Home / Pena_VJB / Ancaman Hukuman Mati, Pemerintah Harus Serius Bela Wilfrida Soik

Ancaman Hukuman Mati, Pemerintah Harus Serius Bela Wilfrida Soik

Bagikan Halaman ini

Share Button

walfrida soik

 

Moral-politik.com. Pemerintah Indonesia diminta keseriusannya dalam membela Wilfrida Soik, buruh migran asal Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) dari ancaman hukuman mati di Malaysia, karena ancaman hukuman mati terhadap buruh migran Indonesia yang bekerja di luar negeri hingga hari ini masih merupakan masalah krusial yang belum diselesaikan secara sistematik.

Anggota DPD RI asal NTT Sarah Lerry Mboeik dalam konprensi pers bersama yang digelar di Jakarta, Rabu (28/8) bersama anggota DPR, Eva Kusuma Sundari mengatakan, sejak 12 April 2012 pemerintah Indonesia telah meratifikasi International Convention on The Rights of All Migrant Workers and Their Families. Hal ini sebenarnya merupakan kemajuan bagi komitmen perlindungan untuk buruh migran.

Dalam konpersensi pers yang juga dihadiri Anis Hidayah dan Wahyu Susilo dari Migrant CARE,  Alex Ong, Migrant CARE Malaysia, Magdalena Tiwu, anggota DPRD Belu dan Mulyadi dari SARI, kedua wakil rakyat itu meminta pemerintah Indonesia memiliki kewajiban untuk membela dan  membebaskan Wilfrida dari ancaman hukuman mati tersebut.

“Wilfrida Soik, PRT migran asal Kolon Ulun, Ratu Fika, Raimanuk, Belu  NTT saat ini tengah menghadapi ancaman hukuman mati atas tuduhan pembunuhan terhadap  majikannya, Yeap Seok Pen (60 tahun),” jelasnya.

Dia menuturkan, Pada 7 Desember 2010, Wilfrida ditangkap Polisi Daerah Pasir Mas di sekitar kampung Chabang Empat, Tok Uban, Kelantan.  Ia dituduh melakukan tindak pidana pembunuhan terhadap majikan yang dijaganya, seorang perempuan tua Yeap Seok Pen (60).

Wilfrida, lanjutnya,  terancam hukuman mati atas dakwaan pembunuhan dan melanggar pasal 302 Penal Code (Kanun Keseksaan) Malaysia dengan hukuman maksimal hukuman mati.

“Wilfrida  diberangkatkan ke Malaysia pada 23 Oktober 2010 melalui jalur Jakarta – Batam – Johor Bahru. Dari Johor Bahru, Wilfrida Soik dibawa langsung ke Kota Bharu, Kelantan. Pada  saat diberangkatkan umur Wilfrida baru 17 tahun,” tambahnya.

Baca Juga :  Ini Survey di Hong Kong: Dari 20 Orang, 14 tahu Jokowi!

Namun, ujarnya,  pihak yang meberangkatkan memalsukan umur Wilfirda menjadi 21 tahun. Dalam paspor, tanggal lahir Wilfrida 8 Juni 1989, padahal berdarakan surat baptis yang dikeluarkan Gereja Katolik Paroki Roh Kudus Kolo Ulun, Fatu Rika, Kecamatan Raimanuk, Belu, menyebutkan Wilfrida dilahirkan 12  Oktober 1993.*** (AVI)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button