Home / Pena_VJB / Rahmayanti dalam Teori “Merasa Tak Punya Gaun”

Rahmayanti dalam Teori “Merasa Tak Punya Gaun”

Bagikan Halaman ini

Share Button

Rahmayanti

 

Moral-politik.com. Wanita itu cantik, wanita itu unik, wanita itu insan haus kesempurnaan, dan wanita itu tak putus-putusnya punya naluri kompetisi untuk jadi yang terbaik dari yang baik-baik.

Satu indikator yang ingin dibedah kali ini adalah soal cantiknya wanita dalam gaun.

Sesungguhnya—jika sedikit omong vulgar—gaun itu hanya pembalut tubuh untuk seberapa saat. Keindahan yang sesungguhnya ada di balik gaun—indah tiada terbilang—sebuah mahakarya Allah yang tak tertandingi, hingga kapan pun.

Suatu senja Moral-politik.com dibolehkan kencan dengan si wanita cantik bernama Rahmayanti—rumahnya di bilangan Kota Tepi Pantai; Kota Kupang, namanya.

Dalam omong-omong santai dan mesra persahabatan, terkuak satu lagi tabir kewanitaan, bahwa berapa pun banyaknya gaun seorang wanita, dia selalu merasa tak punya gaun manakala datang hasrat ke pesta apa saja.

Rahmayanti, wanita yang tetap anggun diusianya yang nyaris paruh abad ini, tuturkan:

“Begitulah kaum kami—sebab—kami selalu ingin terlihat sempurna“.

Apa resiko dari naluri Hawa sedemikian itu?

Wanita dengan sorot mata tajam teduh dan senyum dibungkus ini bilang:

“Itu sebabnya kaum Hawaku selalu saja merasa tak punya gaun—padahal—ada seabrek gaun yang tertata apik dalam almari“.

Satu alasan yang Rahmayanti buka, dimana-mana, lanjut dia, selalu jadi perhatian utama kaum Hawa adalah penampilan.

“Sebelum pergi ke pesta, seluruh isi lemari pakaian dipastikan telah berpindah keluar demi dapat yang kena di hati,” tuturnya, sumringah.

Di penghujung kencan, Rahmayati menukas teori kewanitaan itu:

“Seperti itulah kaum kami, kalau mau ke pesta biasanya seabrek pakaian dalam lemari pun terkadang kami merasa tak ada, karena bagi kami penampilan adalah nomor satu”. (Ale+)

Baca Juga :  Sekretariat Sail Komodo 2013 Bekerja Tanpa Biaya Operasional

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button