Home / Sport / Kasus Pasir Emas Lembata Dilaporkan ke Bareskrim Mabes Polri

Kasus Pasir Emas Lembata Dilaporkan ke Bareskrim Mabes Polri

Bagikan Halaman ini

Share Button

1

 

Moral-politik.com. Forum Pemuda NTT Penggerak Keadilan dan Perdamaian (FORMADDA) melaporkan kasus pasir emas tanpa dokumen asal Lembata, Nusa Tenggara Timur ke Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia.

Pasir yang diduga mengandung emas, perak, dan tembaga tersebut diselundupkan ke Jakarta beberapa bulan lalu dan kini ditahan di Markas Kepolisian Sektor (Mapolsek) Pondok Aren, Kotamadya Tangerang Selatan, Provinsi Banten.

“Kami sudah melaporkan kasus penyelundupan pasir emas tanpa dokumen ke kantor Bareskrim Mabes Polri di Jalan Trunojoyo, Jumat (2/8) pagi. Kami berharap agar pihak Bareskrim Mabes Polri membantu menangkap dan memproses pelaku dan pihak-pihak terkait di balik penyelundupan ini,” kata Yohanes Kristo Tara, Ketua Umum Formadda NTT kepada sejumlah wartawan di Taman Ismail Marzuki, kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (4/8 2013) siang.

Surat bernomor 84/DPP/Formadda NTT/E/VIII/2013 tertanggal 2 Agustus 2013 tentang Laporan Pengangkutan Ilegal Pasir Emas Asal Lembata-NTT tersebut, diserahkan langsung Yohanes Kristo Tara didampingi Ketua Divisi Politik, Hukum, dan HAM Formadda NTT Hendrik Hali Atagoran serta sejumlah anggota lainnya. Surat diterima Wagiman, staf Kepala Bareskrim Mabes Polri.

Kristo menjelaskan, kronologi pasir tanpa dokumen yang diselundupkan ke Jakarta hingga disita aparat kepolisian. Menurutnya, sekitar Mei 2013, ada informasi yang beredar di kalangan masyarakat Lembata-NTT di Jakarta mengenai adanya penyelundupan mineral logam (pasir emas) dari Lembata.

Pasir tanpa dokumen itu diduga diselundupkan oleh oknum warga Kedang, Lembata, NTT, bernama Amran Sarabiti alias La Ode.

Informasi mengenai pengangkutan pasir emas tersebut sudah beredar luas di Lembata dan sempat dibicarakan kalangan anggota DPRD setempat dalam sebuah rapat formal. Atas informasi tersebut, beberapa anggota Formadda NTT melakukan penelusuran dan mencoba mendekati dan menemui La Ode di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan.

Baca Juga :  Mimpi Baru Jokowi, Bikin Pasar Malam Kesenian

Dicuri di Kedang

Menurut pengakuan La Ode, sekitar bulan Mei 2013 mineral logam (pasir emas) sekitar 10 ton diduga digali dan dicuri dari lokasi di Kedang, Kecamatan Omesuri dan Buyasuri, ujung timur Pulau Lembata, Kabupaten Lembata.

Dari lokasi, barang tersebut dibawa oleh pelaku menggunakan truk pada malam hari menuju Lewoleba,kota Kabupaten Lembata. Selanjutnya pasir emas tersebut diangkut dengan motor laut menuju Larantuka, kota Kabupaten Flores Timur, ujung timur Pulau Flores, NTT.

Setiba di pelabuhan Larantuka, barang tersebut langsung dibongkar kemudian diangkut dengan truk melalui jalan darat daerah tujuan Jakarta. Melewati beberapa kali pemeriksaan mulai dari pelabuhan di Bima dan Lombok, NTB kemudian ke pelabuhan di Pulau Bali, pasir emas itu akhirnya berhasil lolos sampai Surabaya hingga masuk Jakarta.

Setiba di Jakarta, pasir ilegal itu ditampung di salah satu rumah kontrakan di wilayah Tangerang Selatan, Banten. Bersama rekannya bernama Heru, jelas La Ode, sebagian pasir emas tersebut coba diproses untuk mendapatkan bahan mineral berupa emas, perak, dan tembaga.

Namun dalam proses itu Heru sempat mengalami kecelakaan luka bakar sehingga harus dilarikan dan dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta. Proses uji coba dan berakibat Heru terbakar terjadi sekitar bulan Juni 2013. Pada tanggal 24 Juli 2013, La Ode mengajak informan Formadda NTT untuk melihat lokasi keberadaan pasir emas itu, yakni di Jl. Pesantren RT. 001/RW. 03, Kelurahan Jurang Mangun Timur, KotamadyaTangerang Selatan, Banten.

Pada 27 Juli 2013, tim Formadda NTT sebanyak lima orang menuju ke lokasi untuk memastikan keberadaan pasir emas sebagaimana diinformasikan di atas. Selanjutnya, tanggal 30 Juli 2013, Formada NTT melapor keberadaan pasir emas tersebut ke Mapolsek Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten.

Baca Juga :  Polisi Gagal Menghitung Barang Bukti Aiptu Labora Sitorus

“Keesokan harinya, yakni tanggal 31 Juli 2013, aparat Polsek Pondok Aren menindaklajuti laporan kami. Pihak kepolisian kemudian memindahkan dan mengamankan barang bukti dari TKP ke Mapolsek Pondok Aren,” kata Kristo Tara.

Menurutnya, tindakan ini melanggar UU Minerba Nomor 4 tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara. Pasalnya, pasir emas adalah satu jenis mineral logam yang mengandung emas.

“UU Minerba mensyaratkan untuk dapat memperoleh mineral logam secara legal, setiap orang atau badan hukum harus harus mendapatkan IUP, IUPR, atau IUPK dari pejabat berwenang, baik pada tahap eksplorasi maupun produksi sampai pada pengolahan atau pengangkutan,” kata Kristo Tara.

Padahal, hingga saat ini Pemerintah Kabupaten Lembata belum pernah mengeluarkan Ijin UsahaPertambangan (IUP) atau Ijin Pertambangan Rakyat (IPR) pasir emas, baik tingkat eksplorasi maupun produksi kepada salah satu orang atau badan hukum. Karena itu, jelas Kristo, merujuk ketentuan di atas patut diduga pelaku telah melakukan tindak pidana pertambangan ilegal, ilegal mining.

“Mencermati peristiwa dan fatka di atas kami mengharapkan Bareskrim Mabes Polri menindaklanjuti laporan kami. Kemudian menangkap pelaku dan membongkar mafia pertambangan ilegal di Lembata karena sudah berlangsung lama,” katanya. Seperti diketahui, selama ini Formadda NTT aktif mengkawal, mengadvokasi,dan mengkritisi persoalan-persoalan lokal di NTT, termasuk pertambangan. (YKT)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button