Button

8

 

Moral-politik.com. Wartawan diminta dalam menulis berita-berita kekerasan terhadap perempuan, khususnya kejahatan seksual. Pada  prinsipnya,  keberpihakan jurnalis harus kepada korban, bukan pelaku.

“Pertama, yang harus dipahami gender itu adalah sudut pandang atau perspektif dan bukan ketrampilan. Karena itu, tidak ada ketrampilan menulis gender, yang ada ketrampilan menulis berita, feature dari sudut pandang gender,” kata Pemred Harian Kursor, Ana Djukana kepada Moral-politik.com di Kupang.

Pemberitaan-pemberitan yang berpihak pada korban, baik korban pemerkosaan maupun kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) justru akan membebaskan dan menguatkan perempuan dari penderitaan yang dihadapinya selama ini.

Menurut Ana,  Dalam menulis berita pemerkosaan dan KDRT dari perspektif gender, yakni berempati terhadap korban; kedua, mengawali berita dengan mendeskripsi tentang kondisi psikologis korban, dan merangkai fakta untuk advokasi penyelamatan korban dan pengurangan insiden.

“Dengan demikian penyebutan nama korban dalam penulisan berita harus dengan inisial atau nama samaran. Pertimbangannya, korban akan merasakan dampak psikologis dari perbuatan pelaku seumur hidup, meski pelaku sudah keluar dari hukumannya di penjara. Begitupun nama kedua orangtua korban dan alamat korban bahkan pacar korban,” ujar Ana.

Ana Djukana mengatakan, hindari dalam tulisan ada pandangan bahwa perempuan diperkosa karena keluar malam hari, atau karena mengenakan pakaian yang seksi. Karena dalam banyak kasus pemerkosaan, lanjut dia, korban justru berada dalam rumah dan dilakukan oleh orang-orang terdekat, mulai dari bapak kandung, bapak tiri, om, kakak, tetangga, teman.

Perempuan, tutur dia,  berada di dalam rumah atau di luar rumah, malam hari, siang hari, pagi hari  bukan alasan bagi siapa pun untuk melakukan pemerkosaan.

“Lagipula, asumsi berpakaian seksi juga tidak benar karena kebanyakan anak-anak di bawah umur menjadi korban, tidak ada kaitannya dengan pakaian seksi tetapi moral pelaku!” urai dia.

Baca Juga :  Sidang MK, Saksi KPU NTT Bantah Tuduhan Esthon-Paul

Dirinya kesal mendengar opini yang dibentuk, seolah-seolah semua akan aman dan sentosa jika perempuan berdiam di rumah, berlindung dalam kegiatan dan tugas tradisionalnya. Padahal, ungkap dia, tidak ada  tempat satu pun yang aman bagi perempuan.

“Hindari pemilihan nara sumber yang tidak paham gender atau menghindari komentar-komentar nara sumber  yang justru memojokkan korban,” sarannya.

Ana Djukana menambahkan, diksi atau pilihan kata yang mengaburkan substansi kejahatan seksual pemerkosaan seperti disebadani, curi keong, ditiduri, terenggut kehormatannya, esek-esek, ukur badan adalah tidak pada tempatnya. Sebab, menurut dia, dengan menggunakan diksi tersebut penulis (wartawan) sedang dalam posisi mengaburkan arti pemerkosaan menjadi suka-sama suka, atau ada alasan pemaaf lain untuk memaafkan pelaku. Padahal pemerkosaan sebagaimana diatur dalam pasal 285 KUHP adalah dilakukan dengan pemaksaan pelaku terhadap korban. (Nyongky)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button