Home / Sport / Penelitian di Australia: Teman dan Keluarga Motivator Jadi Teroris

Penelitian di Australia: Teman dan Keluarga Motivator Jadi Teroris

Bagikan Halaman ini

Share Button

7

 

 

Moral-politik.com.  Sebuah penelitian di Australia menyimpulkan bahwa motivasi seseorang menjadi teroris lebih banyak disebabkan karena pengaruh keluarga atau teman, bukannya dari berbagai bahan bacaan ekstrim yang tersedia di internet. Penelitian yang berlangsung selama empat tahun dilakukan oleh Universitas Monash di Melbourne, bersama dengan polisi Australia, dengan melakukan wawancara terhadap lebih dari 100 orang ekstrimis di Australia, Indonesia, Eropa dan Amerika Utara.

Menurut laporan ABC hari Kamis (8/8) para peneliti juga berbicara dengan para pakar kontra terorisme guna memahami cara mencegah tindakan kekerasan oleh para ekstrimis. Penelitian itu mengatakan bahwa para anggota militan dan teroris Australia memang berulang kali membaca bahan-bahan ekstrim di internet, namun banyak faktor lain yang
lebih penting dalam membentuk perilaku mereka. Jaringan sosial dalam bentuk teman dan keluarga, termasuk kontak dengan mereka yang berjuang di luar negeri atau sudah pernah mengikuti kamp latihan teroris, menjadi pengaruh lebih kuat.

Peneliti Debra Smith mengatakan mereka yang bergabung dengan kelompok teroris mirip dengan mereka yang terlibat dalam kegiatan anti-sosial seperti pengguna narkoba. “Bila saja seseorang tumbuh dalam keadaan normal, namun mereka kemudian memiliki hubungan emosional dengan seseorang yang terlibat dalam tindak kekerasan,” kata Smith.

“Mungkin bisa disebut tidak beruntung bahwa mereka terlibat dengan seseorang yang melihat tindak kekerasan sebagai hal yang wajar dan sah,” tambah Smith.

Seorang peneliti lainnya, Shandon Harris-Hogan mengatakan meski terorisme merupakan masalah yang masih relatif kecil di Australia, ada saja orang yang tertarik melakukan tindakan ekstrim. “Di Australia, kami belum melihat adanya contoh individu yang direkrut khusus ke dalam jaringan teroris. Yang terjadi adalah mereka yang memang tertarik dengan tindakan ekstrim saling mencari tahu dan akhirnya membentuk sebuah kelompok, jadi tidak ada rekrutmen aktif,” kata Harris-Hogan.

Baca Juga :  Olimpiade Fisika Asia: Indonesia Raih 2 Emas, 2 Perak, 2 Perunggu

Menurut laporan koresponden Kompas.com di Australia L Sastra Wijaya, dalam kesimpulannya para peneliti mengatakan tindakan keras terhadap kelompok ekstrim ini kurang efektif dalam mengatasi radikalisme
dibandingkan intervensi dini. (Sil Sega/KOMPAS.COM)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button