Home / Sport / Omong Enak Sail Komodo dan ‘Systemic Linkage’

Omong Enak Sail Komodo dan ‘Systemic Linkage’

Bagikan Halaman ini

Share Button

6Penulis: Vincentcius Jeskial Boekan.

 

 

 

Moral-politik.com. Sudah berjuta-juta orang bilang Indonesia kaya sumber daya alam, kaya juga pesona dan daya tarik wisata yang tiada terbilang unik.

Adalah satu kehormatan besar bagi Indonesia, dimana Taman Nasional Komodo masuk dalam nominasi 7 Keajaiban Dunia, dan hampir dipastikan akan ditenggerkan pada urutan pertama oleh panitia yang bikin perhelatan akbar tersebut.

Sebagai bangsa yang tahu bersyukur akan limpahan berkat Tuhan, wajar jika pemerintah ingin menangkap peluang-peluang dari kompetisi tersebut, sebagai media promosi dunia kepariwisataan Indonesia, lebih khususnya Taman Nasional Pulau Komodo, demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada khususnya, dan pada umumnya adalah peningkatan devisa negara.

Pikir kecil saya, penyelenggaraan Sail Komodo punya banyak maksud. Dua hal paling penting adalah melalui event itu, pemerintah bertekat untuk menggencarkan promosi Taman Nasional Pulau Komodo, dan membuka pemasaran—baik itu pemasaran obyek dan daya tarik wisata (ODTW), usaha-usaha yang dipasarkan oleh mitra kerja pariwisata dan masyarakat, sarana transportasi, dan membuka peluang investasi di bidang sarana dan usaha jasa pariwisata itu sendiri.

Diakui bahwa penyelenggaraan akbar ini bukan hal yang enteng–sebab–terkadang keinginan untuk meraup keuntungan jauh lebih besar ketimbang ketersediaan sumber daya manusia untuk mewujut-nyatakannya.

Dalam konteks NTT, kiranya bisa dipahami jikalau respons  terhadap Sail Komodo 2013 masih jauh dari budaya kerja pelaku bisnis pariwisata moderen, sebab budaya NTT bukan entrepreuner, tetapi konsumerisme.

Itu sebabnya, jika ada satu dua kepincangan mulai dari proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan, hendaknya tak boleh dibaca sebagai sebuah ketimpangan–apalagi hingga titik ekstrimnya sebagai sebuah ketidak becusan. Paling bijak adalah sebuah refleksitas untuk atur ulang POAC.

Baca Juga :  Ketertiban Berlalu Lintas Cermin Sikap Masyarakat Setempat

Lepas dari semuanya, suka atau tak suka, event Sail Komodo 2013 adalah sebuah salib besar bagi Indonesia pada umumnya, Nusa Tenggara Timur  pada khususnya, untuk lebih bertekat bulat mengelola pelbagai obyek dan daya tarik wisata–malah, sedikit ekstrim–perlu keberanian moral untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai sektor andalan dan unggulan pembangunan, sektor-sektor lainnya digerakkan secara optimal untuk mengkontribusinya.

Memang itu bukan lah perkara enteng. Sebab–hal paling penting yang perlu dikoreksi adalah seberapa banyak dan seberapa berkualitasnya SDM yang bakal dipercaya, mulai dari POAC, dan bagaimana kah merumuskan kembali hal-hal yang nyata-nyata menjadi penghambat aktualisasinya.

Itu berarti, masuk dalam ruang lingkup sudut pikir ini, maka apa pun keputusan yang bakal diambil oleh dia yang berkompoten, sudah harus memfokuskan wawasannya pada orientasi bisnis profesional–dalam artian, bukan karena saya suka atau tak suka orang perorangan, tetapi seberapa kapabelnya orang itu dikasi pikul salib menuju goal yang ingin dicapai.

Sebagaimana awal tentu ada akhirnya, dan saya suka mengurai sebuah persoalan besar dalam perspektif  kecil—sebab—yang namanya konsep itu mahal untuk diumbar begitu saja.

Kendati begitu, ada satu hal kecil yang saya mau bilang, jikalau negara mana saja, atau daerah mana saja berkemauan baik untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya dari bisnis kepariwisataan, maka orang-orang yang dipercayai mengelola mimpi itu mesti punya prinsip ini: Ketika bicara tentang Sail Komodo, misalnya, maka kita sedang bicara tentang kepariwisataan. Bicara tentang kepariwisataan berarti sedang bicara tentang bisnis kepariwisataan global. Dan, bicara tentang bisnis berarti membutuhkan tenaga-tenaga profesional. Ketiga hal ini saya namai systemic linkage, yang—jika ada yang ingin minta saya menarasikan, mungkin cukup dibayar dengan sebungkus Dji Sam Soe, karena begitu usai 12 batang, usai juga konsep itu. **

Baca Juga :  Penangkapan Paksa Aiptu LS Karena Mangkir dari Panggilan

 

 

 

 

 

 

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button