Home / Populer / Jokowi…Atau Biarkan Prabowo Presiden 2014?

Jokowi…Atau Biarkan Prabowo Presiden 2014?

Bagikan Halaman ini

Share Button

3

 

 

 

moral-politik.com, Kota Kupang – Tidaklah membutuhkan energi lebih jika ingin mengetahui apa sesungguhnya yang terbungkus di hati PDIP se Nusantara, sebab mana mungkin ada yang berkata tidak jika Megawati dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum PDIP ingin berkata lain?

Jauh-jauh hari, jika tak mau dibilang masih subuh, partai berlambang kepala banteng ini sangat nyaring menyuarakan perubahan, maka terjadilah reformasi sebagai kata lain daripada perubahan itu sendiri.

Nyaris sepuluh tahun terakhir ini, suara PDIP masih harus didengar bangsa dan negara kita Indonesia tercinta. Itu patut diakui karena ketegasan Megawati menjadikan partai kepunyaannya dan pengikut-pengikutnya itu, sebagai oposannya pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden SBY.

Merah di mana-mana berkibar-kibar, mata ini memandangnya sejuk dan darah-darah yang mengalir di tubuh seakan-akan ingin berubah seturut merahnya warna kebanggaan perjuangannya PDIP.

Sebagaimana tubuh manusia…mana ada yang sempurna?—tidak satu pun—makanya muncul ungkapan klasik “No One Is Perfect”—berbeda dengan Megawati, sejumlah kadernya mesti berurusan dengan lembaga penegak hukum, KPK misalnya.

Setuju atau tak setuju, “cacatnya” impian Megawati dalam menyuarakan perubahan, karena ingin Bangsa dan Negara Indonesia bebas dari KKN yang selalu diteriakannya pada Era Reformasi, telah membuat dirinya selalu berhati-hati sebelum menjatuhkan keputusan politik. Sebab—secara semberono para kader partai lain akan mengatakan bahwa “kau dan aku sama saja”.

Perjalanan waktu seringkali memihak—tanpa disadari apa latar belakangnya. Manakala merahnya PDIP mulai redup menyala, datanglah seorang pria manis dari Solo dan langsung mengejutkan blantika perpolitikan Indonesia.

Jokowi, itulah nama karib enteng diucap dan familiar di bibir dan di telinga. Tidak seperti kebanyakan orang Solo yang terkenal dengan budayanya terkalem di Indonesia, yang tak pernah berseloroh bilang hitam dan putih—malah—secara ekstrim semuanya selalu dikatakan “ia”.

Baca Juga :  SBY Tolak Dana Aspirasi, Fraksi Demokrat DPR Setujui

Gaya Jokowi yang tak lazim itu, kesederhanaannya, tak pernah letih mengayuhkan langkah kendati terik menyengat, hujan membasahi sekujur tubuh telah membangkitkan mimpi baru masyarakat DKI Jakarta akan sebuah perubahan fundamental, setidaknya bebas macet dan bebas banjir.
Jokowi pun menang telak dalam dua ronde Pilkada, sekaligus membungkam kelaziman bahwa hanya anak daerah saja yang bakal diterima menjadi kepala daerah di suatu daerah.

Seiring dengan berjalannya waktu, mengalirnya darah, menetesnya keringat yang melompat dan berceceran dari lubang-lubang pori-pori, Jokowi mendapat apresiasi dari hampir seantero masyarakat Jakarta—paling menonjol karena model blusukannya, yang telah menghancurkan model kepemerintahan yang memecahkan masalah dari belakang meja.

Jokowi pun jadi buah bibir, terakhir telah merambah hingga ke sejumlah negara, dan ternyata terkuaklah bahwa gaya Jokowi itu sama dengan gaya sejumlah pemimpin di negeri lain sana.

Fenomena itu berakibat pada lahirnya sebuah kalkulasi politik baru—apalagi—dari survei ke survei sejumlah lembaga survei telah memosisikan Jokowi paling diminati menjadi Presiden RI 2014-2019.
Bagaimana dengan Jokowi itu sendiri? Dapat dipastikan dirinya bingung, takjub karena tak pernah mengiranya.

Belum lagi datang sejumlah tekanan agar dirinya mencari pintu untuk nyapres, diminta menjadi nyawapres, dan sebagainya.

Pekerjaan rumah berat untuk Jokowi manakala diperhadapkan dengan mesti memilih nyapres dari PDIP atau nyapres dari Gerindara—begitu pun, nyawapres dari PDIP atau nyawapres dari Gerindra.

Sebab—burung pun tahu bahwa kedua partai itu berjasa untuk menghantarkannya seperti sekarang ini.
Matahari terus saja bangkit dari peraduannya di negeri Timor Lorosae sana, dan terbenam di negeri bagian barat RI. Dan—kemarin, tepatnya beberapa minggu yang lalu, manakala PDIP akan melaksanakan Rakernas di Jakarta, segerombolan massa yang menamai Relawan Jokowi Capres menerobos kelaziman PDIP, lalu menyampaikan aspirasinya agar dalam Rakernas itu, salah satu agendanya adalah membahas dan menyetujui Jokowi nyapres dari PDIP.

Baca Juga :  Betapa pentingnya perempuan di legislatif

“Kegaduhan” kelaziman tak terelakkan lagi. Sejumlah tokoh PDIP menyatakan sikap tidak sepaham. Pendek kata Jokowi No. Lalu buntut-buntutnya lahirlah kesepahaman bahwa belum kalanya PDIP memercakapkan nyapres, menanti waktu yang elok, yaitu usai Pileg 2014.

Dari gaya Rakernas model itu, dapat diprediksikan bahwa Jokowi tetaplah Jokowi, Megawati tetaplah Megawati.

Hingga ke titik nadir ini, tiba-tiba saja kerongkonganku kering, sedangkan analisis-analisis benar yang ingin saya muntahkan telah tersekat di kerongkongan. Satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah mengirimkan sms kepada orang Jakarta sana yang dipandang berkompoten, dan selama ini boleh dibilang suka kepada PDIP.

“Salah  satu  faktor  utama  keberhasilan  strategi   politik  PDIP  untuk menjadi  pemenang  pemilu  legislatif dan pilpres  memang  akan ditentukan oleh artikulasi dan aksentuasi Jokowi sebagai  tokoh yang memiliki elektabilitas tertinggi untuk menjadi  capres,” demikian antara lain kata Mulaya W Kusumah sesuai terbaca di HP saya.

Ketika di-sms lagi: “Apakah dengan demikian Megawati akan peduli Jokowi?” dirinya mengatakan,

“Dengan demikian, sudah pasti bu Mega akan memperhatikan sungguh-sungguh aspirasi yang berkembang dalam masyarakat, baik yang tercermin dalam hasil berbagai lembaga survei 6 bulan terakhir, maupun survei  internal  PDIP, juga usulan-usulan yang  disampaikan lansung mengenai elektabilitas Jokowi sebagai  capres”.

Apa alasannya bilang seperti itu? Mulyana menuturkan, Ibu Megawati Soekarnoputri telah memahatkan jejak politik panjang dalam memimpin dan membesarkan PDIP. Dengan demikian, lanjutnya, tentu berharap pada pemilu legislatif 2014, PDIP kembali meraih kemenangan seperti pada pemilu 1999.

“Lebih dari  itu, jelas nampak target bu Mega yang didukung penuh oleh segernap jajaran PDIP, agar PDIP jadi partai berkuasa,” yakin Mulyana.

Lalu, kapan persisnya masa dan ketikanya Megawati memutuskannya? Menurut Mulyana, pada HUT PDIP, Januari 2014 akan merupakan momentum tepat  bagi  bu  Mega untuk mewacanakan  pencapresan Jokowi, tentu dengan mempertimbangkan serta menilai secara cermat tidak hanya polpularitas dan tingkat elektabilitas, akan tetapi persyaratan eligibilitas ( eligibility requirement ) Jokowi.

Baca Juga :  Novel Baswedan Bicara Soal Perlakuan Terhadapnya...

Benarkah kata teman kita Mulayan W Kusumah itu? Saya masih belum bisa mengatakannya, terkecuali: “Jika tidak Jokowi berarti pembiaran kepada Prabowo presiden 2014-2019”.

penulis: vincentcius jeskial boekan

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button