Home / Gosip / Modernitas Teknologi dan Kematian Realitas Masyarakat

Modernitas Teknologi dan Kematian Realitas Masyarakat

Bagikan Halaman ini

Share Button

11

Oleh: Fidelis A. Olin*

 

 

MODERNITAS dengan globalisasinya telah menampilkan dua wajah yang paradoksal. Merupakan sesuatu yang tidak terbantahkan dan tidak bisa dipungkiri bahwa kendati pun modernitas dan proses perekonomian global telah sungguh mengakibatkan kemajuan dan kesejahteraan manusia, namun sekaligus juga manusia mengalami proses penghancuran peradaban dalam bentuk bencana-bencana, justru karena modernitas berkembang terlampau pesat.

Fase perkembangan pengetahuan terus mengalir bahkan berlari seiring dengan waktu. Sejarah perkembangan komunikasi yang diawali dari komunikasi lisan hingga kini perkembangan teknologi menghadirkan jalan tol untuk memudahkan segala aktivitas keseharian manusia. Di negara-negara maju, teknologi telah merasuki simpul-simpul kehidupan manusia. Negara-negara maju yang dipimpin oleh Amerika telah membuat berbagai kisah kepesatan dan kemajuan teknologi.

Teknologi informasi dan komunikasi misalnya, telah memberikan kenyamanan, kemudahan dan penyederhanaan dalam pelbagai sisi kehidupan manusia. Teknologi ini juga mengantarkan peradaban manusia ke posisi paling tinggi menuju ekonomi berbasis informasi/pengetahuan. Bandingkan sejarah peradaban manusia sebelumnya. Kemajuan-kemajuan ini tetap menyisakan paradoks maupun ironi yang perlu diseimbangkan.

Teknologi tak hentinya menawarkan dan membawa cara penyelesaian kilat. Teknologi berkaul akan membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik, meningkatkan kinerja, membuat mudah, tampil dengan wajah yang lebih cepat dan mudah dari segala sesuatu yang pernah ada. Teknologi berjanji untuk memberikan kehidupan yang penuh pesona dan kemudahan yang ditawarkan. Manusia dibuai dengan janji-janji teknologi sehingga percaya bahwa solusi dari setiap persoalan manusia akan terselesaikan dengan pemanfaatan teknologi. Keterbuaian ini menempatkan teknologi pada ruang khusus kehidupan manusia, seolah-olah teknologi merupakan hukum alam yang tak terbantahkan.

Patut diakui bahwa modernitas dengan segala bawaannya telah membawa ‘mujizat’ besar bagi manusia dan dunia. Bahkan Paus Benediktus XVI dalam pesannya pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-47 tanggal 12 Mei 2013 mengakui sisi-sisi positif dari modernitas khususnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ini. Jejaringan Sosial: Pintu Kepada Kebenaran dan Iman, Ruang Baru untuk Evangelisasi, dengan maksud mengajak orang untuk menjadikan jejaringan sosial sebagai alun-alun publik untuk berbagi dan membangun persaudaraan sejati. Bahwa teknologi merupakan salah satu pintu untuk membangun solidaritas serta persaudaraan manusia yang telah tercabik-cabik oleh ulah manusia sendiri. Inilah salah satu nilai luhur yang harus dilihat dan diakui oleh dunia, termasuk Gereja, bahwa jalan menuju kebenaran iman dan kepercayaan serta penyembahan kepada Tuhan juga bisa dilalui lewat modernitas teknologi informasi dan komunikasi. Yang Khalik bisa ditemui lewat teknologi komunikasi modern. Allah bisa disapa dan disembah melalui Youtube, Facebook, tweeter, email, hp, skype, yahoo massenger dll. Allah yang Akbar bisa diakrabi lewat kemajuan teknologi. Nilai-nilai kemanusiaan bisa disampaikan lewat alat komnikasi modern. Orang di Desa Bakitolas bisa menyampaikan empati, simpati dan solidaritasnya kepada sesamanya di Washington lewat tweeter dan Youtube ataupun status facebook nya. Singkatnya,

Baca Juga :  Kenapa Pria Selingkuh? Ini 7 Alasan yang Wanita Wajib Tahu!!

Namun kita tak bisa menutup mata bahwa teknologi, terutama teknologi informasi dan komunikasi telah memperkosa otonomi kebebasan manusia, setiap saat orang tak bisa lepas dari informasi yang disalurkan oleh perangkat-perangkat teknologi informasi. Makin mempesona, meskipun menyembunyikan segudang kecanduan manusia yang bergantung dan diperbudak oleh sajian virtual, misalnya hiburan, harapan, pergaulan, terkagum-kagum oleh terobosan jarak dan waktu semu.

Tengoklah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini. Lewat jejaringan Sosial ( email, Facebook, tweeter dll), Hp, iPod, Smartphone (iPhone dan BlackBerry), tv, radio, internet dan lain-lain manusia di pelbagai belahan dunia bisa tersambung dan membuai manusia.

Perkembangan yang pesat ini sudah pernah diramalkan oleh John Naisbiit bahwa globalisasi ekonomi dan modernitas teknologi akan menempatkan manusia modern dalam apa yang disebut zona mabuk teknologi sehingga mempersulit manusia itu sendiri dalam mencari makna peradaban di tengah perkembangan pesat teknologi.

Bagi John Naisbiit, Nana Naisbiit dan Douglas Philips, dalam buku ”Hi-Tech Hi Touch” akibat perkembangan teknologi ini manusia mengalami mabuk teknologi karena perkembangan teknologi ini tidak disertai antisipasi dan kesiapan menghadapi dampak negatifnya. Akibatnya manusia justru sering terjerumus dalam sisi negatif teknologi.

Zona mabuk teknologi ini adalah kehampaan spiritual yang mengecewakan dan berbahaya serta sulit keluar dari dalamnya. Teknologi informasi dan komunikasi memungkinkan orang lebih dekat dan mengenal selebritis global di tempat jauh dibanding dengan orang-orang dekatnya di dalam ruamah maupun tetangganya sendiri. Teknologi telah mencampakan sisi humanisme manusia yang menjadi ciri utamanya.

Modernitas seperti ini telah menjadi modernitas ekstrim dan radikal karena telah menggiring masyarakat global kepada sebuah kondisi di mana realitas telah diambil alih oleh model-model simulasi realitas yang tidak mempunyai referensinya lagi pada realitas itu sendiri sehingga terciptalah apa yang disebut kematian realitas. Hal ini oleh Jean Baudrillard disebutnya sebagai hiper-modernitas yaitu sebuah proses penghancuran yang dilakukan oleh modernitas ketika ia telah berkembang terlampau cepat. Proses penghancuran ini disebut sebagai totalitas budaya yang melampaui dalam arti berkembang dengan cara melampaui fungsi dan tujuannya.

Baca Juga :  Tim Penasihat Hukum Ahok laporkan dua Petinggi FPI

Marilah kita lihat proses penghancuran itu atau kemabukan teknologi ( adanya hubungan yang rumit dan pertentangan teknologi dan pencarian akan makna) ini dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, orang lebih menyukai penyelesaian masalah secara kilat, merasa kosong dan teralienasi dari dirinya sendiri.

Kedua, manusia takut sekaligus memuja teknologi.

Ketiga, menggabungkan yang nyata dan semu. Harus diingat bahwa salah satu dari 3 skema ancaman peradaban dunia adalah konvergensi peradaban, yaitu gabungan peradaban suara, gambar dan data, yang dihadirkan oleh teknologi informasi.

Keempat,  kekerasan diterima sebagai sesuatu yang wajar.

Kelima, mencintai teknologi dalam wujud mainan. Game telah menjadi sebuah pelarian yang eksotis bagi kebosanan, kejenuhan dan kesendirian.

Keenam,  menjalani kehidupan yang beranjak dan terenggut. Kehidupan manusia telah tercabut dari keasliannya. Manusia tercabut dan terasing dari sesama, lingkungan alam dan diri sendiri.

Ketujuh, digitalisasi kehidupan manusia. Bertitik pangkal pada mabuk teknologi ini, maka lahirlah kecenderungan mendigitalisasikan kehidupan.

Itulah tujuh bencana-bencana global yang berkaitan dengan kepesatan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang dilihat oleh para pengamat dan kritikus modernitas. Bahwa di balik pesonanya yang membuai, ada juga begitu banyak racun yang ditebarkan oleh modernitas, khususnya alat-alat teknologi informasi dan komunikasi mutakhir.

Bagaimana dengan manusia Indonesia, khususnya NTT? Patut diakui masyarakat NTT masih terlalu jauh untuk dikategorikan sebagai masyarakat yang sudah masuk dalam kategori masyarakat industri. Namun ini tidak berarti bahwa masyarakat NTT tidak tersentuh globalisasi, khususnya teknologi modern dengan segala problemnya. Ingat, semboyan dari globalisasi adalah dunia/bumi ini merupakan sebuah kampung kecil!

Dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, masyarakat NTT terbantu membuka isolasi dan ketertutupan dalam perkembangan dan kemajuan alat-alat informasi mutakhir. Komodo, ditetapkan sebagai salah satu dari tujuh keajaiban baru dunia hanya lewat SMS dan email.

Baca Juga :  Bibirnya Super Seksi, Inilah 7 Selebriti yang bikin "ngiler" (3)

Itulah contoh kecil sumbangan  dari modernitas teknologi informasi dan komunikasi bagi masyarakat NTT. Tetapi juga patutlah kita mewaspadai hadirnya teknologi dengan mengevaluasi secara jernih relevansi teknologi yang ada sekarang pada kehidupan manusia NTT, terlebih memperdebatkan kebaikan dan konsekuensi penerapannya. Zona mabuk teknologi adalah zona yang ditujukan oleh adanya hubungan yang rumit dan sering kali bertentangan antara teknologi dan pencarian akan makna.

Fenomena dan bahkan fakta penggunaan alat informasi dan komunikasi modern oleh masyarakat NTT telah melampaui maknanya. Penggunaan  handphone, facebook, tweeter, smartphone dll misalnya,  tidak hanya sebagai alat komunikasi tetapi sebagai penentu gaya hidup dan status sosial. Akibatnya masyarakat menjadi konsumtif tehadap alat-alat mutakhir ini. Orang akan disebut modern, smart atau gaul karena menggunakan smartphone. Dengan ini penulis boleh mengatakan bahwa perkembangan pemanfaatn dan penggunaan alat komunikasin dan informasi modern melampaui fungsi dan tujuannya. Barang atau alat-alat modern itu tidak cukup didefinisikan secara fungsional, sebab telah berkembang melampaui fungsi dan kegunaannya. Inilah yang dikritisi oleh Jean Baudrillard.

Menurut Baudrillard barang yang perkembangannya telah melampaui fungsi dan kegunaannya akan mematikan realitas. Realitas alat komunikasi telah melampaui fungsi dan maknanya yaitu sebagai penentu status dan kelas sosial serta gaya hidup (life style).

Selamat ber-SAIL KOMODO. SEMOGA dengan peristiwa ini, NTT bisa meng-GLOBAL tapi tetap menghargai dan mempertahankan keLOKALan NTT.

* (Penulis adalah pengamat sosial, tinggal di Kabupaten TTU, NTT)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button