Home / Pena_VJB / Beraninya Kaum Ateis di Negara Arab Tampil di Media Sosial

Beraninya Kaum Ateis di Negara Arab Tampil di Media Sosial

Bagikan Halaman ini

Share Button

7

foto: salah satu artis penganut atheis

 

Moral-politik.com. Rafat Awad, sejak kecil hidup dalam lingkungan keluarga yang taat beragama. Namun, semakin dia menginjak dewasa ada keraguan atas agama Islam yang dia anut. Pada akhirnya Rafat mengaku di hadapan orangtuanya, bahwa dia menjadi Ateis. Orangtuanya lalu mendatangkan ulama ke rumah untuk membujuk Rafat kembali ke Islam, namun usaha itu sia-sia. Akhirnya, mereka menyerah.

“Ini adalah efek domino—ibarat Anda menekan pin pertama dan itu terus terjadi dan dan terjadi lagi,”kata pemuda berusia 23 tahun, yang tinggal di Uni Emirat Arab itu.

Mengaku sebagai ateis merupakan hal yang langka terjadi di dunia Arab, di mana mayoritas adalah Muslim yang ketat menjalankan syariat Islam. Menyatakan diri ateis dapat menyebabkan pengucilan oleh keluarga dan teman-teman, dan jika diketahui publik dapat memicu pembalasan dari kelompok Islam garis keras atau bahkan pemerintah.

Namun, kaum minoritas ateis ini telah mengambil langkah-langkah kecil untuk keluar dari bayang-bayang. Grup di jaringan media sosial mulai muncul pada pertengahan 2000-an. Arab Spring yang dimulai pada awal tahun 2011 juga telah memberikan dorongan untuk terbuka dengan ide-ide kebebasan, berbicara dan mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap tabu.

Seorang insinyur Mesir,  mengaku telah lama menjadi ateis tapi merahasiakannya. Tahun 2011, saat revolusi di Mesir dan panggilan untuk perubahan radikal mendorongnya untuk membuka diri lewat dunia maya. Meski demikian, dia masih menyimpan rapat identitasnya secara detail, karena khawatir dengan aksi pembalasan dan dikucilkan.

“Sebelum revolusi, saya total hidup dalam kesendirian. Saya tidak tahu siapa saja yang ateis seperti saya. Sekarang kita harus lebih berani untuk menunjukkan siapa kita,” katanya.

Baca Juga :  Irianus Rohi: Pemerintah Kota Kupang itu bukan Institusi Preman

Meski para kaum Ateis ini telah membuka diri secara online, namun internet tak sepenuhnya aman. Di sebagian besar negara-negara Arab, menjadi ateis tidak dengan sendirinya ilegal, tetapi ancaman hukuman di depan mata, karena dianggap “menghina agama.”

Tahun lalu di Mesir, Alber Saber, seorang Kristen yang mengidentifikasi sebagai ateis, ditangkap setelah memposting sebuah film anti-Islam pada halaman Facebook-nya. Meskipun ia menyangkalnya, ia dijatuhi hukuman tiga tahun penjara karena dianggap menghujat dan menghina agama. Dia dibebaskan dengan jaminan saat banding pada bulan Desember, dan kemudian pindah ke Prancis.

Demikian pula, penganut ateis asal Palestina, Waleed al-Husseini yang ditangkap pada tahun 2010 di kota Tepi Barat, Qalqilya karena dituding mengejek Islam di Internet. Ia ditahan tanpa tuduhan selama beberapa bulan, dan setelah pembebasannya juga melarikan diri ke Prancis.

Tidak diketahui secara pasti jumlah total penganut Ateis di Timur Tegah, namun ruang online terus berkembang. Ada sekitar 60 grup Ateis di Facebook berbahasa Arab – mulai dari “Atheis Yaman” dengan hanya 25 pengikut, hingga “Sudan ateis” dengan 10.344 pengikut.

“Banyak orang takut untuk mengaku sebagai ateis, tapi sekarang mereka menemukan keberanian. Mereka ada di internet—mereka mungkin memiliki nama palsu, tetapi mereka ada,”ungkap Waleed al-Husseini. (Sil Sega/KBR68H/huffingtonpost)

 

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button