Home / Sport / Jalan Rusak, Warga Kaladano Kesulitan Pasarkan Kopra

Jalan Rusak, Warga Kaladano Kesulitan Pasarkan Kopra

Bagikan Halaman ini

Share Button

13

 

Moral-politik.com. Warga dua dusun di Kampung Kaladano, Desa Inaoe, Keccamatan Rote Selatan masing-masing dusun dua dan tiga keluhkan ruas jalan yang terputus menuju wilayah itu, sejak awal tahun anggaran 2011 lalu.

Hal ini disampaikan warga di wilayah itu masing-masing Ibrahim Do’o kepada wartawan di kediamannya, Jumat (9/8).

“Oto tidak bisa sejak jalan ini terputus sejak tahun 2011 lalu,” kata Ketua Dusun Tiga, Soleman Malelak.

Longsor yang menyebabkan terputusnya ruas jalan itu, kata Soleman terjadi saat hujan lebat mengguyur lokasi itu pada tahun 2011.

“Sejak jalan terputus kami harus jalan kaki selama dua jam menuju jalan umum,” ungkap Soleman.
Setelah ruas jalan itu terputus, kopra milik warga di wilayah itu sulit dipasarkan sebab kendaraan pengangkut tak lagi memasuki lokasi itu pasca ruas jalan tersebut putus.

“Kalau dulu pembeli biasanya langsung masuk dengan menggunakan truk ke sini tetapi sekarang sudah tidak bisa lagi. Kalaupun kami mau jual kopra harus bayar ojek ke jalan umum tetapi biayanya besar,” keluhnya.

Selain sulit memasarkan produk andalan di kampung itu, pihaknya juga alami kesulitan untuk mengangkut bahan-bahan bangunan dari Ba’a ibu kota Kabupaten Rote Ndao.

“Bahan bangunan yang kami beli di Ba’a, harus diturunkan di jalan umum terlebih dahulu baru bayar ojek atau buruh untuk angkut ke sini,” jelasnya.

Senada dengan Soleman, Isaskar Yesua salah seorang warga di wilayah itu mengungkapkan, semenjak ruas jalan itu pekerjaan kopra di wilayah itu kian lesu.

“Kalaupun kami kerja kopra itupun hanya untuk konsumsi pribadi bukan untuk dijual, karena pembeli sudah tidak datang lagi,” ujarnya.

Saat  ini kata dia, kopra yang dihasilkan warga dijual dengan harga Rp.2.500 per kilogramnya, namun harus dipikul dengan menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk menjualnya.

Baca Juga :  Kota Kupang Sasaran Penyebaran HIV/Aids

“Meskipun ada pembeli yang datang tetapi kami harus angkut lagi dari sini dengan menyewakan tenaga buruh. Itupun yang dijual hanya pas-pasan untuk penuhi kebutuhan di rumah,” terangnya.
Dia menambahkan, kopra yang dihasilkan di lokasi tersebut pertahunnya mencapai 300 ton.

“Satu-satunya sumber pendapatan kami di sini adalah dengan menjual kopra. Tetapi setelah jalan putus kami tidak beraktivitas lagi. Padahal kalau dulu, kopra yang keluar dari sini mencapai 6-7 ton perminggunya,” terangnya.

Untuk menghidupkan kembali aktivitas perekonomian warga, pihaknya berharap agar memperbaiki ruas jalan menuju lokasi tersebut.

“Kami hanya minta kalau bisa jalannya diperbaiki,” harapnya. (lima)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button